Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
JANTUNG kita berdetak hampir 100.000 kali setiap hari dalam ritme yang stabil. Namun, ketika detak jantung terasa tidak teratur, terlalu cepat, terlalu lambat, atau melompat-lompat bisa jadi itu adalah aritmia jantung.
"Aritmia jantung terjadi ketika jantung berdetak terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh masalah pada sistem kelistrikan jantung,” ujar ahli jantung intervensi bersertifikat di LCMC Health di Louisiana Ali Ayoub.
Bentuk yang paling umum adalah fibrilasi atrium (AFib).
"Sekitar 59 juta orang di seluruh dunia menderita fibrilasi atrium," kata ahli jantung intervensi bersertifikat dari Memorial Hermann dan UTHealth Houston di Texas Wahaj Aman.
1. Berat Badan Berlebih
Obesitas adalah pemicu utama aritmia, khususnya fibrilasi atrium (AFib).
Kelebihan berat badan memberi tekanan ekstra pada jantung, meningkatkan tekanan darah, dan mengubah struktur ruang atas jantung.
Penurunan berat badan bahkan jika hanya sebesar 10% sudah terbukti dapat mengurangi gejala AFib secara signifikan.
2. Konsumsi Alkohol
Meskipun dalam jumlah kecil, alkohol dapat mengganggu sinyal listrik jantung, memicu aritmia pada orang yang rentan.
Fenomena ini bahkan dikenal sebagai "sindrom jantung liburan" karena sering terjadi setelah minum alkohol berlebihan di akhir pekan atau hari libur.
Studi menunjukkan, menghindari alkohol dapat mengurangi kambuhnya aritmia pada peminum rutin.
3. Kurang Tidur dan Sleep Apnea
Kurang tidur kronis dan sleep apnea yang tidak terdiagnosis dapat berdampak serius pada irama jantung. Sleep apnea menyebabkan jeda pernapasan saat tidur, yang membebani jantung akibat kadar oksigen yang menurun dan tekanan darah yang melonjak.
Mengatasi kondisi ini, misalnya dengan terapi CPAP atau penurunan berat badan, bisa secara drastis memperbaiki gejala.
4. Kafein dan Minuman Berenergi
Asupan kafein yang berlebihan, terutama dari minuman berenergi yang sering mengandung stimulan lain seperti taurin, bisa memicu aritmia.
Meskipun satu atau dua cangkir kopi mungkin aman bagi sebagian besar orang, dosis tinggi dapat menyebabkan jantung berdebar dan irama tidak teratur. Jika Anda mengalami gejala tersebut, sebaiknya batasi konsumsi kafein.
5. Dekongestan yang Dijual Bebas
Beberapa obat flu atau alergi yang mengandung pseudoefedrin (seperti Sudafed) dapat memicu masalah irama jantung. Obat ini bekerja dengan menyempitkan pembuluh darah untuk mengurangi hidung tersumbat, namun efek yang sama juga dapat meningkatkan tekanan darah dan mempercepat detak jantung.
Jika Anda memiliki riwayat aritmia, konsultasikan dengan dokter untuk mencari alternatif yang lebih aman.
6. Ketidakseimbangan Elektrolit
Mineral penting seperti kalium dan magnesium membantu mengatur impuls listrik jantung. Kadar yang rendah akibat dehidrasi, pola makan buruk, atau keringat berlebih dapat mengganggu ritme jantung dan menyebabkan palpitasi atau aritmia.
Beberapa aritmia bersifat jinak, namun ada juga yang berbahaya dan mengancam jiwa.
AFib dan flutter atrium dapat meningkatkan risiko stroke, sementara takikardia ventrikel bisa menyebabkan kematian jantung mendadak. Oleh karena itu, penting untuk tidak mengabaikan gejala seperti sesak napas, pusing, atau nyeri dada.
Untuk mencegah dan mengelola aritmia, para ahli menyarankan: tidur berkualitas, mengurangi kafein dan alkohol, menjaga hidrasi, menghindari stimulan, berolahraga teratur, dan mempertahankan berat badan sehat.
Selain itu, teknologi modern seperti Apple Watch juga dapat membantu mendeteksi AFib secara dini dan mendorong orang untuk segera memeriksakan diri ke dokter. (the healthy/Z-1)
Peningkatan risiko penyakit jantung koroner pada golongan darah non-O diduga berkaitan dengan kadar faktor pembekuan darah dan penanda inflamasi yang lebih tinggi.
Nyeri leher tak selalu akibat salah tidur. Dalam kondisi tertentu, sakit leher bisa menjadi gejala serangan jantung. Kenali tanda dan risikonya.
Tes darah baru mampu mendeteksi risiko komplikasi mematikan pada pasien hypertrophic cardiomyopathy (HCM). Terobosan besar bagi jutaan pengidap jantung genetik.
Peradangan kronis pada gigi dan gusi bukan sekadar rasa nyeri, melainkan proses biologis yang memengaruhi pembuluh darah.
Para pelari disarankan agar rutin mendeteksi masalah jantung, seperti keberadaan plak, sedini mungkin.
LDL, yang dikenal sebagai kolesterol jahat, merupakan faktor utama penyakit kardiovaskular.
Kemunculan ambeien sangat erat kaitannya dengan kebiasaan sehari-hari yang kurang baik.
Fisioterapi tidak hanya berfungsi sebagai terapi kuratif pascacedera, tetapi juga sebagai langkah preventif untuk menjaga kapasitas fungsional tubuh dalam aktivitas sehari-hari.
Studi terbaru mengungkap jalan kaki lebih dari 10 menit dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian dini, terutama bagi orang dengan gaya hidup sedentari.
Selain melakukan edukasi langsung di sekolah, sebelumnya para relawan juga telah melakukan kampanye melalui media sosial untuk melakukan mindful consumption.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan stroke masih menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian di Indonesia. Prevalensi stroke berada di kisaran 8,3 per 1.000 penduduk
Studi Harvard mengungkap konsumsi makanan ultra-proses dapat meningkatkan risiko kanker usus pada wanita hingga 45%, terutama usia di bawah 50 tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved