Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA langka terjadi di tata surya. Para astronom untuk pertama kalinya berhasil merekam proses pembentukan cincin baru di sekitar objek kecil bernama (2060) Chiron, yang berada di jalur orbit antara Saturnus dan Uranus. Peristiwa ini memberi petunjuk penting tentang bagaimana cincin pada planet raksasa dapat terbentuk.
Penemuan tersebut dilakukan tim astronom Observatorium Nasional Brasil melalui pengamatan terarah yang mengungkap adanya pita-pita material baru mengitari Chiron. Temuan itu dipublikasikan dalam The Astrophysical Journal Letters pada 14 Oktober dan menjadi penanda momen bersejarah dalam studi benda-benda kecil tata surya.
“Ini kejutan yang menyenangkan,” ujar Chrystian Pereira, peneliti utama studi tersebut. “Hal ini mengingatkan kita bahwa tata surya terus berubah, bahkan dalam skala waktu manusia.”
Chiron, berdiameter sekitar 200 kilometer, kelompok objek langit yang disebut centaur. Benda yang mengorbit di antara Jupiter dan Neptunus serta memiliki sifat campuran antara asteroid dan komet. Chiron membutuhkan waktu sekitar 50 tahun Bumi untuk mengelilingi matahari.
Sejak ditemukan pada 1977, Chiron beberapa kali tampak lebih terang dan kadang menampakkan ekor tipis. Menandakan aktivitas gas dan debu di permukaannya.
Namun, pengamatan terbaru pada September 2023 melalui teleskop di Observatorium Pico dos Dias, Brasil, menunjukkan sesuatu yang lebih mencolok. Adanya struktur cincin baru di sekitar Chiron.
Perbandingan dengan data tahun 2011, 2018, dan 2022 menunjukkan tiga cincin utama tetap stabil selama lebih dari satu dekade. Namun, dalam data terbaru, tim menemukan cakram baru.
Membentang lebih luas dari sebelumnya, hingga 800 kilometer dari pusat Chiron. Cakram ini diyakini baru terbentuk dalam 10 tahun terakhir. Kemungkinan akibat tabrakan atau letusan es yang melepaskan material baru ke orbit.
Lebih mengejutkan lagi, para astronom juga mendeteksi lapisan material samar di luar jarak 1.400 kilometer. Melampaui batas yang dikenal sebagai Roche limit, di mana material seharusnya menggumpal menjadi bulan kecil.
“Kami baru pertama kali menemukan material di wilayah ini,” kata Pereira, menambahkan bahwa pengamatan lanjutan diperlukan untuk memastikan hasil tersebut.
Menurut para peneliti, konfigurasi tidak biasa ini bisa disebabkan oleh dua hal. Aktivitas mirip komet dari bawah permukaan Chiron. Atau pecahnya bulan kecil yang menyebarkan fragmen ke orbit.
Sementara itu, Keighley Rockcliffe, peneliti dari NASA Goddard Space Flight Center menilai penemuan ini memunculkan pertanyaan baru. “Mungkin ada sesuatu yang menjaga partikel-partikel itu agar tidak menyatu, atau cincin itu belum cukup lama untuk membentuk satelit kecil,” ujarnya.
Untuk memastikan cincin tersebut benar-benar sedang berkembang, astronom terus memantau Chiron saat melintas di depan bintang jauh. Astronom berharap dapat melihat perubahan nyata dalam struktur cincin. Melalui pengamatan berkecepatan tinggi dari berbagai observatorium.
“Untuk benar-benar memahami prosesnya,” kata Pereira, “misi luar angkasa khusus yang meneliti Chiron secara langsung akan menjadi langkah terbaik.” (Live Science/P-4)
Untuk pertama kalinya, ilmuwan mengamati sistem cincin aktif di sekitar Chiron, objek es di antara Saturnus dan Uranus.
Gerhana Matahari total adalah salah satu pertunjukan langit paling menakjubkan yang bisa disaksikan manusia. Tapi ada kabar mengejutkan: fenomena itu tidak akan selamanya ada.
Penelitian terbaru mengungkap meteorit Mars Black Beauty menyimpan air purba jauh lebih banyak, memperkuat bukti Mars pernah basah dan layak huni.
Gerhana ini tidak aman untuk dilihat tanpa pelindung mata dengan filter matahari.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Para astronom menjelaskan bahwa gerhana Matahari bukanlah peristiwa acak, melainkan fenomena yang dapat diprediksi secara ilmiah melalui perhitungan orbit Bulan dan Bumi.
Gerhana Matahari cincin akan terjadi pada 17 Februari 2026. Fenomena ring of fire ini hanya terlihat sempurna di Antartika dan tidak dapat diamati dari Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved