Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
Pengembangan industri pengolahan sampah menjadi salah satu kunci untuk menurunkan angka timbulan sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Saat ini sendiri, sampah yang dihasilkan masyarakat dan berakhir di TPA berjumlah 65%. Hal itu disampaikan oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Rosa Vivien Ratnawati.
"Kita butuh industrialisasi pengolahan sampah. Industri-industri yang dibangun anak-anak milenial itu, socioentrepreneurship itu, nilainya miliaran, loh," kata Vivien dalam Diskusi Pojok Iklim, Rabu (22/2).
Ia memberikan contoh beberapa industri pengolahan sampah yang telah dibangun anak-anak muda. Di antaranya industri pengolahan baju bekas yang kemudian dimanfaatkan untuk bahan baku pengendap dan juga industri pengolahan sampah makanan yang kemudian bisa diolah menjadi makanan baru ataupun kompos. Menurut dia, industri-industri itu perlu berkembang untuk mendukung rantan pengelolaan sampah di Indonesia.
"Dan dengan Badan Pengelola Dana Lingkungan (BPDLH) inilah yang harus menguatkan sociopreneurship di Indonesia dalam penanganan sampah. Saat ini ada lebih dari 200 sociopreneurship di Indonesia," ucap dia.
Ia juga menegaskan bahwa investor internasional maupun nasional mulai banyak berminat untuk memberikan pendanaan bagi usaha rintisan di bidang pengelolaan lingkungan, salah satunya pengelolaan sampah.
"Data Angel Investment Network indonesia menunjukkan ada 120 pendanaan kepada bisnis sosial sejak 2013. Sementara itu secara global menunjukkan bahwa startup yang berdampak sosial yang paling diincar investor adalah perusahaan yang berfokus pada perubahan iklim dan energi bersih. Investasinya berkontribusi lebih dari 5 miliar euro sejak tahun 2015," kata Vivien.
Baca juga: Metamorfosis Pengelolaan Sampah di Indonesia Dekade Terakhir
Terbaru, Vivien menyebut bahwa perusahaan startup pengelolaan sampah di Indonesia, Waste for Change, meraih pendanaan serie A senilai US$5 juta atau setara dengan Rp76 miliar.
"Hal ini semakin menegaskan bahwa investor mulai melirik model bisnis yang mengedepankan inovasi dalam memberikan solusi terhadap persoalan lingkungan, termasuk pengelolaan sampah," ucap Vivien.
Di sisi lain, Vivien menegaskan bahwa tugas masyarakat sebenarnya sangat mudah. Yakni hanya tinggal memilah sampah dari rumah. Baik sampah organik, nonorganik maupun limbah B3. Untuk sampah organik bisa dijadikan sebagai bahan baku kompos serta sampah nonorganik dan B3 bisa dipilah untuk dimanfaatkan industri dalam menciptakan bahan baku.
"KLHK gak bisa bekerja sendiri. Kita harus bekerja bersama dengan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha dan masyarakat. Kita ingin menguatkan rantai nilai pengelolaan sampah dan mewujudkan pengelolaan sampah menuju zero waste zero emission," ucap Vivien.
Dalam pengelolaan sampah sendiri, KLHK telah memiliki lini masa, yakni pada 2025 ditargetkan seluruh TPA dikelola dengan metode lahan untuk saniter dan memanfaatkan gas metan pada 2050. Lalu pada 2030 ditargetkan tidak ada lagi TPA baru. Lalu pada 2031 diupayakan tidak ada lagi pembakaran sampah liar dan pada 2040 diharapkan operasional TPA hanya diperuntukkan khusus sebagai pembuangan sampah residu. (OL-17)
Sudah cukup banyak kepala daerah yang bergerak cepat melakukan aksi kebersihan di wilayah masing-masing.
Kerja sama itu diharapkan bisa menangani masalah sampah sekaligus menghasilkan energi listrik.
Setiap kemasan plastik yang dipilah oleh warga dapat disetorkan ke bank sampah terdekat lalu dikonversi menjadi poin yang setara dengan tabungan emas di rekening tabungan emas Pegadaian.
PESISIR Kota Cirebon kembali dipenuhi tumpukan sampah. Kesadaran bersama diminta untuk bisa mengatasi permasalahan sampah. Tumpukan sampah terlihat di sepanjang pesisir pantai.
Kabupaten Banyumas dianggap telah berhasil mengelola sampah secara menyeluruh, mulai dari pemilahan hingga pemanfaatan akhir.
Setiap hari, Jakarta memproduksi sekitar 8.300 ton sampah yang harus dikelola secara berkelanjutan.
Menurut Menteri Lingkungan Hidup, Dr. Hanif Faisol Nuroqif, di tengah ancaman kepunahan berbagai satwa endemik, penyelamatan keanekaragaman hayati adalah prioritas
Volume besar itu tentunya memperparah tekanan terhadap lahan seluas 142 hektar yang sudah menampung sampah Ibu Kota selama lebih dari tiga dekade.
Dunia saat ini tengah menghadapi tiga ancaman serius yang disebut “Triple Planetary Crisis” oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pemerintah tekankan komitmen industri jalankan EPR demi kelola sampah plastik. Target 100% pengelolaan tercapai pada 2029 lewat kolaborasi multi-pihak.
KLHK melalui Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) menyegel empat perusahaan yang diduga terlibat dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
‘’Kolaborasi, termasuk dengan kerja sama dengan pihak swasta menjadi kunci untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif, bernilai ekonomis dan ramah lingkungan,”
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved