Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DI masa menyusui, para ibu tentu harus mempertimbangkan semua hal dengan serius. Mulai dari konsumsi makanan dan minuman, penggunaan obat-obatan, produk perawatan, hingga persoalan vaksinasi menjadi hal-hal yang perlu diperhatikan.
Sayangnya, vaksinasi sering kali tidak dapat dilakukan selama masa kehamilan, bahkan setelah melahirkan dan saat menyusui. Jika begitu, amankah bagi ibu untuk mendapatkan vaksin saat masih menyusui?
Kekhawatiran akan kemungkinan adanya bahan berbahaya dalam produk harian yang bisa masuk ke air susu yang diminum bayi, mendorong banyak ibu untuk sangat berhati-hati. Ini berlaku untuk makanan, obat-obatan, dan juga vaksin.
Ada mitos ibu menyusui tidak boleh konsumsi obat atau berhenti menyusui setelah mengonsumsi jenis obat tertentu.
Pernyataan ini tentu tidak sepenuhnya benar. Faktanya, hanya ada sedikit jenis obat yang termasuk dalam kategori yang tidak boleh diberikan kepada ibu yang sedang menyusui.
Berita yang tidak bertanggung jawab dan ketakutan akan bahan berbahaya inilah yang membuat banyak ibu menyusui ragu untuk vaksinasi.
Umumnya, vaksin yang biasa diberikan dan termasuk dalam jadwal rutin terbukti aman baik untuk ibu menyusui maupun bayi yang mengambil susu darinya.
Keyakinan bahwa elemen virus, baik yang aktif maupun mati, dapat ditransfer ke bayi melalui air susu tidaklah tepat. Tentu saja, semua jenis obat, termasuk vaksin yang tidak dapat ditemukan secara umum, harus terlebih dahulu dikonsultasikan kepada dokter.
Ada beberapa keadaan di mana ibu menyusui perlu menjalani vaksinasi. Contohnya adalah vaksin HPV yang diberikan secara rutin sebagai upaya pencegahan kanker serviks. Atau ketika ibu menyusui akan pergi daerah yang berisiko mengidap penyakit tertentu, sehingga perlu vaksinasi untuk melindungi diri.
Berdasarkan American Academy of Pediatrics, imunisasi bagi ibu menyusui dianggap aman dan tidak membahayakan bayi, dengan beberapa pengecualian. Beberapa organisasi kesehatan juga memberikan panduan mengenai vaksin yang boleh dan tidak boleh diberikan kepada ibu yang menyusui.
Beberapa vaksin yang diperbolehkan saat ibu menyusui di antaranya adalah:
Selama ibu menyusui dalam keadaan sehat dan tidak memiliki kondisi tertentu yang menjadi kontraindikasi, maka vaksinasi aman dilakukan. Namun, jika ibu mengalami kondisi tertentu, pemberian vaksin biasanya akan ditinjau ulang. Vaksin dapat ditunda atau bahkan tidak diberikan.
Apa saja kondisi yang perlu dihindari oleh ibu menyusui berkaitan dengan vaksinasi? Misalnya, jika ibu memiliki penyakit yang mempengaruhi sistem imun seperti AIDS atau kondisi lain yang melemahkan daya tahan tubuh.
Di samping itu, ada beberapa vaksin yang sebaiknya dihindari selama ibu menyusui. Vaksin-vaksin tersebut meliputi:
Vaksin-vaksin ini dihindari bukan karena kekhawatiran adanya kandungan vaksin yang berbahaya dalam air susu, tetapi karena risiko teoritis penularan langsung dari ibu ke bayi melalui kontak saat menyusui, bukan melalui air susu itu sendiri.
Perlu dicatat bahwa vaksin yang diberikan kepada ibu menyusui tidak bisa dijadikan alternatif untuk vaksin yang seharusnya diterima oleh bayi.
Vaksin yang direkomendasikan untuk bayi harus diberikan secara langsung kepada mereka, bukan melalui ibu dengan asumsi bayi akan mendapatkannya melalui ASI saat menyusui.
Saat ini, ibu menyusui tidak perlu terlalu khawatir ketika memerlukan vaksinasi meskipun masih menyusui. Diskusikan kebutuhan Anda dengan dokter untuk mendapatkan rekomendasi terbaik sesuai dengan keadaan Anda dan bayi. (KlikDokter/alodokter/alomedika/Z-2)
Pendekatan menu berbasis pangan lokal juga sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas gizi sekaligus memberdayakan masyarakat.
Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menegaskan urgensi pencegahan stunting sejak masa krusial 1.000 hari pertama kehidupan, khususnya ketika bayi masih berada dalam kandungan. MBG 3B
Kondisi ini disebut pitties dan merupakan fenomena adanya benjolan pada ketiak yang muncul ketika jaringan payudara berisi ASI mengalami pembengkakan.
Biasanya, dokter akan memberikan rekomendasi untuk memakai jenis kontrasepsi yang nonhormonal seperti kondom dan IUD.
Seorang perempuan di Filipina mengalami pembengkakan di ketiak yang ternyata jaringan payudara tambahan. Saat menyusui, cairan ASI keluar dari folikel rambutnya.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ibu menyusui antara 12 dan 24 bulan memiliki risiko relatif stabil untuk penyakit kardiovaskular.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved