Selasa 03 Januari 2023, 07:30 WIB

Biofiltrasi untuk Peningkatan Kualitas Air Budi Daya Udang Putih

Prof Dr Gede Suantika Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, ITB | Humaniora
Biofiltrasi untuk Peningkatan Kualitas Air Budi Daya Udang Putih

Dok. ITB
Instalasi Biofilter.

 

PERIKANAN budi daya merupakan salah satu bagian penting dari pengembangan sektor perikanan di Indonesia. Aktivitas itu memberikan kontribusi ke tingkat nasional, ketahanan pangan, penciptaan lapangan kerja, dan pendapatan negara. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, produksi perikanan di Indonesia meningkat setiap tahun. Pada 2010 produksi perikanan di Indonesia sebesar 11.662 ribu ton dan meningkat menjadi 20.817 ribu ton pada tahun berikutnya.

Subsektor perikanan juga memiliki 10 komoditas ekspor strategis, salah satunya udang vannamei (udang putih). Provinsi Jawa Barat berada di peringkat ketiga produsen utama udang vannamei di Indonesia setelah Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jawa Barat berkontribusi sebesar 14,98% terhadap produksi udang vannamei nasional.

Kabupaten Subang merupakan salah satu wilayah dengan produksi udang vannamei terbesar di Jawa Barat. Luas lahan budi daya tambak potensial di kabupaten itu sekitar 14.300 hektare. Namun, hanya sebagian kecil lahan tambak yang dimanfaatkan. Berdasarkan data KKP, rata-rata produksi udang di wilayah ini sebesar 1,223,24 ton pada 2012. Besarnya potensi luas lahan budi daya tambak tersebut berimplikasi pada penetapan Kabupaten Subang, salah satunya Kecamatan Blanakan, sebagai wilayah implementasi program revitalisasi tambak udang dan industrialisasi udang vannamei oleh KKP yang dimulai pada akhir 2012.

Akan tetapi, beberapa tahun terakhir terjadi penurunan produksi udang di Kecamatan Blanakan. Adanya risiko produksi, antara lain diindikasikan dengan fluktuasi produktivitas yang cukup besar pada budi daya udang vannamei di kecamatan tersebut. Produktivitas udang vannamei di Kecamatan Blanakan pada periode April-Oktober 2013 sebesar 7,50 ton/hektare, meningkat menjadi 10,80 ton/hektare pada periode Oktober 2014-April 2015, tapi kembali menurun pada periode April–Oktober 2016 menjadi 9,53 ton/hektare.

Upaya peningkatan produksi perikanan budi daya tidak terlepas dari berbagai kendala yang menyebabkan produksi berfluktuatif. Dari berbagai kajian, diperoleh salah satu penyebab menurunnya produksi budi daya udang di pantai utara Jawa ialah menurunnya kualitas lingkungan perairan. Permasalahan kualitas sumber air yang digunakan dalam proses budi daya merupakan salah satu penyebab menurunnya produksi budi daya udang di Kecamatan Blanakan, Subang.

Permasalahan kualitas sumber air menjadi suatu tantangan serius dalam keberlanjutan produksi budi daya udang di kecamatan Blanakan. Kualitas air yang buruk akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kualitas udang yang dihasilkan sehingga dapat menurunkan kelulushidupan (survival) dari udang yang dibudidayakan.

Berdasarkan kondisi di atas, sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat, peneliti dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, ITB, pada 2022 melakukan kajian analisis tingkat keberlanjutan usaha budi daya udang vannamei di Kecamatan Blanakan. Menurut berbagai literatur, mengukur tingkat keberlanjutan suatu usaha dapat dilakukan dengan menilai indikator-indikator keberlanjutan yang kemudian dikonversi menjadi sebuah skala berdasarkan kriteria yang ditentukan secara saintifik.

Budi daya perairan yang berkelanjutan adalah budi daya yang memproduksi organisme perairan secara cost-effective sekaligus masih menjalin keharmonisan dengan ekosistem dan komunitas yang ada di lingkungannya, tetapi tetap profitabel sehingga dapat terus berjalan dan memberikan manfaat ke sekitarnya. Indikator-indikator yang dapat digunakan dalam menentukan tingkat keberlanjutan suatu budi daya perairan di antaranya indikator ekonomi, lingkungan, sosial, dan teknologi .

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan tim ITB pada salah satu lokasi tambak budi daya udang di Kecamatan Blanakan, dapat dijelaskan bahwa air yang digunakan untuk kegiatan budi daya hanya melalui treatment secara fisik, yakni dengan menggunakan filter fisik sebelum dialirkan di dalam tandon penampungan air. Kondisi itu menyebabkan air yang digunakan pada proses budi daya memiliki kualitas yang buruk karena beberapa parameter fisika-kimia air, seperti amonium, nitrit, dan nitrat, yang bersifat toksik terhadap udang, tidak difiltrasi/di-treatment sebelum digunakan untuk kegiatan budi daya.

 

Penyesuaian instalasi biofilter

Oleh karena itu, sebagai solusinya, instalasi teknologi biofilter yang dibangun disesuaikan dengan luasan kolam tandon (reservoir) yang digunakan sebagai tempat penampungan air sebelum dialirkan menuju kolam budi daya. Setelah dilakukan penyesuaian, selanjutnya dilakukan dengan inokulasi bakteri nitrifikasi yang berperan dalam mengonversi senyawa toksik, seperti amonium dan nitrit yang diubah menjadi senyawa nitrat. Pengondisian biofilter dilakukan selama satu minggu sebelum biofilter siap digunakan.

Selanjutnya dilakukan analisis kualitas air dan analisis komunitas mikroba untuk mengetahui kinerja biofilter dalam perbaikan kualitas sumber air budi daya. Sampling kualitas air dilakukan pada beberapa titik sampling, meliputi sumber air inlet (sebelum tandon), tangki biofilter, dan outlet biofilter yang selanjutnya dialirkan ke kolam tandon budi daya. Pengukuran kualitas air meliputi beberapa parameter fisika, kimia, dan biologis perairan.

Berdasarkan hasil pengukuran, kualitas air yang digunakan untuk kegiatan budi daya udang putih sebelum dilakukan pengolahan dengan biofilter berada pada kondisi yang kurang optimal. Air yang digunakan memiliki kandungan senyawa nitrogen tinggi (ammonium, nitrit, dan nitrat) sehingga dapat menurunkan produktivitas budi daya udang putih. Setelah dilakukan pengolahan air dengan biofilter, kualitas air budi daya mengalami peningkatan dan berada pada rentang optimal untuk kegiatan budi daya udang putih.

Setelah dilakukan pengolahan dengan biofilter, hasil analisis menunjukkan kualitas air berada pada kondisi optimal. Jadi, secara umum, dapat dijelaskan bahwa dengan adanya biofilter mampu meningkatkan kualitas air yang digunakan untuk kegiatan budi daya udang, yang meliputi parameter fisika maupun kimia perairan. (M-3)

 

Baca Juga

AFP

Vaksinasi Covid-19 Bayi 6 bulan Diberikan Triwulan Kedua, Gunakan Pfizer

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Jumat 27 Januari 2023, 23:45 WIB
VAKSINASI covid-19 untuk kelompok usia 6 bulan ke atas diperkirakan akan dimulai pada triwulan kedua 2023 karena mempertimbangkan kesiapan...
Antara

Pemerintah Galakkan lagi Program Posyandu Aktif di April 2023

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Jumat 27 Januari 2023, 22:45 WIB
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) akan menggerakkan kembali masyarakat agar mengecek kondisi bayi di posyandu melalui Program Posyandu Aktif...
MI/Susanto

Gerak Nuklir Sebagai Sumber Energi Terbarukan di Indonesia Terhambat karena Ini

👤Muhammad Anugrah Ramadhan 🕔Jumat 27 Januari 2023, 22:30 WIB
PEMANFAATAN nuklir di Indonesia diyakini menjadi salah satu sumber energi terbarukan yang potensial untuk bisa dimanfaatkan demi mencapai...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya