Rabu 02 November 2022, 19:05 WIB

Budaya Kritis Membaca di Media Sosial agar Terhindar Hoaks

Mediaindonesia.com | Humaniora
Budaya Kritis Membaca di Media Sosial agar Terhindar Hoaks

DOK Kemenkominfo.
Budaya kritis dan membaca di ruang digital sangat diperlukan agar kita tidak termakan informasi bohong di media sosial.

 

MEDIA sosial saat ini menjadi platform paling diminati untuk mencari informasi karena tidak mengenal batas ruang dan waktu. Semua orang bisa mendapatkan segala informasi dari belahan dunia manapun di media sosial dengan bebas. Tsunami informasi yang menyebar tidak terkendali seperti saat ini jika tidak ditanggapi dengan bijak bisa menyebabkan kegagalan dalam membedakan informasi yang fakta dan bohong. 

Komite Kampanye dan Publikasi Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Puji F Susanti mengajak pengguna media sosial untuk teliti dalam menerima informasi. "Jangan hanya membaca judul tetapi pahami semua isi suatu informasi yang kita terima. Selanjutnya cek sumber informasi serta perhatikan hak cipta dan copyright jika kita mengutip karya orang lain," jelas Puji dalam webinar tentang Budaya Membaca dan Kritis di Media Sosial yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bekerja sama dengan Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi, Rabu (2/11).

Budaya kritis dan membaca di ruang digital sangat diperlukan agar kita tidak termakan informasi bohong di media sosial. "Kritisi setiap informasi yang kita terima. Jika perlu, cari pembanding dari sumber yang lain. Usahakan cari informasi di media sosial dari media yang sudah jelas kredibilitasnya," katanya.

Dosen London School of Public Relations (LSPR) Okky Alparessi menyatakan budaya membaca di ruang digital diperlukan agar kita terhindar dari hate comments dan hate speech. "Jika kita membaca suatu informasi secara menyeluruh dan kita bersikap kritis, kita bisa terhindar dari komen negatif. Biasanya seorang melancarkan komentar negatif akibat terhasut oleh suatu informasi yang tidak dibaca dipahami dengan teliti," katanya. 

Okky mengimbau orangtua menjadi garda terdepan dalam menerapkan budaya membaca di media sosial. "Terapkan budaya membaca agar anak bisa kritis dalam menanggapi suatu informasi di media sosial. Jika membaca telah menjadi budaya, literasi di media sosial akan mudah diterapkan," jelasnya.

Ketua SubKomisi Media Baru Lembaga Sensor Film Indonesia Andi Muslim mengatakan untuk menghadapi penyebaran informasi media sosial saat ini harus lebih berhati-hati. "Kita harus cerdas dalam menyaring informasi agar dapat menangkal berita bohong di media sosial. Baca informasi yang kita terima dengan teliti dan periksa kebenaran informasi tersebut serta laporkan jika menerima suatu informasi yang terindikasi bohong," terangnya.

Andi mengajak pengguna media sosial untuk meningkatkan kecakapan digital agar terhindar dari berbagai berita bohong. "Kita bisa disebut cakap digital jika telah paham perangkat lunak dan perangkat kerasnya. Setiap kita diharapkan bisa mengoptimalkan penggunaan perangkat digital demi terciptanya ruang digital yang aman, nyaman, dan berbudaya," tuturnya. (RO/OL-14)

Baca Juga

Ist

Menteri BUMN Beri Motivasi Generasi Muda pada BEM UI Trilogy

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 05 Desember 2022, 20:34 WIB
Acara seminar, diskusi, dan pameran booth BUMN ini berlangsung selama dua hari pada 28–29 November 2022 dengan dihadiri langsung oleh...
ANTARA

Tradisi Natal di Indonesia

👤Meilani Teniwut 🕔Senin 05 Desember 2022, 19:31 WIB
Tradisi yang dirayakan di salah satu daerah di Jakarta ini, memang menjadi tradisi yang selalu dilakukan setiap tahunnya oleh warga Kampung...
Antara

30% Anak belum Divaksin Polio, Epidemiolog: Status KLB belum Bisa Dicabut

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Senin 05 Desember 2022, 18:45 WIB
Status KLB di Kabupaten Pidie, Aceh, dapat dicabut jika sudah tidak ada kasus polio. Saat ini, masih ada 29.277 anak yang belum mendapat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya