Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
HARI Kota Sedunia, atau "World Cities Day," dirayakan setiap 31 Oktober. Peringatan ini merupakan upaya edukasi yang fokus pada tantangan kota di seluruh dunia. Tujuan utamanya adalah mendorong kerja sama lintas negara dalam menemukan solusi bagi tantangan urbanisasi dan berkontribusi pada pembangunan kota yang berkelanjutan di skala global.
Berdasarkan kutipan dari laman resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Hari Kota Sedunia dirancang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap urbanisasi global, mendorong kerja sama antar negara untuk mengatasi tantangan urbanisasi, serta berperan dalam pembangunan kota yang berkelanjutan di seluruh dunia.
Baca juga: 5 Rekomendasi Game Membangun Kota di Android yang Bikin Ketagihan
Setiap tahun, perayaan Hari Kota Sedunia menyoroti tema khusus yang berkaitan dengan perkembangan kota. Tema-tema ini mencakup isu lingkungan, pembangunan berkelanjutan, kesetaraan, pengentasan kemiskinan, hingga inovasi teknologi dalam pengelolaan kota.
Pada tahun ini, Majelis PBB menetapkan tema "Mendanai masa depan perkotaan yang berkelanjutan untuk semua" dengan slogan "Kota yang Lebih Baik, Hidup yang Lebih Baik". Melalui tema ini, PBB ingin menjelajahi strategi untuk membuka investasi transformatif dalam perencanaan kota serta mencapai desentralisasi fiskal yang memadai.
Baca juga: Mengapa Alergi Lebih Banyak Terjadi di Kota?
Untuk mencapai tujuan ini, mandat dari seluruh tingkatan dan sektor pemerintahan harus jelas tanpa adanya kesenjangan atau tumpang tindih. Semua tingkatan dan sektor pemerintahan yang relevan harus terlibat dalam pengambilan keputusan mengenai investasi, bukan hanya yang terlibat dalam pengumpulan pajak dan pendapatan lainnya.
Adalah sangat penting untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan pembangunan perkotaan melalui kolaborasi yang lebih baik antara berbagai tingkatan dan sektor pemerintahan. Di samping itu, keberhasilan upaya mendesentralisasi tanggung jawab ke tingkat subnasional sangat bergantung pada sistem dan tradisi tata kelola yang ada, bahkan jika mereka didukung oleh devolusi fiskal dan otoritas pinjaman sub-negara.
Sejarah Hari Kota Sedunia dimulai dari Konferensi Habitat Pertama yang diadakan PBB pada tahun 1949 di Buenos Aires, Argentina. Konferensi ini menjadi panggung penting yang membahas permasalahan perkotaan secara global. Usulan muncul untuk merayakan "Hari Habitat" setiap 31 Oktober guna meningkatkan kesadaran akan kompleksitas dan urgensi isu perkotaan di seluruh dunia.
Pada 1985, Majelis Umum PBB secara resmi menetapkan 31 Oktober sebagai Hari Habitat atau World Cities Day. Penetapan ini bertujuan untuk memperkuat kesadaran akan pentingnya keberlanjutan perkotaan serta untuk mempromosikan kerjasama internasional dalam menangani tantangan perkotaan. Dalam setiap perayaannya, Hari Kota Sedunia menyoroti tema-tema yang relevan dengan pembangunan kota, termasuk isu lingkungan, inovasi teknologi, kesetaraan akses, pengentasan kemiskinan, dan keberlanjutan.
Sejak penetapan tersebut, Hari Kota Sedunia telah menjadi platform yang sangat penting bagi komunitas global untuk merayakan kemajuan perkotaan, menghadapi tantangan yang dihadapi kota-kota di seluruh dunia, dan mempromosikan kerja sama yang melintasi batas-batas negara dalam memperbaiki kondisi perkotaan. Peringatan setiap tahunnya dirayakan melalui berbagai acara seperti seminar, konferensi, pameran, dan program-program lokal yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman akan pentingnya kota-kota yang berkelanjutan dan inklusif.
Melalui Hari Kota Sedunia, upaya untuk mewujudkan perkotaan yang lebih baik, inklusif, dan berkelanjutan terus diperjuangkan secara global. Penekanan pada inisiatif lokal, keberlanjutan, serta kolaborasi lintas batas negara merupakan tonggak penting dalam memajukan kota-kota ke arah masa depan yang lebih baik. (Z-3)
SATU tahun memasuki masa jabatan keduanya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghancurkan tatanan usai Perang Dunia II yang belum pernah terjadi.
MAJELIS Umum PBB, Senin (15/12), mengadopsi resolusi yang menegaskan kembali hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri.
PALESTINA menyambut baik resolusi Majelis Umum Perserikatan Banga Bangsa (PBB) yang menuntut Israel mengakhiri pembatasan terhadap pengiriman bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.
PELAPOR Khusus PBB untuk wilayah pendudukan Palestina, Francesca Albanese, Senin (8/12) mengecam brutalitas genosida Israel di Gaza.
LAPORAN terbaru PBB menempatkan Jakarta sebagai kota terbesar di dunia dengan populasi 41,9 juta jiwa.
OKI menekankan pentingnya pengesahan resolusi besar-besaran yang memperbarui mandat Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA).
Presiden Prancis Emmanuel Macron resmi menolak undangan Donald Trump untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza. Apa alasan di baliknya?
Pobee menyampaikan kembali keprihatinan mendalam Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres atas laporan penggunaan kekuatan berlebihan di Iran.
KEDUTAAN Besar Republik Islam Iran di Jakarta, Rabu (14/1), menyampaikan klarifikasi terkait perkembangan unjuk rasa dan kerusuhan yang terjadi dalam demonstrasi Iran.
PERSERIKATAN Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak pemerintah Iran segera menghentikan seluruh bentuk kekerasan dan tindakan represif terhadap para pengunjuk rasa.
Pakar PBB mengecam pelanggaran HAM berat di Iran, termasuk penggunaan kekuatan mematikan dan ancaman hukuman mati bagi demonstran. Simak laporan lengkapnya.
Presiden Prancis Emmanuel Macron kecam kebijakan Trump tarik AS dari 66 organisasi internasional & isu Greenland. Peringatkan krisis kepemimpinan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved