Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNAHKAH kamu merasa nyaman di atas kasur atau sofa. Namun kamu enggan bergerak meskipun tahu banyak pekerjaan yang menanti? Atau lebih memilih duduk diam daripada beraktivitas? Jika iya, itu bisa jadi tanda kebiasaan mager atau malas gerak, yang ternyata dapat berbahaya bagi tubuhmu.
Mager atau malas gerak (sedentary lifestyle) adalah perilaku yang melibatkan sedikit aktivitas fisik, dengan pengeluaran energi yang rendah. Meskipun efeknya tidak terasa secara langsung, dampak negatif dari gaya hidup ini mulai terasa bertahun-tahun setelahnya.
Menurut WHO, gaya hidup ini termasuk salah satu dari 10 penyebab kematian terbanyak di dunia. Bahkan, penelitian yang dilakukan oleh European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC) pada 2008 mengungkapkan kematian akibat kebiasaan malas gerak dua kali lebih banyak dibandingkan kematian karena obesitas.
Salah satu penyakit yang paling sering terjadi akibat kebiasaan ini adalah penyakit jantung. Malas gerak dapat mengganggu metabolisme lemak darah, yang menyebabkan peningkatan kolesterol jahat (LDL) dan penurunan kolesterol baik (HDL). Akibatnya, penumpukan lemak di pembuluh darah semakin parah, memperburuk aterosklerosis, dan memperberat kerja jantung.
Studi dari Stanford University mengungkapkan Indonesia memiliki tingkat malas berjalan kaki tertinggi di dunia, dengan rata-rata hanya 3.513 langkah per hari. Hal ini menunjukkan kurangnya aktivitas fisik atau kebiasaan malas gerak di Indonesia.
Oleh karena itu, selain masalah jantung, kamu juga harus waspada terhadap bahaya 'mager' lainnya.
Kurangnya aktivitas fisik mengganggu sirkulasi darah, yang dapat meningkatkan risiko pembekuan darah dan masalah pada pembuluh darah otak, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya stroke akibat berkurangnya suplai oksigen ke otak.
Malas bergerak menyebabkan resistensi insulin, di mana tubuh tidak dapat menggunakan glukosa secara efisien. Hal ini menyebabkan kadar gula darah meningkat, yang pada akhirnya dapat memicu diabetes tipe 2.
Kebiasaan malas bergerak mengurangi kepadatan tulang dan massa otot. Tanpa aktivitas fisik yang cukup, tubuh akan kehilangan kalsium tulang, yang menyebabkan osteoporosis, kondisi tulang menjadi rapuh dan lebih mudah patah.
Malas bergerak berhubungan langsung dengan penurunan pembakaran kalori tubuh. Jika asupan kalori lebih tinggi daripada yang dibakar, kalori berlebih akan disimpan dalam bentuk lemak, yang lama kelamaan dapat menyebabkan obesitas.
Kurangnya aktivitas fisik membuat organ tubuh, termasuk usus, menjadi kurang aktif dan tidak berfungsi secara optimal, yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan, seperti konstipasi, karena proses pencernaan yang terhambat.
Kurangnya gerakan tubuh dapat mengurangi kapasitas paru-paru dalam menyerap oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida, yang akhirnya mengganggu proses pernapasan dan menyebabkan sesak napas serta penurunan daya tahan tubuh secara keseluruhan.
Kebiasaan malas bergerak dapat berdampak buruk pada kesehatan mental, karena kurangnya aktivitas fisik mengurangi pelepasan hormon endorfin yang berfungsi meningkatkan mood, sehingga seseorang menjadi lebih rentan mengalami stres dan perubahan suasana hati yang cepat.
Dengan mengetahui bahaya dari kebiasaan malas gerak, mari kita kurangi kebiasaan tersebut melalui aktivitas fisik. Misalnya, dengan berdiri, menaiki tangga, atau berjalan-jalan pendek, kita dapat secara bertahap meningkatkan tingkat aktivitas fisik demi mendukung kesehatan tubuh. (Kementerian Kesehatan/halodoc/Z-3)
Minyak sawit sering dianggap berbahaya. Simak fakta ilmiah tentang komposisi lemak, risiko kanker, obesitas, dan kesehatan jantung yang jarang diketahui publik.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Kasus kanker kolorektal usia muda terus meningkat. Pola makan modern, rendah serat dan tinggi makanan ultra-olahan disebut jadi faktor risiko utama.
Tiga tinjauan Cochrane yang ditugaskan WHO mengungkap potensi besar obat GLP-1 untuk penurunan berat badan, namun pakar peringatkan risiko jangka panjang.
Saat berat badan berlebih, tubuh tidak hanya menyimpan lemak ekstra. Sistem metabolisme ikut berubah.
Satu dari tiga pasien mampu mencapai penurunan berat badan lebih dari 20%, sebuah angka yang selama ini identik dengan hasil terapi suntikan mingguan.
Kabar baik! MK putuskan penyakit kronis kini bisa masuk kategori disabilitas. Simak syarat asesmen medis dan prinsip pilihan sukarela dalam Putusan MK No. 130/2025.
Minyak sawit sering dianggap berbahaya. Simak fakta ilmiah tentang komposisi lemak, risiko kanker, obesitas, dan kesehatan jantung yang jarang diketahui publik.
Tidur cukup bukan sekadar istirahat. Ini 7 manfaat tidur berkualitas bagi kesehatan tubuh dan mental.
Dirjen Kesehatan Lanjutan Kemenkes Azhar Jaya menyebut Indonesia kekurangan 92 ribu dokter dan meluncurkan program pendidikan spesialis hospital based.
KEBIASAAN kurang bergerak atau duduk terlalu lama saat bekerja alasan mengapa bahu, leher, atau punggung terasa sakit. 7 gerakan peregangan meredakan punggung bawah.
Peran brand dalam sektor kesehatan terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gaya hidup sehat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved