Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH penelitian terbaru dari Australia mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai hubungan antara kepemilikan hewan peliharaan dan kepribadian.
Penelitian yang dilakukan para psikolog di James Cook University menunjukkan pemilik kucing cenderung memiliki tingkat neurotisisme yang lebih tinggi dibandingkan pemilik anjing. Ini berarti pemilik kucing mungkin lebih rentan mengalami kecemasan dan stres.
Dalam budaya populer, seperti karakter Eleanor Abernathy di The Simpsons dan Angela Martin di The US Office, sering kali digambarkan 'penggila kucing' sebagai individu neurotik dan penyendiri. Meskipun arketipe ini sering dianggap sebagai mitos, studi terbaru ini menunjukkan adanya kemungkinan kebenaran di baliknya.
Baca juga : Usia Harapan Hidup Kucing dan Anjing di Indonesia di Bawah Enam Tahun
Penelitian ini, yang dilakukan Jessica Oliva dan Leah Michelle Baines, melibatkan 321 orang dewasa di Australia yang memiliki anjing, kucing, atau keduanya. Hasil penelitian menunjukkan pemilik kucing, baik pria maupun perempuan, memiliki tingkat neurotisisme yang lebih tinggi dibandingkan pemilik anjing. Sebaliknya, pemilik anjing cenderung lebih tangguh dan mampu beradaptasi dengan situasi sulit dengan lebih baik.
"Pemilik kucing menunjukkan tingkat neurotisisme yang lebih tinggi," lapor para peneliti dalam makalah mereka yang diterbitkan di jurnal Anthrozoos. "Jenis orang yang suka memiliki anjing adalah juga tipe orang yang bisa 'bangkit kembali' dari situasi stres dengan lebih mudah. Sebaliknya, orang yang lebih suka memiliki kucing mungkin lebih rentan terhadap dampak negatif dari stres."
Dalam studi ini, peserta yang memiliki kedua jenis hewan peliharaan diminta untuk memilih kategori 'pemilik anjing' atau 'pemilik kucing' berdasarkan hewan yang paling dekat atau paling banyak waktu dihabiskan bersama mereka (60% memilih anjing). Semua peserta mengisi kuesioner yang mengukur sifat kepribadian mereka, termasuk ekstroversi, keterbukaan, kesepakatan, kesadaran, neurotisisme, dan ketahanan.
Baca juga : Usia Harapan Hidup Kucing dan Anjing di Indonesia di Bawah 6 Tahun
Hasil menunjukkan pemilik anjing memiliki ketahanan yang lebih tinggi, sedangkan pemilik kucing menunjukkan neurotisisme yang lebih tinggi, setelah mempertimbangkan usia dan jenis kelamin
. Menariknya, perempuan yang memiliki kucing juga mencatat tingkat neurotisisme yang lebih tinggi dibandingkan pria yang memiliki kucing, memberikan dukungan pada arketipe 'perempuanpenggila kucing'. Namun, hubungan antara kepemilikan kucing dan kepribadian neurotik tidak hanya berlaku untuk perempuan, tetapi juga untuk pria.
"Meskipun alasan di balik temuan ini belum sepenuhnya jelas, ada kemungkinan bahwa orang yang lebih introvert atau neurotik lebih cenderung memilih kucing, sementara orang yang lebih tangguh cenderung memilih anjing," kata Dr. Oliva. "Pengalaman memiliki kucing mungkin juga membuat orang menjadi lebih neurotik dibandingkan dengan memiliki anjing."
Penelitian ini menunjukkan pemilik anjing sering kali memiliki kesempatan lebih besar untuk berinteraksi sosial, yang mungkin membantu mengurangi stres, sementara kucing tidak memerlukan perawatan sosial yang sama. "Perbedaan kepribadian antara 'orang anjing' dan 'orang kucing' telah terbukti secara konsisten," tambahnya.
"Kepemilikan anjing sering dikaitkan dengan penurunan rasa kesepian, terutama selama periode isolasi berkepanjangan, seperti selama lockdown Covid, yang menunjukkan tingkat ketahanan yang lebih tinggi pada pemilik anjing," pungkasnya. (Dailymail/Z-3)
Dengan tekstur yang lebih padat, kucing bisa mendapatkan asupan gizi yang lebih konsentrat meski dalam satu suapan kecil sekalipun.
Peneliti UC Davis menemukan virus corona pada kucing (FIP) mampu menginfeksi berbagai sel imun dan "bersembunyi". Temuan ini menjadi petunjuk penting bagi fenomena Long covid pada manusia.
Isu yang kerap beredar di masyarakat tersebut berkaitan dengan infeksi parasit Toxoplasma gondii, bukan karena kucing itu sendiri.
Sebuah studi terbaru mengungkapkan kucing lebih vokal saat menyapa pemilik pria dibanding perempuan. Apakah ini bentuk manipulasi atau sekadar adaptasi sosial?
Studi terbaru mengungkap dua peristiwa pendinginan global mengubah bentuk tubuh hewan karnivora dari musang menjadi kucing dan beruang. Simak faktanya!
Pergub Nomor 36 tahun 2025 merupakan perubahan atas Peraturan Gubernur nomor 1999 tahun 2016 tentang Pengendalian Hewan Penular Rabies.
Mengetik terlalu lama dan duduk di posisi yang sama dalam waktu lama, termasuk mengendarai motor, bisa memicu munculnya neuropati.
Celine Dion yang sedang menghadapi gangguan neurologis langka, berharap untuk meningkatkan kesadaran tentang kondisinya melalui dokumenter "I Am: Celine Dion."
"Obat yang mengandung vitamin B kompleks tidak hanya efektif mengurangi gejala, namun, juga efektif memulihkan sebagian fungsi saraf yang rusak akibat neuropati perifer."
Neuropati perifer adalah gangguan pada saraf tepi sehingga menimbulkan sensasi kebas, kesemutan, rasa seperti tertusuk, dan sensasi panas pada bagian ujung tubuh, misalnya tangan dan kaki.
Neuropati perifer adalah gangguan pada saraf tepi yang menimbulkan sensasi kebas, kesemutan, rasa seperti tertusuk, dan sensasi panas pada bagian ujung tubuh, misalnya tangan dan kaki.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved