Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Layanan Haji Dalam Negeri Kementerian Agama (Kemenag) Saiful Mujab membeberkan, hingga kini, masih ada sekitar 14.000 ribu calon jemaah yang tercatat yang belum melunasi pembayar ibadah haji. Meski demikian, Kemenag memberikan tenggat hingga 12 Mei mendatang.
"Dari waktu kita kasih pelunasan pada 11 April sampai dengan 5 Mei, yang belum sekitar 14.000 sekian. Kalau belum lunas ya otomatis tahun depan," kata Saiful kepada awak media di Asrama Haji Indramayu, Jumat (5/5).
Sedangkan, bagi jemaah yang masuk kuota tahun ini, jika belum melunasi akan diberi perpanjangan waktu sampai dengan 12 Mei. Namun kalau tidak ada konfirmasi juga, Kemenag akan menggeser kuota tersebut ke cadangan yang sebelumnya hanya 10%, sekarang jadi 15%.
Baca juga: 3 Alasan Vaksin Meningitis Penting untuk Jemaah Haji
Jadi nantinya, cadangan itu akan naik secara otomatis otomatis. Bagi mereka yang tahun ini tidak berkesempatan berangkat, berarti akan masuk kuota 2024 (berikutnya).
Di sisi lain, jemaah lunas tunda 2020 mencapai 2.500 orang dari 91.000 yang belum mengonfirmasi akan berangkat padahal sudah melunasi pembayaran sejak 2020. Namun, karena pandemi covid-19, tertunda keberangkatannya.
"Jadi untuk jemaah lunas tunda 2020 yang belum mengonfirmasi, karena mereka itu kan tidak wajib untuk membayar lagi sebagaimana keputusan. Keputusan itu tidak bayar lagi sampai tadi sekitar 2.500 dari 91.000 yang belum konfirmasi," pungkas Saiful.
Baca juga: Pelunasan Biaya Haji Diperpanjang Hingga 12 Mei 2023
Namun, Kemenag tetap yakin kuota haji tahun ini akan tetap memenuhi target karena sudah berusaha berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait agar jemaah segera melunasi pembayaran haji sehingga antrian tidak semakin menumpuk dan kesempatan bagi yang tertunda keberangkatannya, bisa dipercepat.
"InsyaAllah kuota terpenuhi, memenuhi target, karena kita sudah terus berkoordinasi dengan kemenag kota, kanwil dan bahkan menjemput bola. Artinya bukan sekedar menjemput tapi berkoordinasi dengan KBRI agar jemaahnya segera melunasi," tukas Saiful. (Z-1)
Para peserta mulai menemukan nilai-nilai penting seperti kedisiplinan, kegembiraan, dan kekompakan selama mengikuti pelatihan.
Pemahaman terhadap regulasi media sosial di Arab Saudi menjadi hal penting yang wajib ketuhui, baik oleh petugas maupun jemaah haji.
Jemaah haji diharapkan mulai membangun kebiasaan positif sejak dini untuk menghadapi perbedaan iklim dan aktivitas fisik yang berat di Arab Saudi.
Metode pendidikan dan pelatihan (diklat) dengan konsep semimiliter menjadi pendekatan baru dalam membentuk karakter petugas haji yang akan melayani jemaah.
Beberapa peserta diklat diketahui mengidap penyakit yang berisiko tinggi mengganggu tugas lapangan, seperti Tuberkulosis (TB) dan gangguan ginjal.
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) harus mampu menghadirkan layanan secara nyata di lapangan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved