Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM dunia kebugaran, istilah “steroid fitness” sudah bukan hal asing. Produk ini sebenarnya adalah steroid anabolik, turunan dari hormon seks pria, testosteron. Awalnya, obat ini digunakan secara medis untuk mengatasi gangguan hormon seperti hipogonadisme dan keterlambatan pubertas pada laki-laki. Namun sejak tahun 1960-an, penggunaannya meluas untuk tujuan nonmedis: meningkatkan performa, memperbesar massa otot, dan mengurangi lemak tubuh.
Secara global, penggunaan steroid anabolik tergolong tinggi. Data menunjukkan sekitar 1–5 persen populasi pernah menggunakan produk ini. Artinya, dari setiap 100 orang, ada satu hingga lima yang menggunakan steroid sebagai suplemen penunjang latihan atau doping.
Padahal, penggunaan steroid tanpa pengawasan dokter bisa berakibat serius. Salah satu efek yang paling menonjol adalah pengecilan ukuran testis. Kondisi ini terjadi karena meningkatnya kadar testosteron dari luar tubuh (testosteron eksogen), yang menekan produksi alami hormon tersebut di dalam tubuh. Akibatnya, testis menjadi kurang aktif dan menyusut.
“Ketika kadar testosteron alami turun, pria bisa mengalami penurunan gairah seks, disfungsi ereksi, bahkan penurunan jumlah sperma,” demikian dikutip dari laman resmi Rumah Sakit Universitas Indonesia.
Derajat keparahannya bergantung pada jenis steroid yang digunakan dan lamanya pemakaian.
Kabar baiknya, ukuran testis bisa kembali normal setelah penggunaan steroid dihentikan. Namun, pemulihan ini tidak selalu mudah dan tergantung pada dosis serta durasi penggunaan. Jika dipakai terlalu lama, dampaknya bisa permanen—bahkan menyebabkan kemandulan total.
Tak hanya itu, efek samping lain dari penggunaan steroid anabolik meliputi pertumbuhan payudara pada pria (ginekomastia), kerontokan rambut, serta jerawat parah di wajah dan punggung. Dalam beberapa kasus, pengguna juga mengalami gangguan suasana hati dan ketergantungan secara psikologis.
Untuk mengatasi kecanduan steroid, dibutuhkan penanganan menyeluruh dari sisi medis dan psikologis. Konsultasi dengan dokter menjadi langkah penting agar pengguna mendapatkan terapi yang tepat, termasuk kemungkinan pemberian obat antidepresan dan terapi hormonal.
Para ahli mengingatkan, keinginan untuk memiliki tubuh ideal seharusnya tidak mengorbankan kesehatan. Sebab, otot besar tak sebanding dengan risiko besar yang mengintai di baliknya.(H-2)
Obat yang mengandung steroid bisa membahayakan kesehatan tulang apabila dikonsumsi secara terus menerus.
Penggunaan steroid secara jangka panjang dan dalam dosis tinggi dapat mengakibatkan efek samping serius, seperti peningkatan berat badan, mood swing, dan gangguan tidur.
Steroid adalah obat yang memiliki senyawa dengan aktivitas anti peradangan dan juga dapat menekan sistem imunitas tubuh dan dapat menimbulkan efek samping.
Obat kortikosteroid berperan penting dalam pengobatan eksim. Namun ada sebagian pasien/keluarga menolaknya karena fobia steroid.
Obat steroid, obat penenang, dan obat kemoterapi bisa membuat tulang cepat rapuh apabila dikonsumsi dalam waktu lama.
Pembesaran dada pada pria bisa disebabkan lemak, perubahan hormon, atau kondisi medis seperti ginekomastia. Ketahui penyebab dan gejala.
Penelitian menunjukkan, satu dari dua laki-laki yang menderita diabetes tipe 2 atau obesitas menderita sindrom defisiensi testosteron.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved