Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMILIKI gigi putih dan rapih adalah impian banyak orang, namun untuk merawat dan medapatkannya ternyata membutuhkan perawatan khusus.
Selain itu, mempunyai gigi yang putih ini juga bisa didapatkan dengan cara perawatan whitening dan bleaching. Kedua perawatan gigi tersebut seringkali digunakan oleh sejumlah orang.
Walaupun keduanya memiliki manfaat yang hampir sama, namun whitening dan bleaching mempunyai arti berbeda.
Baca juga : Begini Cara Merapikan Gigi Tanpa Behel
Menurut Head of Professional Marketing Personal Care Unilever Indonesia, drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent, MDSc, perbedaan antara keduanya akan memberikan panduan untuk memilih perawatan yang tepat.
"Whitening dan bleaching seringkali dianggap sama, padahal keduanya memiliki mekanisme kerja yang berbeda," jelas drg. Ratu Mirah Afifah, Jumat (30/8).
Menurutnya, whitening dapat membuat gigi kembali berwarna putih sempurna. Noda dan bakteri pada gigi akan dihilangkan.
Baca juga : Anak Tak Perlu Cemas ke Dokter Gigi, AUDY Kids Kini Dilengkapi Mini Playground
"Whitening bertujuan untuk mengembalikan warna gigi ke warna alaminya. Misalnya, jika gigi Anda menguning karena konsumsi kopi, teh, atau merokok, pasta gigi whitening dapat membantu mengembalikan warna asli gigi Anda," katanya.
Whitening umumnya melibatkan penggunaan bahan aktif seperti silica atau kalsium karbonat dalam pasta gigi yang membantu menghilangkan noda permukaan. Metode ini biasanya lebih ringan dan aman digunakan secara rutin.
Sebaliknya, bleaching adalah prosedur yang lebih intensif dengan tujuan untuk membuat gigi menjadi lebih putih daripada warna aslinya.
Baca juga : Kelebihan Beban Kerja bagi Dokter Daerah Bisa Berdampak Buruk bagi Pasien
"Bleaching menggunakan bahan aktif yang lebih kuat, seperti hidrogen peroksida atau karbamid peroksida," ujarnya.
"Prosedur ini sering dilakukan di klinik gigi dan dapat menghasilkan perubahan warna yang signifikan. Namun, karena sifatnya yang lebih agresif, bleaching dapat menyebabkan sensitivitas gigi jika tidak dilakukan dengan benar," sambungnya.
Sebelum memutuskan untuk menjalani perawatan pemutih gigi, baik whitening maupun bleaching, menurutnya penting untuk berkonsultasi dengan dokter gigi terlebih dahulu.
Baca juga : Jangan Tunggu Parah, Dokter Anjurkan Tambal Gigi meski Lubangnya Kecil
Pemeriksaan menyeluruh akan dilakukan untuk menilai kondisi gigi dan mulut Anda serta menentukan perawatan yang paling sesuai.
"Setiap orang memiliki kondisi gigi yang berbeda, dan tidak semua jenis perawatan pemutih gigi cocok untuk setiap individu dan Faktor-faktor seperti kesehatan gigi, riwayat medis, dan harapan hasil perawatan perlu dipertimbangkan," terangnya.
Selain menjalani perawatan pemutih gigi, ada beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk menjaga agar gigi tetap putih dan sehat:
Sikat gigi minimal dua kali sehari selama dua menit untuk menghilangkan sisa makanan dan plak.
Benang gigi efektif untuk membersihkan sela-sela gigi dan mengurangi risiko pembentukan noda.
Kopi, teh, dan soda dapat menyebabkan noda pada gigi, jadi batasi konsumsi atau bilas mulut dengan air setelah mengonsumsinya.
Kunjungi dokter gigi setidaknya dua kali setahun untuk pemeriksaan dan pembersihan profesional.
Dengan memahami perbedaan antara whitening dan bleaching serta mengikuti langkah-langkah perawatan yang tepat, Anda dapat meraih senyum putih yang sehat dan mempesona.
Selalu ingat bahwa perawatan gigi yang baik tidak hanya memperbaiki penampilan tetapi juga mendukung kesehatan mulut secara keseluruhan. (Z-12)
Ketiga masalah itu adalah ketidakharmonisan susunan gigi (maloklusi), gigi berlubang, serta masih rendahnya kesadaran akan perawatan gigi preventif secara rutin.
Bedah ortognatik merupakan prosedur korektif untuk menangani kelainan posisi rahang yang dapat memengaruhi fungsi mengunyah, berbicara, bernapas, serta estetika wajah.
Menjaga kesehatan gigi dan mulut sejak usia dini menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak.
Infeksi HIV/AIDS tak hanya berdampak sistemik, tetapi juga sering kali memunculkan gejala di rongga mulut yang dapat menjadi indikator awal infeksi.
Pembiaran bisa berpotensi menyebabkan pembengkakan gusi atau lubang semakin besar, dan pada akhirnya, kemungkinan terburuk adalah gigi harus dicabut.
Masyarakat cenderung menunda melakukan perawatan gigi karena kekhawatiran pada harga yang tidak pasti dan kurangnya informasi mengenai layanan yang dibutuhkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved