Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan fenomena meningkatnya suhu pada wilayah perkotaan yang dikenal sebagai Urban Heat Island (UHI) harus segera ditangani. UHI merupakan tingginya temperatur daerah perkotaan dibandingkan pedesaan. Dalam kurun waktu 30 tahun, efek UHI relatif cukup kuat dirasakan.
"UHI ini harus kita mitigasi bersama. Perlu kesadaran dan aksi nyata untuk menghadapi fenomena suhu panas ini," ujar Dwikorita dalam gelaran Workshop Urban Heat Island 2024 yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerjasama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Ia menerangkan cuaca panas yang terkait dengan fenomena UHI perkotaan bervariasi tergantung pada tutupan lahan. Perubahan tutupan lahan yang menjadi lahan terbangun menurutnya memperparah terjadinya UHI. Fenomena itu, kata dia, dipicu oleh beberapa faktor diantaranya struktur geometris kota yang rumit, sedikitnya vegetasi, hingga efek rumah kaca.
Baca juga : El Nino dan La Nina, Bedanya Dimana?
Sejumlah kota besar di Indonesia seperti Jabodetabek, Medan, Surabaya, Makassar, dan Bandung, termasuk dalam 20% kota dengan nilai Land Surface Temperature (LST) terbesar. Permukaan yang kedap air dan lebih sedikit vegetasi akan menambah efek dari UHI tersebut.
Mengutip Badan Meteorologi Dunia (WMO), Dwikorita menuturkan 2023 tercatat sebagai tahun terpanas sepanjang pengamatan instrumental. Anomali suhu rata-rata global mencapai 1,45 derajat celsius di atas zaman pra industri. Angka ini, kata Dwikorita, nyaris menyentuh batas yang disepakati dalam Perjanjian Paris tahun 2015. Dalam perjanjian tersebut, negara-negara di dunia sepakat untuk berupaya menahan laju pemanasan global pada angka 1,5 derajat celsius. Namun, pada 2023, terjadi rekor suhu global harian baru dan bencana gelombang panas (heat wave) ekstrem yang melanda berbagai kawasan di Asia dan Eropa.
"Rekor iklim yang terjadi di tahun 2023 bukanlah kejadian acak atau kebetulan, melainkan tanda-tanda jelas dari pola yang lebih besar dan lebih mengkhawatirkan yaitu perubahan iklim yang semakin nyata," tuturnya.
Baca juga : BMKG Sebut Cuaca Panas akan Menurun Secara Gradual pada Bulan Mei 2023
Oleh karena itu, menurutnya mitigasi dari dampak perubahan iklim dan pemanasan global harus dilakukan secara bersama-sama melibatkan seluruh komponen masyarakat, tidak hanya pemerintah, namun juga sektor swasta, akademisi, media, dan lain sebagainya termasuk anak-anak muda.
Dwikorita menjelaskan hal yang dilakukan BMKG yakni monitoring secara sistematis dan berkesinambungan, agar analisis untuk prediksi dan proyeksi puluhan hingga seratus tahun kedepan dapat dihasilkan secara tepat.
"Tanpa data, analisis tidak dapat dilakukan. Kita membutuhkan data sebagai verifikasi atau asimilasi untuk membantu tugas BMKG dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Supaya tidak salah langkah, maka harus berbasis data, termasuk dalam memitigasi UHI ini," tandasnya. (Z-11)
Cuaca ekstrem meningkatkan kadar TNF-alpha serta mengubah jumlah sel darah putih, membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit.
“Adanya perubahan lahan, bangunan-bangunan semakin banyak sehingga menyebabkan panas yang lebih ekstrem,”
BMKG menyebut suhu panas yang sempat melanda sebagian wilayah Indonesia mulai menurun dibandingkan pekan sebelumnya.
Pada Oktober, posisi matahari berada hampir tepat di atas Pulau Jawa dan Bali, sehingga kedua wilayah ini menerima intensitas radiasi matahari yang lebih tinggi.
BMKG memprakirakan potensi hujan sedang hingga lebat meningkat di sebagian wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan, 21–27 Oktober 2025 meski cuaca panas masih terjadi
Sinar matahari yang panas dan terik juga akan merangsang syaraf dalam kepala, dan meningkatkan rasa sakit kepala pada penderitanya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca hari ini dan peringatan dini cuaca ekstrem untuk 11 November 2025.
Dinas Kesehatan Kota Padang menyarankan kepada warga untuk mengurangi beraktivitas di luar ruangan saat matahari terik.
Suhu panas ini, pastinya bisa memunculkan dehidrasi yang akan dialami oleh sebagian besar orang.
BMKG menyebut suhu panas yang sempat melanda sebagian wilayah Indonesia mulai menurun dibandingkan pekan sebelumnya.
SUHU udara panas diprakirakan akan terjadi hingga akhir Oktober 2025.
BMKG mengungkapkan suhu udara di Jakarta pada 16 Oktober 2025 mencapai 35 derajat celsius, dengan kisaran suhu harian antara 26 hingga 34 derajat celsius.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved