Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
JIKA Anda penggemar lilin, Anda mungkin sudah melihat beberapa merek yang menawarkan lilin dari bahan kedelai atau lilin lebah sebagai alternatif alami dibandingkan lilin parafin yang biasa. Namun, apakah lilin konvensional benar-benar buruk untuk kesehatan Anda?
Kekhawatiran tentang keamanan lilin berakar dari reaksi kimia yang terjadi saat lilin dibakar, serta dari pewangi dan pewarna buatan yang digunakan untuk menciptakan berbagai aroma yang Anda sukai.
Lilin yang paling menjadi perhatian adalah yang terbuat dari parafin, produk sampingan murah yang terutama diperoleh dari pemurnian minyak bumi. Parafin adalah lilin yang paling banyak digunakan di dunia, menurut National Candle Association.
Namun, sedikit penelitian mengenai emisi lilin atau potensi efeknya terhadap kesehatan manusia, dan kesimpulan dari penelitian tersebut masih beragam. Ada kesimpulan yang mengatakan lilin parafin bisa membahayakan, namun ada juga yang tidak bisa menyimpulkan hal tersebut dengan pasti.
Ketika Anda membakar lilin parafin, lilin tersebut melepaskan senyawa organik volatil (VOC), gas yang mudah menguap pada suhu ruangan. VOC ini juga sering ditemukan pada produk seperti cat, pembersih, kosmetik, pengharum udara, emisi kendaraan, dan peralatan pembakar bahan bakar, seperti kompor gas. Beberapa VOC bersifat berbahaya, sementara yang lain dapat bereaksi dengan gas lain dan membentuk polutan di udara.
Salah satu VOC yang sering dilepaskan lilin adalah toluena, yang merupakan cairan tidak berwarna yang memiliki bau khas dan secara alami terdapat dalam minyak mentah. Toluena dikenal sebagai neurotoksin yang dapat menyebabkan pusing, sakit kepala, atau efek lebih serius pada paparan jangka panjang.
Benzena, karsinogen yang sudah dikenal, juga dilepaskan oleh lilin parafin. Paparan jangka panjang terhadap benzena telah dikaitkan dengan gangguan darah seperti leukemia, dan dapat menjadi iritan pernapasan saat terhirup.
Lilin parafin juga melepaskan VOC seperti hidrokarbon aromatik polisiklik, yang mengandung benzena dan formaldehida, karsinogen lain yang berbahaya bagi manusia.
Namun, tidak semua lilin berbahaya. Lilin yang terbuat dari lilin kedelai, lilin lebah, atau stearin (minyak kelapa atau lemak hewan) sering dianggap lebih sehat.
Meskipun begitu, lilin yang dibakar tetap melepaskan partikel atau senyawa berbahaya. Risiko emisi toksik lebih tinggi pada lilin yang beraroma atau yang diberi pewarna, karena pewangi buatan juga mengandung VOC, termasuk ftalat, yang telah dikaitkan dengan masalah perilaku, obesitas, serta gangguan perkembangan sistem reproduksi.
Penting untuk diingat belum ada regulasi yang mengatur kandungan lilin secara lengkap atau pengujian pihak ketiga untuk memverifikasi klaim produsen. Oleh karena itu, perusahaan dapat memberi label lilin sebagai "berbahan dasar kedelai" meskipun hanya sebagian kecil dari lilinnya yang terbuat dari kedelai.
Dengan mengikuti tips ini, Anda bisa tetap menikmati lilin dengan lebih aman untuk kesehatan. (CNN/Z-3)
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Buku berjudul Mika & Maka: Berani ke Dokter karya kolaborasi Karen Nijsen dan Maria Ardelia menghadirkan kisah yang disampaikan secara hangat dan mudah dipahami agar anak takut ke dokter
Siapa sangka, golongan darah ternyata ikut berkaitan dengan risiko serangan jantung. Ini bukan mitos kesehatan.
Dengan teknologi bedah robotik, standar perawatan bedah tidak lagi dibatasi oleh jarak geografis, melainkan ditentukan oleh kualitas keahlian dan presisi teknologi.
Bupati Samosir Vandiko Gultom mengusulkan peningkatan daya dukung fasilitas kesehatan di Samosir agar sejalan dengan statusnya sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).
Pilihan mengolah pangan dengan cara dikukus membawa dampak signifikan bagi kesehatan tubuh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved