Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
GANGGUAN pada retina, termasuk dampak peradangan seperti uveitis, acap mengancam diam-diam. Gejala umumnya, mata merah dan penglihatan kabur - yang kerap disepelekan. Terlambat disadari, kondisi tersebut bisa menyebabkan kerusakan retina permanen yang berujung kebutaan.
Memperingati World Retina Day 2025 pada September ini, dan menyambut Inflammation Eye Disease Awareness Week pada Oktober mendatang, JEC Eye Hospitals and Clinics menyerukan urgensi deteksi dini dan penanganan cepat untuk gangguan retina dan inflamasi mata.
Retina merupakan bagian organ mata yang bertanggung jawab sebagai penghubung utama antara cahaya yang masuk ke mata menjadi sinyal visual ke otak. Gangguan sekecil apa pun pada retina berpotensi mengacaukan proses penglihatan secara keseluruhan. Tidak terkecuali, inflamasi mata atau peradangan struktur okular (di antaranya uveitis, keratitis, dan skleritis) yang berisiko merusak retina.
Khusus uveitis, peradangan ini berpotensi menyerang semua kelompok umur, terutama pada kalangan usia produktif (20-60 tahun). Bahkan, uveitis menyumbang 25% angka kebutaan di negara berkembang. Infeksi virus dan bakteri menjadi faktor pemicu.
MI/HO--Sesi media “Gangguan Retina dan Uveitis: Deteksi Dini, Cegah Kebutaan,” di Jakarta, Rabu (17/9).Di Indonesia, uveitis dipicu dua penyebab terbanyak: penyakit infeksi sistemik (misalnya tuberkulosis dan toksoplasma) serta autoimun. Lebih mengkhawatirkan lagi, studi mendapati bahwa 48–70% kasus uveitis tergolong idiopatik, alias tidak diketahui penyebab pastinya.
Dokter Sub Spesialis Ocular Infection and Immunology, JEC Eye Hospitals and Clinics Dr. Eka Octaviani Budiningtyas, SpM mengatakan, “Uveitis bukan sekadar peradangan mata biasa. Banyak penyandangnya yang minim mengalami gejala dini. Ketidaktahuan yang membuat pasien kerap terlambat memeriksakan matanya. Tanpa penanganan yang tepat, uveitis bisa mengarah pada gangguan mata yang lebih serius: katarak, glaukoma, kerusakan retina, hingga berujung pada kebutaan permanen. Deteksi dini dan penanganan segera menjadi solusi terefektif untuk menghindari konsekuensi lebih lanjut!”
Secara definisi, uveitis adalah peradangan di dalam mata, khususnya pada area uvea, yaitu lapisan tengah mata (meliputi iris, badan siliaris, dan koroid).
Gejala umum uveitis, antara lain mata merah (termasuk yang disertai rasa nyeri), penglihatan kabur atau berbayang (baik yang tidak/disertai mata merah), munculnya floaters (bintik atau bayangan kecil yang tampak melayang-layang di lapang pandang), dan photophobia - pandangan yang sensitif terhadap cahaya.
Kondisi mata merah dan pandangan yang sensitif terhadap cahaya serupa dengan gejala awal infeksi mata ringan seperti konjungtivitis (bersifat menular, biasanya disertai belek).
Kemiripan ini yang membuat banyak penyandangnya abai. Lebih-lebih gejala uveitis dapat timbul secara tiba-tiba dan memburuk dengan cepat, dan muncul pada salah satu atau kedua mata.
Pada penderita autoimun (misalnya lupus atau sindrom Sjogren), gejala uveitis sering terjadi pada kedua mata dengan interval waktu berbeda.
“Gejala-gejala tersebut merupakan alarm yang memerlukan perhatian medis segera. Sebab, kondisi uveitis dapat memburuk dengan cepat. Diagnosis yang akurat serta koordinasi antarprofesi medis sangat penting untuk meningkatkan keberhasilan terapi dan mencegah komplikasi. Penanganan uveitis memerlukan pendekatan menyeluruh guna mengendalikan peradangan dalam jangka panjang,” jelas Eka.
Tata laksana uveitis dimulai dengan pemeriksaan oftalmologi lengkap menggunakan slit-lamp, disertai pencitraan mata dan tes darah untuk mengidentifikasi akar penyebabnya. Selanjutnya, pemberian obat sesuai kondisi uveitis, antara lain:
Kembali pada peringatan World Retina Day 2025, perlu dicamkan bahwa gangguan retina merupakan salah satu penyebab utama kebutaan di dunia, dengan akar penyebab yang beragam bergantung pada kelompok usia.
WHO memperkirakan 196 juta populasi dunia mengalami degenerasi makula dan 146 juta menderita retinopati diabetik; menempatkan keduanya sebagai gangguan retina dengan jumlah penderita terbanyak.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi retinopati diabetik mencapai 43,1%.
Sebagai eye care leader di Indonesia, JEC Eye Hospitals and Clinics telah tepercaya sebagai pionir dalam penanganan gangguan retina secara komprehensif.
Layanan khusus retina tersedia di seluruh 16 cabang dengan penatalaksanaan yang telah terstandardisasi. Tata laksana gangguan retina mulai dari terapi laser, injeksi retina sampai tindakan bedah retina.
Khusus di RS Mata JEC @ Menteng, penanganan retina tersentralisasi melalui JEC Retina Center yang dilengkapi 15 pemeriksaan diagnostik berteknologi tinggi, dan siaga melayani kedaruratan retina 24 jam.
Diperkuat 11 dokter mata dengan subspesialisasi retina, RS Mata JEC @ Menteng telah menangani lebih dari 12 ribu pasien gangguan retina dan infeksi mata selama 3 tahun terakhir.
Direktur Utama RS Mata JEC @ Menteng Dr. Referano Agustiawan, SpM(K), menyampaikan, “Sebagai pusat rujukan retina nasional, RS Mata JEC @ Menteng berupaya untuk mewujudkan komitmen besar JEC dalam mengoptimalisasi penglihatan dan kualitas hidup masyarakat. Melalui JEC Retina Center, kami memberikan penanganan retina dengan pendekatan komprehensif yang menggabungkan keahlian medis yang teruji dan didukung dengan teknologi canggih.” (Z-1)
Laser dalam SiLK berenergi ultra rendah sehingga mengurangi potensi inflamasi, jaringan korneapun lebih aman dan menjaga kekuatan strruktur kornea.
Pasien yang datang karena mata kering jumlahnya sangat banyak, sebagian besar pasien mata kering datang ketika kondisinya sudah cukup parah.
Langkah pertama yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengatasi mata kering adalah menggunakan handuk atau lap yang bersih untuk mengompres mata dengan air yang hangat di rumah.
LAYANAN pemeriksaan mata serta pengalaman berbelanja kacamata sekarang dapat langsung di kantor, rumah, dan lokasi pilihan lain.
Seiring meningkatnya aktivitas digital di tempat kerja, banyak profesional usia produktif kini menghabiskan rata-rata lebih dari 8-10 jam per hari menatap layar.
Cermata hadir sebagai solusi ilmiah untuk menjawab tantangan akses skrining mata konvensional yang masih terbatas, terutama di lingkungan sekolah dasar dan anak dengan disabilitas.
Mata Merah karena HP Penyebab dan Solusinya. Atasi mata merah akibat HP! Temukan penyebab, solusi efektif, dan tips mencegahnya. Jaga kesehatan mata di era digital.
DINAS Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta menyebut, mata merah dan belekan menjadi salah satu gejala baru covid-19 varian Arcturus yang harus diwaspadai masyarakat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved