Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PAUS Fransiskus merasa sangat terharu selama berada di Indonesia. Hal tersebut karena segala kebutuhan dan keinginan Pemimpin Gereja Katolik Sedunia sekaligus Kepala Negara Vatikan tersebut dipenuhi dengan baik oleh pemerintah Indonesia.
Hal tersebut diungkapkan Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Mgr Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo saat menggelar konferensi pers di pelataran Plaza Santa Maria di Gereja Katedral Jakarta, Sabtu (7/9), seperti dilaporkan Dominikus Dese dari Tim Media KWI.
Kardinal Suharyo menjelaskan Paus Fransiskus semestinya bertemu secara resmi dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Bogor. Namun mengingat usianya yang tidak lagi muda, serta jarak yang begitu jauh Bapa Suci pun meminta agar diizinkan berjumpa Presiden Jokowi di Istana Merdeka Jakarta.
Baca juga : Bersama Vatikan, Indonesia Junjung Tinggi Perbedaan Sebagai Anugerah
Permintaan itu, lanjut Kardinal Suharyo, disambut baik oleh Jokowi dan keduanya pun bertemu di Istana Merdeka pada Rabu (4/9) lalu.
"Itu permintaan yang diberikan oleh Bapak Presiden dan sejauh saya mengikuti acara itu, acara [di Istana Merdeka] itu memang sungguh-sungguh sangat istimewa," jelas Kardinal Suharyo.
"Yang lebih istimewa lagi, yang sangat mengharukan bagi Paus, adalah ketika Bapak Presiden menyapa Paus ketika beliau datang ke Stadion Madya, (hal itu) tidak terpikirkan," lanjut Kardinal Suharyo.
Baca juga : Pesan dan Keresahan Paus Fransiskus
Diketahui, pada Kamis (5/9) sore menjelang Misa Suci di Gelora Bung Karno (GBK), Presiden Jokowi datang ke Stadion Madya GBK untuk menyapa Paus Fransiskus. Presiden Jokowi ditemani sejumlah pejabat memberikan salam kepada Paus Fransiskus yang akan melangsungkan perayaan Ekaristi bersama umat Katolik pada pukul 17.00 WIB.
"Ini sungguh-sungguh sangat istimewa. Terima kasih kepada Bapak Presiden yang setulus-setulusnya," ujar mantan Uskup Agung Semarang itu.
"Terima kasih kepada pemerintah Indonesia, terutama kepada kementerian atau lembaga, aparat keamanan, serta seluruh panitia acara yang telah membantu menyambut dan menyelenggarakan acara dengan sangat baik untuk Paus Fransiskus," ucap Kardinal ketiga Indonesia itu.
Baca juga : 10 Fakta Menarik Vatikan, Negara Terkecil di Dunia jadi Tempat Tinggal Paus Fransiskus
Kardinal Suharyo juga sangat mengapresiasi peran serta seluruh pihak yang berkenan menuruti permintaan langsung dari Vatikan.
"Sejak awal direncanakan yang namanya verbal note, komunikasi antara Kedutaan Besar Vatikan untuk Indonesia dengan Kementerian Luar Negeri itu selalu lancar. Dan sejauh saya dengar, sejauh saya tahu dari teman-teman panitia, pemerintah Indonesia lewat kementerian-kementerian itu memberikan kemudahan-kemudahan sesuai dengan harapan dari tim Vatikan," kata Kardinal Suharyo mengurai.
"Jadi seolah-olah itu dimanjakan, mau minta ini silakan, mau minta itu silakan, semuanya dituruti. Itu sangat mengagumkan," ujar Kardinal asal Yogyakarta itu.
Baca juga : Ini Tempat yang Bakal Dikunjungi Paus Fransiskus di Jakarta
Paus Fransiskus, masih kata Kardinal Suharyo, berulang kali mengaku sangat tersentuh dengan keramahtamahan bangsa Indonesia.
Terakhir, Kardinal Suharyo mengungkapkan, pertemuan di Masjid Istiqlal menunjukkan bahwa masjid terbesar di Asia Tenggara itu bukan hanya tempat ibadah umat Islam, tetapi juga rumah yang mempersatukan semua umat.
"Bahwa masjid itu bukan sekadar tempat ibadah untuk umat Islam, tetapi juga rumah persaudaraan dengan segala macam prakarsa-prakarsanya yang baru," tutup Kardinal Suharyo. (Nov)
Tiga kardinal AS mengeluarkan pernyataan bersama yang jarang terjadi, menyerukan kebijakan luar negeri bermoral dan menolak perang sebagai instrumen kepentingan nasional.
Lebih dari 60 artefak budaya milik komunitas First Nations, Inuit, dan Métis akhirnya dipulangkan dari Vatikan setelah lebih dari satu abad.
Paus Leo XIV memulai kunjungan tiga hari ke Libanon dengan pesan perdamaian, hanya beberapa hari setelah serangan Israel di Beirut.
Dalam audiensi dengan bintang Hollywood, Paus Leo XIV meminta sineas untuk terus berkarya sebagai “peziarah imajinasi” dan menyoroti penurunan minat menonton di bioskop.
Paus Leo XIV menyerukan refleksi mendalam atas kebijakan deportasi massal AS dan memperingatkan risiko meningkatnya ketegangan dengan Venezuela.
Paus Leo menyerukan refleksi mendalam atas perlakuan terhadap imigran di AS di bawah pemerintahan Donald Trump.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved