Headline
Ada unsur yang ingin Indonesia chaos.
DIREKTUR Peringatan Dini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Afrial Rosya menyampaikan Sistem Peringatan Dini Bencana (SPDB) Banjir berbasis masyarakat menjadi bagian penting dalam penanggulangan bencana. Hal itu dia sampaikan saat acara kick off kegiatan Fasilitasi di Provinsi Gorontalo di tahun 2024, kemarin.
Partisipasi masyarakat, ujarnya, sangat diharapkan dalam memahami potensi bahaya. Masyarakat, diharapkan melakukan langkah-langkah antisipatif dan responsif dalam meminimalkan dampak risiko bencana, termasuk di dalamnya ancaman banjir.
"Pemahaman masyarakat menjadi ujung tombak. Oleh karena itu, semua pihak perlu untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat daerah rawan bencana melalui pembentukan fasilitator tingkat desa termasuk di dalamnya para relawan," ujarnya seperti dikutip dari keterangan pers, Rabu (15/5).
Baca juga : 733 Bencana Melanda Indonesia Hingga Awal Mei 2024
Afrial juga mengatakan fasilitasi peralatan sistem peringatan dini banjir akan dilaksanakan di tiga kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo yaitu di Kabupaten Gorontalo (Desa Yosonegoro), Kabupaten Bone Bolango (Desa Tupa), dan Kota Gorontalo (Kelurahan Bugis). Fasilitasi itu termasuk penguatan kapasitas masyarakat setempat.
"Mengingat tingkat ancaman yang berbeda di setiap lokasi, maka pada kegiatan ini akan dipertimbangkan hal-hal yang terkait dengan kondisi riil yang ada di lapangan termasuk budaya lokal masyarakat setempat," paparnya.
Adapun sarana prasarana yang dibangun untuk SPDB berbasis masyarakat berupa sirine dilengkapi dengan alat pendukung lain termasuk alat komunikasi yang nanti akan diserahkan kepada pemerintah daerah. Itu, ujarnya, dapat digunakan untuk peningkatan kapasitas peringatan dini daerah.
Arifal mengatakan fasilitas Early Warning System (EWS) Banjir di Gorontalo dapat menambah jangkauan informasi peringatan bencana kepada masyarakat dan meningkatkan tingkat kesiapsiagaan menghadapi bencana banjir di masa mendatang. (ind)
Sebanyak 62 jadwal perjalanan kereta cepat Whoosh kembali normal usai gempa bermagnitudo 4,9 di Kabupaten Bekasi.
Sistem peringatan dini gempa bumi memanfaatkan jaringan sensor seismik untuk mendeteksi gelombang primer (P)—gelombang cepat yang muncul pertama kali saat gempa terjadi.
BMKG membuat sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS) yang resmi beroperasi sejak 11 November 2008.
Potasium bisa dijadikan indikator baru dalam pemantauan aktivitas vulkanik, terutama untuk menilai potensi terjadinya letusan besar yang memicu pembentukan kaldera.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah penyebaran informasi kebencanaan melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk operator seluler dan televisi.
Selain gempa dan tsunami, layanan distribusi informasi peringatan dini berbasis televisi digital tersebut juga memungkinkan untuk bencana, seperti kebakaran hutan, aktivitas vulkanik.
PEMERINTAH Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, memasang lima unit sensor peringatan dini atau Early Warning System (EWS) di titik rawan bencana tanah longsor dan banjir lahar dingin.
Sistem peringatan dini untuk mengantisipasi dampak bencana banjir lahar dingin pascaerupsi Gunung Marapi yang terletak di perbatasan Kabupaten Tanah Datar dan Agam, Provinsi Sumatra Barat.
Alat EWS dapat segera mengirimkan sinyal lebih cepat jika ada potensi tanah bergerak maupun tanah longsor.
"Alat dilengkapi dengan sirine, masing-masing akan mengeluarkan tiga bunyi sirine berbeda sesuai tingkatan bahaya,"
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved