Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Program Studi Kajian Terorisme Universitas Indonesia Muhammad Syauqillah mengatakan pengarusutamaan Pancasila dalam konteks kehidupan bermasyarakat menjadi hal yang urgen, terutama Indonesia merupakan bangsa yang majemuk dari sisi etnis, suku, ras, dan agama.
"Karena Indonesia besar sekali, pengarusutamaan Pancasila dalam konteks kehidupan masyarakat menjadi sangat urgen hari ini. Kita tidak bisa menafikan bahwa Indonesia adalah bangsa yang beragam, yang mempersatukan justru Pancasila itu sendiri," kata Syauqillah seperti dikutip Antara di Jakarta, Selasa (30/5).
Syauqillah menjelaskan bahwa Indonesia adalah bangsa yang agamis. Maka, pengarusutamaan nilai Pancasila harus dikembalikan pada pemahaman bahwa tidak ada hal yang kontra atau bertentangan antara sila dalam Pancasila terhadap ajaran agama apa pun.
Menurut Syauqillah, tidak ada agama yang tak suka dengan persatuan, kebinekaan, kemanusiaan yang adil, peradaban, dan etika.
"Nah, tentunya dikembalikan lagi kepada masyarakat karena masyarakat yang mempunyai keyakinan serta punya agama dan kepercayaan. Pancasila itu merupakan representasi dari seluruh keyakinan yang ada di Indonesia," katanya.
Dosen Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (SKSG UI) itu menilai sangat tidak valid jika masih ada pernyataan bahwa Pancasila dianggap merupakan biang masalah bangsa yang perlu untuk segera diganti karena tidak relevan dengan ajaran agama.
Baca juga: Undang Praktisi dari Jepang, Untar Gelar Seminar Desain Interior Perkantoran
Menurut dia, berada di Indonesia masih bisa beribadah, menikmati jalan-jalan, menikmati alam Indonesia, hal itu karena Pancasila dan persatuan.
"Kita semua memang perlu memformulasikan Pancasila dalam konteks bermasyarakat," katanya.
Ia menyatakan bahwa Pemerintah harus bisa lebih tegas dalam hal melarang ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.
Menurut dia, negara harus memiliki kekuatan untuk memayungi kehidupan masyarakat dengan aturan-aturan.
Dalam memperingati Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni, kata dia, ada dua hal yang bisa direfleksikan oleh segenap anak bangsa untuk memperkuat komitmen menghidupkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dan mendorong terciptanya masyarakat yang harmonis, inklusif, dan berkeadilan.
"Pertama, kita harus jadi bangsa yang bersyukur atas nikmat kemerdekaan, persatuan, bangsa yang bersyukur bisa menjalankan ibadah dengan tenang di Indonesia ini sesuai dengan keyakinan masing-masing," katanya.
Kedua, kata Syauqillah, menghormati orang-orang tua yang terdahulu, yaitu dengan menghargai jasa para pendahulu, orang-orang tua dan bersyukur atas apa yang dimiliki serta apa yang dinikmati di Indonesia saat ini.
Oleh karena itu, dia berharap pemerintah, lembaga, dan badan bersama tokoh agama perlu bekerja sama dalam hal pengarusutamaan kompatibilitas Pancasila dan ajaran agama. (Ant/I-2)
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
INDONESIA bukan bangsa kecil. Ia lahir dari semangat, darah, dan cita-cita luhur: memerdekakan manusia dari ketakutan, kebodohan, dan ketidakadilan.
FORUM Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) merekomendasikan perlunya langkah tegas negara melalui revisi regulasi hingga pembentukan UU Anti-Intoleransi.
Menag Nasaruddin Umar menegaskan upaya mencegah intoleransi memerlukan sesuatu yang lebih kuat daripada peraturan pemerintah atau undang-undang. Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia
MENTERI Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Kementerian Agama akan bergerak cepat dalam menangani berbagai kasus intoleransi yang masih terjadi di sejumlah daerah.
MENTERI Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyatakan menyiapkan dua pendekatan agar insiden perusakan rumah doa di Padang, Sumatra Barat tak terulang
Keterlibatan aktif orang tua dalam komunitas pengawasan dinilai menjadi faktor kunci dalam memutus mata rantai penyebaran paham ekstrem.
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
Densus 88 mengungkap remaja 14 tahun di Jepara memiliki koneksi dengan pendiri kelompok ekstremis Prancis BNTG dan aktif di komunitas True Crime.
BNPT mencatat 112 anak Indonesia terpapar radikalisasi terorisme lewat media sosial dan gim online sepanjang 2025, dengan proses yang makin cepat di ruang digital.
Radikalisme dan intoleransi tidak bisa dilawan hanya dengan regulasi, tetapi dengan penghayatan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman etis bersama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved