Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Dokter spesialis anak, I Gusti Ayu Nyoman Partiwi,menegaskan bahwa protein hewani memiliki peran vital dalam pertumbuhan anak karena lebih mudah diserap tubuh dibandingkan protein nabati.
“Sering kali orang tua merasa anaknya sudah cukup makan sayur, padahal itu keliru. Anak tetap membutuhkan protein hewani,” ujar Tiwi dikutip dari Antara, Sabtu (1/11).
Ia menekankan, protein hewani tak harus mahal. Alternatif seperti telur, ikan kembung, atau lele dapat menjadi pilihan ekonomis dengan nilai gizi tinggi. Agar penyerapannya optimal, padukan dengan sumber vitamin C dari tomat, jeruk, atau pepaya untuk membantu tubuh menyerap zat besi lebih baik.
Menurut Tiwi, protein hewani berperan penting dalam mencegah anemia akibat kekurangan zat besi, kondisi yang masih banyak dialami anak-anak Indonesia, terutama di bawah usia dua tahun, masa di mana sistem pencernaan mereka masih belajar bekerja optimal.
“Sayur seperti bayam memang baik, tapi kandungan proteinnya sulit diserap tubuh anak. Karena itu, berikan makanan yang mudah dicerna seperti daging, ikan, atau telur,” jelasnya.
Indonesia sendiri masih menempati peringkat keempat tertinggi di Asia Tenggara untuk prevalensi anemia, menunjukkan pentingnya pemahaman orang tua soal sumber zat besi. Survei juga menunjukkan setengah dari ibu di Indonesia belum mengetahui bahwa kekurangan zat besi bisa menurunkan kecerdasan anak.
Secara biomedis, zat besi adalah komponen utama hemoglobin, molekul yang membawa oksigen dalam darah. Kekurangan zat besi berarti otak kekurangan oksigen, yang bisa berujung pada penurunan konsentrasi, gangguan kecemasan, hingga depresi.
“Dampaknya bukan hanya tubuh lemah, tetapi juga kemampuan belajar dan daya pikir anak menurun,” tegas dr. Tiwi.
Pola makan seimbang tetap menjadi fondasi. Orang tua disarankan memberikan menu keluarga versi anak, lengkap dengan karbohidrat seperti nasi, kentang, ubi, atau jagung.
“Anak akan meniru kebiasaan makan orang tuanya. Karena itu, sarapan terbaik adalah yang mengandung gizi lengkap,” ujarnya.
Dengan pemenuhan gizi seimbang dan asupan protein hewani yang cukup, anak tidak hanya tumbuh sehat secara fisik, tetapi juga memiliki fondasi kuat untuk prestasi dan masa depan yang lebih cerah. (Ant/Z-10)
Protein hewani tidak melulu harus menggunakan bahan dengan harga yang cukup mahal seperti daging merah.
Protein adalah salah satu makronutrien yang penting untuk tubuh karena berfungsi sebagai zat pembangun.
Figur ibu sering menjadi sorotan utama dalam pengasuhan anak. Namun, peran ayah yang tidak optimal—atau bahkan absen—justru bisa menimbulkan dampak serius pada perkembangan anak.
ASUPAN protein hewani merupakan hal yang tidak boleh disepelekan dalam mendukung pertumbuhan anak. Kandungan asam amino lengkap di protein hewani tak bisa digantikan.
Menggunakan ECDI sebetulnya juga tidak serta-merta mengaburkan capaian pengentasan stunting, namun justru dapat memperkuat pemahaman tentang kualitas tumbuh kembang anak secara holistik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved