Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA pendaki gunung diingatkan untuk mewaspadai gangguan kesehatan yang disebut Acute Mountain Sickness (AMS) dan hipotermia saat mendaki gunung tinggi menyusul meninggalnya dua perempuan pendaki Carstensz Pyramid atau Puncak Jaya di Papua Tengah, Sabtu (1/3).
Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) Faisal Parlindungan menyampaikan bahwa keduanya sama-sama bisa berbahaya jika tidak segera ditangani dengan baik.
"Keduanya bisa berbahaya jika tidak ditangani dengan baik, terutama dalam kondisi ekstrem di gunung," kata dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu, dikutip Rabu (5/3).
Dia menyampaikan bahwa penyebab, gejala, dan penanganan kondisi AMS dan hipotermia berbeda.
Menurut dia, AMS terjadi akibat kekurangan oksigen di daerah ketinggian, biasanya di ketinggian di atas 2.500 meter.
"Tubuh tidak terbiasa dengan kadar oksigen rendah, sehingga muncul gejala seperti sakit kepala dan mual. Kondisi ini disebut juga sebagai altitude sickness," katanya.
Sedangkan kondisi hipotermia, ia mengatakan, terjadi karena penurunan suhu tubuh akibat paparan dingin dalam waktu lama.
"Hipotermia terjadi akibat paparan suhu dingin dalam waktu lama, menyebabkan suhu tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius," ungkap Faisal.
Faisal menjelaskan bahwa gejala AMS utamanya sakit kepala, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, lemas dan kelelahan, susah tidur,
serta pusing atau rasa melayang.
Sedangkan kondisi hipotermia, ia melanjutkan, menyebabkan tubuh menggigil hebat, kulit pucat dan dingin, bicara kacau, kebingungan, tidak responsif, serta denyut jantung dan pernapasan melambat.
Menurut dia, orang yang mengalami gejala AMS sebaiknya turun dari ketinggian, beristirahat, menghindari aktivitas fisik berlebihan,
minum banyak air, dan menghindari minuman beralkohol.
Sedangkan orang dengan gejala hipotermia, ia melanjutkan, harus dipindahkan ke tempat yang lebih hangat serta dihangatkan.
"Beri pakaian hangat atau selimut, minum cairan hangat dan berkalori tinggi, serta hindari pemanasan mendadak," katanya.
Guna mencegah risiko AMS, ia menyarankan para pendaki melakukan aklimatisasi, mencukupkan asupan cairan, dan naik secara bertahap selama pendakian.
Kondisi hipotermia, ia melanjutkan, antara lain bisa dicegah dengan menggunakan pakaian hangat berlapis saat melakukan pendakian.
"Hindari kondisi basah atau angin kencang," pungkasnya. (Ant/Z-1)
ACUTE Mountain Sickness atau sering dikenal dengan AMS merupakan penyakit yang mengintai para pendaki, pemain ski, dan petualang yang melakukan perjalanan ke dataran tinggi.
Seseorang yang mengalami hipotermia berat mungkin tidak sadarkan diri dan mungkin tampak tidak memiliki denyut nadi atau bernapas.
Korban dibawa menuju Puskesmas Rendang dengan menggunakan ambulance Puskesmas Rendang
Hujan deras dan angin kencang memperparah krisis kemanusiaan di Gaza. Puluhan ribu tenda rusak, bangunan runtuh, dan suhu dingin mulai memakan korban jiwa.
Paul yang sempat muntah-muntah segera ditolong teman temannya, dan kemudian juga dimintakan bantuan ke pos penjagaan.
BERMAIN di bawah hujan seringkali menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak. Namun, para pakar kesehatan memperingatkan orang tua tentang berbagai risiko kesehatan yang mengintai.
Para pendaki sebaiknya menyiapkan bekal pakaian berlapis untuk menghadapi cuaca dingin.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved