Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
BAYANGKAN, sebuah peluru kosmis berupa lubang hitam purba yang melesat melalui alam semesta, dengan kecepatan lebih dari 7.000 kali kecepatan suara, menghantam tata surya kita.
Jika peluru tersebut menyentuh Mars, sedikit goyangan pada planet merah itu mungkin dapat memecahkan salah satu misteri terbesar dalam ilmu pengetahuan modern, yaitu 'materi gelap'.
Para ilmuwan memperkirakan bahwa lubang hitam purba ini terbentuk pada awal penciptaan alam semesta. Namun, berbeda dengan lubang hitam yang dikenal luas seperti Sagitarius A* di pusat galaksi kita, lubang hitam purba ini jauh lebih kecil, bahkan seukuran asteroid atau bulan kecil, dan tidak lebih besar dari sebuah atom.
Baca juga : Gumpalan Magma Besar di Bawah Olympus Mons Mars Bisa Picu Letusan Besar
Beberapa ahli meyakini bahwa kumpulan lubang hitam kecil ini bisa menjadi kunci untuk memahami materi gelap, entitas misterius yang diperkirakan mengisi sebagian besar alam semesta namun sulit dilacak karena tidak berinteraksi dengan cahaya.
Namun, teori ini juga dihadapkan pada tantangan lain. Sebagian ilmuwan berargumen bahwa lubang hitam purba seharusnya sudah lama menguap akibat radiasi Hawking, sehingga mereka tidak mungkin menjadi penyusun materi gelap.
Meskipun demikian, sekelompok fisikawan kini mengusulkan cara baru untuk menguji teori ini, yaitu melalui pengamatan goyangan pada orbit Mars.
Baca juga : Penelitian NASA Mengungkap Rahasia Pembentukan Formasi Geologi Mars
Dengan teknologi saat ini, para ilmuwan mampu mengukur jarak antara Bumi dan Mars dengan akurasi hingga 10 sentimeter.
Jika lubang hitam purba melintasi tata surya dan memengaruhi orbit Mars, kita mungkin bisa mendeteksi goyangan kecil yang diakibatkan oleh interaksi gravitasi ini.
Materi gelap bukanlah sekadar masalah kecil. Dalam perhitungan ilmiah, materi gelap ternyata lebih berat lima kali lipat dari materi biasa yang menyusun bintang, planet, dan semua objek yang bisa kita lihat.
Baca juga : Astronom Menemukan Semburan Jet Kembar Terbesar dari Lubang Hitam
Artinya, semua benda yang kita kenal, mulai dari bintang terbesar hingga partikel terkecil, hanya menyumbang sekitar 20% dari total massa alam semesta. Sisanya? Materi gelap.
Meskipun tidak dapat dilihat, para ilmuwan bisa menyimpulkan keberadaan materi gelap dari dampaknya terhadap gravitasi.
Tanpa materi gelap, gravitasi yang dihasilkan oleh materi biasa tidak akan cukup kuat untuk menjelaskan pola pergerakan benda-benda di alam semesta, seperti planet Mars yang memiliki massa 642 juta triliun ton.
Baca juga : Mikro Black Hole Mungkin Melintas di Sistem Tata Surya Setiap Dekade
Jika lubang hitam purba ini benar-benar ada, mereka mungkin merupakan sisa-sisa dari Big Bang. Mereka tidak terbentuk dari bintang yang runtuh, seperti lubang hitam biasa.
Sebaliknya, mereka mungkin terbentuk dari kantong gas padat di alam semesta awal, yang kemudian tersebar luas oleh ekspansi cepat kosmos.
Dalam sebuah perbincangan, pemimpin tim riset, Tung Tran, memulai dari pertanyaan sederhana, "Apa yang terjadi jika lubang hitam purba melewati tubuh manusia?" Dari perhitungan Tran, jika sebuah lubang hitam dengan massa asteroid melintas dalam jarak sekitar satu meter dari seseorang, gaya gravitasi akan mendorong mereka sejauh 6 meter dalam satu detik. Untungnya, kemungkinan kejadian ini sangat kecil.
Namun, semakin besar benda yang dilewati lubang hitam, semakin besar pula peluang untuk mengamati dampaknya. Itulah sebabnya para peneliti beralih ke Mars, planet yang jauh lebih besar dan lebih mudah diamati dari jauh.
Tran dan timnya percaya bahwa sebuah lubang hitam purba yang melintas di dekat Mars bisa menyebabkan goyangan kecil pada orbitnya, yang dapat dideteksi oleh instrumen yang kita miliki saat ini.
Sebelumnya, para ilmuwan mencoba menghitung dampak lubang hitam purba pada sistem Bumi-Bulan. Namun, hasilnya terlalu ambigu, karena dinamika gravitasi lain di tata surya kita cenderung meredam goyangan yang disebabkan oleh lubang hitam tersebut.
Mars, dengan orbit yang lebih stabil dan jarak yang tepat dari Bumi, menjadi pilihan yang lebih baik.
Dengan kecepatan 5,4 juta mil per jam, atau sekitar 7.000 kali kecepatan suara, lubang hitam purba yang melintas dapat menyebabkan penyimpangan pada orbit Mars.
Meskipun penyimpangan ini mungkin sangat kecil, teknologi yang kita miliki mampu mendeteksinya. Namun, meskipun penyimpangan ini terdeteksi, tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa penyimpangan tersebut disebabkan oleh lubang hitam purba dan bukan oleh benda langit lain, seperti asteroid.
Dalam beberapa dekade ke depan, dengan analisis data yang lebih mendalam, kita mungkin bisa memastikan apakah lubang hitam purba benar-benar ada dan memainkan peran penting dalam menjelaskan misteri materi gelap.
Penelitian ini membawa kita selangkah lebih dekat untuk memahami fenomena alam semesta yang tak terlihat, membuka pintu bagi penemuan-penemuan besar di masa depan.
Penelitian ini dipublikasikan pada jurnal Physical Review D pada 17 September, memberikan harapan baru bagi ilmuwan untuk akhirnya menjawab pertanyaan yang telah lama menggelitik apakah materi gelap terdiri dari lubang hitam purba yang muncul sesaat setelah Big Bang? Jika jawabannya "ya", kita mungkin sedang menyaksikan sejarah yang akan mengubah pemahaman kita tentang alam semesta. (NA) (Z-12)
Wahana Curiosity milik NASA menemukan formasi geologi unik berbentuk “jaring laba-laba” di Mars. Fenomena boxwork ini diyakini terbentuk dari aktivitas air purba.
Studi terbaru mengungkap gunung berapi di Mars memiliki sejarah erupsi yang jauh lebih rumit dari dugaan semula, didorong oleh sistem magma yang terus berevolusi.
Elon Musk mengumumkan SpaceX beralih fokus ke Bulan sebelum Mars. Targetkan kota mandiri dalam 10 tahun demi selamatkan peradaban manusia.
Penelitian terbaru mengungkap meteorit Mars Black Beauty menyimpan air purba jauh lebih banyak, memperkuat bukti Mars pernah basah dan layak huni.
Mars berada pada jarak rata-rata sekitar 140 juta mil atau 225 juta kilometer dari Bumi. Jarak tersebut menyebabkan keterlambatan komunikasi, sehingga pengendalian rover secara langsung
NASA sukses menguji coba navigasi AI pada Rover Perseverance di Mars. Tanpa campur tangan manusia, AI kini mampu memetakan rute aman di medan ekstrem Planet Merah.
Bintang monster WOH G64 terpantau berubah dari Supergiant Merah menjadi Hypergiant Kuning. Apakah ini pertanda kelahiran lubang hitam dalam waktu dekat?
Ilmuwan menemukan kandidat pulsar langka yang berputar 122 kali per detik di pusat galaksi. Temuan ini berpotensi membuktikan teori relativitas Einstein.
Galaksi Andromeda atau Messier 31 merupakan galaksi spiral terdekat dari Bima Sakti, berjarak sekitar 2,5 juta tahun cahaya dari Bumi.
Terinspirasi Lord of the Rings, ilmuwan temukan sistem lubang hitam ganda Gondor dan Rohan lewat teknik gelombang gravitasi terbaru.
Astronom berhasil menghubungkan jet partikel sepanjang 3.000 tahun cahaya langsung ke jantung lubang hitam M87*.
Lubang hitam supermasif di galaksi J1007+3540 kembali aktif dengan ledakan plasma sejauh 1 juta tahun cahaya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved