Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM rangka mengatasi Kejadian Luar Biasa (KLB) polio yang masih melanda beberapa wilayah di Indonesia, Kementerian Kesehatan bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menggelar Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio tahap kedua di 27 provinsi.
Polio adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus polio yang dapat menyebabkan kelumpuhan permanen.
Penyakit ini terutama menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun. Imunisasi polio merupakan langkah pencegahan yang efektif untuk melindungi anak-anak dari penyakit ini.
Baca juga : PIN Polio, Anak dengan Autisme Bisa Ikut Serta
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rini Sekartini, menekankan pentingnya imunisasi polio, terutama bagi anak berkebutuhan khusus.
Menurutnya, imunisasi polio aman untuk diberikan kepada anak dengan gangguan perilaku seperti autisme atau ADHD, selama mereka tidak memiliki kondisi medis lain yang merupakan kontraindikasi.
"Anak berkebutuhan khusus dengan gangguan perilaku seperti autisme atau ADHD tetap bisa diberikan imunisasi polio tetes. Imunisasi ini aman karena mereka sehat secara fisik," ujar Rini saat memberikan edukasi kepada kader posyandu di Gedung Ikatan Dokter Anak Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Selasa (23/7).
Baca juga : PIN Polio Putaran Kedua Cerminan Orangtua Abai Imunisasi
Rini juga menekankan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk imunisasi, sangat penting bagi anak berkebutuhan khusus.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan pemberian imunisasi lengkap kepada anak dengan gangguan perilaku.
KLB polio terjadi di Papua sejak tahun 2022, dan kasus ini menyoroti pentingnya cakupan imunisasi yang tinggi untuk mengendalikan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Baca juga : Bebas Polio Bukan Berarti Bebas Ancaman
Ketua IDAI Piprim Basarah Yanuarso, menjelaskan bahwa cakupan imunisasi yang rendah dapat menyebabkan munculnya kembali KLB.
"Cakupan imunisasi yang tinggi dapat mengendalikan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Namun, jika cakupannya menurun di bawah 60%, Kejadian Luar Biasa (KLB) dapat muncul kembali," jelas Piprim.
Pekan Imunisasi Nasional Polio tahap kedua ini menargetkan cakupan minimal 95 persen untuk mencapai kekebalan kelompok. Imunisasi akan dilaksanakan selama sepekan ke depan untuk anak usia 0 hingga 7 tahun di posyandu, puskesmas, dan lokasi lain yang telah ditentukan oleh Kementerian Kesehatan.
Baca juga : Sub PIN Polio dan Imunisasi Dasar Lengkap Anak Terus Digencarkan untuk Cegah Penularan
Imunisasi ini penting karena cakupan imunisasi pada anak sempat menurun drastis pada tahun 2021 akibat pandemi covid-19, yang menyebabkan banyak orang tua ragu untuk membawa anak-anak mereka ke fasilitas kesehatan.
Oleh karena itu, program PIN Polio ini diharapkan dapat meningkatkan kembali cakupan imunisasi dan melindungi anak-anak Indonesia dari bahaya polio.
Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk tenaga kesehatan, kader posyandu, dan masyarakat, diharapkan program Pekan Imunisasi Nasional Polio ini dapat berjalan sukses dan mencapai target yang telah ditetapkan.
Melalui upaya bersama, Indonesia dapat mengatasi KLB polio dan memastikan setiap anak mendapatkan perlindungan yang mereka butuhkan untuk tumbuh sehat dan kuat. (Z-10)
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Kualitas surveilans AFP semakin baik melalui deteksi kasus lebih sensitif dan peningkatan kualitas spesimen.
Indonesia telah resmi mengakhiri wabah virus polio tipe 2, yang muncul akibat rendahnya cakupan imunisasi polio selama bertahun-tahun.
Turunnya angka imunisasi selama pandemi menyebabkan kembali munculnya kasus polio di beberapa daerah Indonesia.
PAKISTAN sedang menghadapi ancaman serius dari penyakit polio pascadilaporkannya dua kasus baru polio di Provinsi Sindh. Temuan tersebut menambah jumlah total kasus polio menjadi 29 kasus
Hal itu terjadi karena pemerintah Indonesia melaporkan adanya kasus Vaksin Derived Polio Virus (VDPV).
Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa sampai dengan minggu kesembilan 2026, kasus campak di Indonesia telah turun menjadi 511 kasus dari sebelumnya 531 kasus.
Berdasarkan data Kemenkes hingga minggu ke-8 tahun 2026, tercatat sebanyak 10.453 kasus suspek campak, dengan 8.372 kasus terkonfirmasi dan enam kasus kematian.
Waktu ideal untuk pemberian vaksinasi adalah minimal 14 hari atau dua pekan sebelum keberangkatan guna memastikan perlindungan optimal selama liburan.
LONJAKAN kasus campak yang terjadi belakangan ini dinilai menjadi indikator menurunnya kekebalan kelompok atau herd immunity di masyarakat
Di Indonesia, jadwal imunisasi anak saat ini mengacu pada rekomendasi Kementerian Kesehatan serta panduan terbaru dari IDAI yang diperbarui pada 2024.
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved