Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
KETIKA seseorang mengalami kaget, respons tubuh yang terjadi biasanya berupa gerakan menjauhi rangsangan, nadi yang lebih cepat, dan ada yang juga yang seperti latah.
Masyarakat kerap mengira mudah kaget sebagai tanda penyakit jantung. Padahal, belum tentu demikian. Respons tubuh ketika kaget normal terjadi selama gejala yang muncul tidak berlebihan.
“Kondisi kaget terjadi karena suatu respon dari tubuh secara tidak langsung kepada jantung. Tetapi tidak semua kaget dapat menyebabkan berdebar-debar,” terang Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RSUD dr. Iskak Tulungagung, dr. Adriyawan Widya Nugraha, Sp.JP(K) dilansir dari laman resmi RSUD Tulungagung.
Baca juga : Sering Kaget, Apakah Tanda Penyakit Jantung? Ini Faktanya!
Selain itu, perlu diketahui juga apakah jantung berdebar-debar ini terdapat penyebabnya atau tidak. Jika terdapat penyebabnya, gejala semacam ini dapat dikatakan normal atau wajar, karena memang berkaitan dengan mekanisme respon tubuh.
“Akan sangat berbeda kasusnya apabila kondisi berdebar-debar tidak terdapat penyebabnya. Maka fenomena atau gejala ini patut diwsapadai,” lanjutnya.
Menurut Adriyawan, gangguan irama atau aritmia jantung ini banyak sekali. Persentase gejala klinisnya dengan berdebar-debar, irama tidak beraturan serta irama jantung yang lebih cepat dari pada normalnya.
Baca juga : Olahraga Santai untuk Penderita Jantung, Cara Cerdas Mengatur Energi
Bila kondisi mudah berdebar-debar ini terjadi berulang dan muncul walaupun rangsangan yang ringan, seperti pada kondisi cemas, gangguan panik berlebihan dan sedang mengalami banyak pikiran atau khawatir.
Untuk meredakan, orang yang menngalami gejala kecemasan bisa melakukan beberapa treatmen khusus untuk meredakan, antara lain menghindari pikiran yang membuat cemas, lebih fokus terhadap kondisi sekitar, menghindari pikiran kosong, mengelola stres, dan mengalihkan waktu kosong dengan kegiatan yang bermanfaat.
Namun apabila kondisi mengganggu dan bahkan tidak nyaman dan berlangsung dalam jangka waktu lama seperti sesak, berdebar-debar, keringat dingin, nyeri dada, sebaiknya penderita beristirahat terlebih dahulu. Aktivitas yang berlebihan dapat menyebabkan beban kerja jantung terlalu tinggi.
Baca juga : Ini Penyebab Masalah Jantung yang Dialami Orang Muda
Jika tidak membaik langkah tepat yang perlu dilakukan adalah dengan mengonsultasikannya ke dokter. Hal ini agar dapat di deteksi secara pasti dan tepat terhadap kondisi yang dialami.
“Tidak ada kata ditunda ketika mengalami gejala kecil serta tidak ada salahnya melakukan evaluasi atau kontrol ke dokter. Sebab gejala yang kecil atau tidak ada gejala dapat tiba-tiba terserang penyakit jantung,” ujarnya.
Langkah lain adalah menjaga pola makan baik dan benar. Kurangi makanan atau minuman bersoda, mengonsumsi air putih serta mengonsumsi makanan sesuai dengan komorbit penyakit yang dimilki.
“Hubungan antara gampang kaget dengan jantung lemah sangat mungkin terjadi, sebab yang terlihat baik dapat terserang penyakit jantung. Dan yang terpenting segera konsultasikan ke dokter jika mengalami gejala gejala seperti yang saya sebutkan diatas,” pungkasnya. (H-2)
Peningkatan risiko penyakit jantung koroner pada golongan darah non-O diduga berkaitan dengan kadar faktor pembekuan darah dan penanda inflamasi yang lebih tinggi.
Nyeri leher tak selalu akibat salah tidur. Dalam kondisi tertentu, sakit leher bisa menjadi gejala serangan jantung. Kenali tanda dan risikonya.
Pola makan berperan besar dalam kesehatan jantung. Kenali 5 jenis makanan tinggi garam, gula, dan lemak yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan sebaiknya dihindari.
Studi terbaru mengungkap tingkat obesitas di AS melonjak drastis hingga 70% setelah standar pengukuran baru yang menggabungkan BMI dengan lingkar pinggang diterapkan.
Studi terbaru mengungkap jalan kaki lebih dari 10 menit dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian dini, terutama bagi orang dengan gaya hidup sedentari.
Kolesterol yang tinggi sering disebut sebagai silent killer dan dapat menjadi penyebab dari berbagai penyakit serius.
Pernahkah Anda merasa sering terkejut, bahkan oleh hal-hal kecil seperti suara tiba-tiba atau situasi yang tak terduga?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved