Jumat 11 November 2022, 08:45 WIB

Ikatan Dokter Anak Ajak Orangtua Jadikan Obat Jadi Pilihan Terakhir

Mediaindonesia.com | Humaniora
Ikatan Dokter Anak Ajak Orangtua Jadikan Obat Jadi Pilihan Terakhir

Freepik
Ilustrasi

 

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso mengajak para orangtua untuk menjadikan obat sebagai metode penyembuhan pilihan terakhir saat anaknya bergejala sakit.

"Prinsipnya, obat itu jalan terakhir, yang penting istirahat. Demam itu situasi kondusif, tidak perlu buru-buru, bisa dengan kompres hangat atau rendam air hangat, tapi lihat kondisi umum anak juga," kata Piprim di Jakarta, Jumat (11/11).

Ia mengatakan, bayi usia satu bulan yang mengalami demam menandakan ada sakit serius dan perlu dicari penyebabnya. Tapi jika di atas tiga bulan, badan hangat bisa pakai metode lain.

"Kalau anak demam tinggi bisa diberikan obat tablet yang dipecah, disesuaikan dengan berat badannya. Kalau demam tinggi bisa diberikan obat sesuai resep dokter," katanya.

Pernyataan itu disampaikan Piprim terkait dengan kebijakan pemerintah yang melarang penggunaan obat sirop di tengah proses penyelidikan kasus gangguan ginjal akut di Indonesia.

Secara terpisah, Wakil Ketua PP Ikatan Apoteker Indonesia sekaligus Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinik Universitas Padjajaran Prof Keri Lestari memberikan alternatif obat aman yang bisa dikonsumsi selama pemberlakuan larangan obat sirop. "Pilihannya sekarang cari aman ke puyer," katanya.

Jika anak tidak suka atau tidak terbiasa mengonsumsi puyer, karena rasanya pahit dan sering dimuntahkan, ia menyarankan orangtua membuat sirup dadakan dengan pemanis tambahan seperti madu. "Di sendok, dikasih air, dikasih madu. Sehingga anak merasa minum madu," katanya.

Ia juga meminta orangtua agar dapat mempertimbangkan memilih dokter anak yang bijak menimbang risiko dan manfaat dalam pemberian obat.

Sebelumnya, Peneliti Keamanan dan Ketahanan Kesehatan Global Dicky Budiman mengatakan terdapat sejumlah pelajaran penting yang perlu diambil dari kasus gangguan ginjal akut.

Dari sisi kebijakan pemerintah, yang perlu diperhatikan antara lain akuntabilitas kerja, transparansi data, dan manajemen data.

"Pelajaran yang kita ambil dari kasus gangguan ginjal akut ini adalah pentingnya good government," ujarnya.

Hal lain yang menjadi pelajaran adalah kepemimpinan, manajemen risiko dan komunikasi risiko. "Tiga hal itu hampir berlaku di semua negara. Tanpa ada penguatan, sebagus apa pun regulasi, tidak akan diterapkan," katanya. (Ant/OL-12)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Adwit B Pramono

6 Lokasi Proyek PESK Turunkan Penggunaan Merkuri

👤Naufal Zuhdi 🕔Rabu 07 Desember 2022, 13:08 WIB
"Melalui proyek GOLD-ISMIA, 6 lokasi proyek telah menurunkan penggunaan merkuri sebanyak 23 ton dan menghasilkan 3,3 ton emas hasil...
MI/Dwi Apriani

Target Stunting 14 Persen, Kemenkes Terapkan Pendekatan Gizi Spesifik

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Rabu 07 Desember 2022, 12:41 WIB
"Kita punya waktu hanya 2 tahun lagi sebelum akhirnya kita mencapai target stunting menjadi 14% di...
ANTARA/Yulius Satria Wijaya

Harbolnas Segera Tiba, Masihkan Festival Belanja Daring Menarik Perhatian?

👤Basuki Eka Purnama 🕔Rabu 07 Desember 2022, 12:30 WIB
Dilansir dari Nielsen Indonesia, nilai transaksi Harbolnas terus meningkat dengan rataan 52,5% setiap tahunnya hingga mencapai Rp9,1...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya