Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITI Kesehatan Publik Harvard menemukan bahwa paparan polusi udara (PM2.5) dapat meningkatkan risiko demensia–kondisi perubahan genetik dan protein di otak. Kondisi ini menyebabkan hilangnya kemampuan memori dan penilaian dan Alzheimer merupakan bentuk demensia yang paling sering ditemukan.
Dengan menggunakan metode Risk of Bias In Non-Randomized Studies of Exposure (ROBINS-E), para peneliti melakukan pengumpulan data dengan memindai 2.000 hasil studi pada 10 tahun terakhir. Penelitian ini membahas gejala polusi udara dengan demensia klinis.
Hingga kini, terdapat 57 juta penderita demensia secara global. Diprediksi, angka ini akan terus bertambah hingga 153 juta pada tahun 2050 mendatang.
Baca juga: Polusi Udara Sebabkan Tingginya Angka Penyakit Pernapasan
Hasil studi ini menemukan, bahwa 40% dari kasus ini terjadi oleh faktor demensia yang terus termodifikasi, salah satunya merupakan berasal dari paparan polusi udara.
Kegiatan merokok juga menjadi salah satu faktor penyebab demensia yang bermodifikasi. Lebih lagi, kegiatan merokok juga lebih berpotensi menjadi faktor demensia dibanding polusi udara. Namun, secara kuantitas tingkat orang terpapar polusi udara. memang lebih tinggi.
Baca juga: Tekan Polusi Lewat Edukasi Pengemudi Ojol
“Mengingat angka penderita demensia yang tinggi, mengidentifikasi hal-hal yang berhubungan dengan faktor penyebab demensia menjadi penting untuk meringankan efek yang terjadi pada individu dan masyarakat, ungkap peneliti Institut Kesehatan Masyarakat Harvard Marc Weisskopf, dikutip dari laman Harvard.
Melansir dari laman Alzheimer Indonesia, pada tahun 2016, terdapat 1.2 juta orang pengidap demensia di Indonesia. Jumlah ini, diperkirakan akan terus naik menjadi 2 juta orang pada 2030, dan 4 juta orang pada 2050.
Indonesia Peringkat 26 Kualitas Udara Terburuk
Dilansir dari laman IQAir, Pada tahun 2022 Indonesia dinobatkan pada posisi 26 dengan kualitas udara terburuk di Dunia, 1 peringkat di bawah China. Dengan konsentrasi PM2.5 enam kali diatas ambang batas yang ditetapkan WHO.
PM2.5 merujuk pada polutan yang memiliki bentuk lebih kecil dari 2,5 mikrometer. Berbagai bentuk polutan yang memiliki ukuran lebih kecil dari batas tersebut sangat berbahaya.
Karena dapat memasuki paru-paru dan sistem peredaran darah. Akibatnya penyakit seperti kardiovaskular, penyakit pernapasan, bahkan kanker dapat terjadi.
Jakarta juga sering mendapat sorotan dalam perihal kualitas udara. Dalam laporan yang dikeluarkan oleh Greenpeace Indonesia, menyatakan 93% warga DKI Jakarta menghirup udara dengan kualitas yang buruk, dengan PM2.5 yang mencapai 25 mikrogram per meter kubik.
Dalam laporan yang dikeluarkan Dinas Lingkungan Hidup Jakarta pada tahun 2022, kendaraan bermotor masih menjadi penyumbang paparan polusi udara tertinggi di Ibu Kota.
Karbon monoksida (CO) yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor sebesar 28.317 ton atau 96%. Bukan hanya itu kendaraan bermotor juga menyumbang Non-methane volatile organic compounds (NMVOC) hingga 19.936 ton atau 98.5%.
Penelitian terbaru mengungkap bahaya lonjakan gula darah setelah makan terhadap kesehatan otak. Risiko Alzheimer meningkat drastis tanpa terlihat melalui kerusakan fisik otak.
SAMSUNG dikabarkan akan memperkenalkan sebuah teknologi yang mampu mendeteksi kesehatan otak dan deteksi dini demensia pada gelaran Consumer Electronic Show (CES) 2026.
Penelitian terbaru selama 25 tahun menemukan kaitan antara konsumsi keju tinggi lemak dengan penurunan risiko demensia. Simak fakta menariknya di sini.
peneliti di Swedia dan Republik Ceko pada 2023 menemukan faktor pemicu risiko demensia bahkan sebelum lahir
Risiko demensia tidak hanya berkaitan dengan faktor usia lanjut, tetapi bisa mulai terbentuk sejak masa kanak-kanak.
Manfaat kognitif ini dihasilkan karena olahraga meningkatkan aliran darah ke otak Anda, yang membantu melawan beberapa penurunan koneksi otak alami yang terjadi selama penuaan
Penelitian terbaru mengungkap bahaya lonjakan gula darah setelah makan terhadap kesehatan otak. Risiko Alzheimer meningkat drastis tanpa terlihat melalui kerusakan fisik otak.
Seorang remaja 19 tahun di Tiongkok didiagnosis penyakit Alzheimer tanpa mutasi genetik yang diketahui. Kasus langka ini mengubah pemahaman ilmuwan tentang usia dan mekanisme awal Alzheimer.
Peneliti berhasil mengembangkan protein sensor untuk melacak sinyal glutamat di otak secara real-time. Penemuan ini membuka tabir cara otak belajar dan memproses memori.
Penelitian terbaru selama 25 tahun menemukan kaitan antara konsumsi keju tinggi lemak dengan penurunan risiko demensia. Simak fakta menariknya di sini.
Mereka menyuntikkan tikus dengan senyawa pembawa hidrogen sulfida yang disebut NaGYY, yang secara perlahan melepaskan molekul gas tersebut ke seluruh tubuh.
Manfaat kognitif ini dihasilkan karena olahraga meningkatkan aliran darah ke otak Anda, yang membantu melawan beberapa penurunan koneksi otak alami yang terjadi selama penuaan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved