Rabu 21 September 2022, 20:09 WIB

Yudi Latif : Gaungkan Pendidikan Berkebudayaan, Memantik Kesadaran Keberagaman

Mediaindonesia.com | Humaniora
 

KEMAJUAN peradaban yang berkembang bukan tanpa celah, termasuk di Indonesia. Salah satu Pilar peradaban, kebudayaan, mencatat kian mengalami permasalahan yang cukup serius, terutama terkait terkikisnya nilai-nilai luhur kebudayaan. 

Berbagai catatan mengenai intoleransi, perundungan, dan kekerasan terjadi dan semakin berkembang dari tahun-tahun seiring dengan kemajuan peradaban itu sendiri.

Terbaru, data Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet di Indonesia yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat, terdapat 49% dari 5.900 responden  pengguna media sosial di Indonesia pernah mengalami cyber bullying. Padahal, pengguna media sosial di Indonesia terkini, lebih banyak dipenuhi oleh pengguna di rentang usia ‘anak muda’. 

Catatan iru menunjukkan, kebudayaan yang berkembang mengalami kemunduran sangat pesat. Nilai-nilai yang dianggap warisan luhur dari peradaban mencapai titik nadir, terkikis, adalah suatu fakta yang sulit dibantah.

“Potensi kemanusiaan kita diuji, salah satunya rasa kepada sesama manusia dan alam semesta.” Papar Linda Restaningrum, Asisten Deputi Pemberdayaan Pemuda Kemenko PMK RI, (21/9).

Merespon permasalahan tersebut, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UIN Syarif Hidayatulllah menyelenggarakan kuliah umum (public lecture) bersama Yudi Latif, salah seorang intelektual kini menjadi Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan/PSIK-Indonesia) dengan tajuk “Pendidikan Berkebudayaan: Melawan Intoleransi, Perundungan, dan Kekerasan di Kalangan Muda.”

“Ini (kuliah umum) menjadi sangat penting, mengingat peran pendidikan khususnya calon pendidik itu sangat krusial, bagaimana bisa mengurangi praktik-praktik yang tidak manusiawi, yaitu praktik kekerasan, perundungan, bullying, dan intoleransi.” Ungkap Sunaryo, Direktur Eksekutif Pusat Studi Islam dan Kenegaraan/PSIK-Indonesia).

Bekerja sama dengan Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan, dan Pemuda Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenkopmk), Pusat Kajian Islam dan Kenegaraan/PSIK-Indonesia, dan Friedrich Ebert Stiftung (FES), kuliah umum diselenggarakan di Ruang Teater Lantai 3, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (21/9) pagi.

Bersama Yudi Latif, permasalahan nilai-nilai kebudayaan di Indonesia mendapat sorotan yang cukup intensif. Kuliah umum yang berjalan penuh narasi kritik-konstruktif tersebut memandang, jalan keluar menuju revitaliasi kebudayaan, terutama kualitas manusianya, adalah menggunakan peta jalan pendidikan. 

Menurut Yudi Latif, kebudayaan di Indonesia sudah terlalu lama tidak diberikan kesempatan merasakan pembangunan. 

"Padahal, pembangunan adalah hakikatnya untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, yang berarti mengoptimalkan kapabilitas dan keberfungsian nalar manusia, jalan utamanya adalah pendidikan,” ujar Yudi Latif yang juga penulis buku Negera Paripurna tersebut.

Bersamaan dengan promosi buku terbarunya, “Pendidikan yang Berkebudayaan”, ia memantik kesadaran ratusan peserta kuliah umum untuk turut terlibat aktif dalam memperbaiki pendidikan di Indonesia. 

Menurutnya, memberikan perhatian kepada pendidikan sama artinya dan sama pentingnya dengan memperhatian kualitas manusia dalam suatu kebudayaan-peradaban.

Baca juga : Siswa MTSN 1 Tangsel Raih Medali Emas Kompetisi Robotik Tingkat Internasional

“Pendidikan adalah never ending proses, suatu rekayasa sosial untuk menciptakan manusia yang beradab.”jelasnya.

Narasi Yudi Latif mengenai pendidikan sebagai peta utama dalam memperbaiki kebudayaan dilontarkan bukan tanpa alasan. Menurutnya, Indonesia kini berada di posisi yang berpotensi saangat menguntungkan untuk memperbaiki dan membangun peradabannya. 

Ia menjelaskan, Indonesia diuntungkan selain karena letak geografisnya yang sangat strategis, juga human capital yang dimiliki Indonesia sangatlah besar, terutama mengenai bonus demografi yang sedang disandangnya saat ini

Wacana pendidikan yang berkebudayaan disampaikan dengan sangat komprehensif pada sesi kuliah umum tersebut. Yudi Latif seolah ingin menegaskan, pendidikan adalah jalan satu-satunya untuk memberbaiki peradaban yang semakin terpolarisasi dan dipenuhi narasi negatif yang intoleran. Baginya, pendidikan yang relevan dibutuhkan untuk saat ini adalah pendidikan yang berkebudayaan,

“Pendidikan di Indonesia terlalu mementingkan kognitif learning, padahal di tengah permasalahan hari ini, kita perlu membangun konsep pendidikan yang lebih dibutuhkan, yakni pendidikan berbasis nilai, pendidikan yang bisa mengolah nilai pada dasarnya adalah pendidikan yang berkebudayaan,” tegasnya.

Tidak hanya itu, pendidikan yang berkebudayaan mempunyai ciri yang khas dan sangat relevan dengan masalah yang disorot. Berbagai masalah seperti kebencian, ekslusvitas, intoleransi, perundungan, bahkan kekerasan akan terkikis dengan manusia-manusia yang mempunyai nilai fundamental yang luhur, semisal terbuka dan welas asih. 

Di titik itu, pendidikan yang berkebudayaan memainkan peran pentingnya, karena di sistem pendidikan ini, sesuai penegasannya, pendidikan tidak hanya mementingkan nalar tapi juga nilai.

“Pendidikan yang berkebudayaan tidak hanya menciptakan manusia yang bisa mengembangkan penalaran yang tinggi, melainkan juga menciptakan manusia yang mampu memandang dunia, nilai, dan keyakinan dengan lebih luas.” tambahnya. 

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Sururin mengatakan, kuliah umum itu dirasa sangat penting bagi masyarakat secara umum dan pelaku pendidikan secara khusus, terutama Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah sebagai penyelenggara.

“Acara ini sangat penting, semacam pencerahan, bagi kita civitas akademika dan calon pendidik, untuk memberikan pembekalan mengenai pendidikan yang penuh rasa kasih, kasih sayang, yang akan menjadi jawaban atas berbagai kasus yang selama ini terjadi.” ujar Sururin.

Oleh karenanya, konsep pendidikan yang dipopulerkan Yudi Latif tersebut, diharapkan mampu menciptakan kualitas manusia yang tidak individualistik. Sebaliknya, menciptakan manusia yang memegang nilai-nilai luhur, seperti keterikatan,  keterhubungan, dan keberartian secara komunal. 

"Melalui nilai-nilai tersebut akan mendorong terciptanya ruang-ruang perjumpaan sekaligus pemantik untuk terjadinya interaksi, pengkikisan prasangka, melebarkan inklusivitas, dan penanaman-penanaman nilai-nilai luhur sesuai dengan cita-cita kebudayaan dalam membangun peradaban sekaligus menjawab tantangan yang kini dihadapi," pungkas Sururin. (RO/OL-7)

Baca Juga

Freepik

Ingin Membuat Magnet? Ini Cara-Cara Paling Sederhana

👤Mesakh Ananta Dachi 🕔Kamis 29 September 2022, 12:30 WIB
Cara pertama untuk membuat magnet adalah dengan menggosokan magnet permanen dengan benda...
Dok. kemenparekraf

Pelatihan Sadar Wisata di Danau Toba, Kemenparekraf Dorong Kolaborasi Pentahelix

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 29 September 2022, 12:29 WIB
Dengan mengedepankan prinsip inovasi, adaptasi, dan kolaborasi pentahelix, diharapkan kegiatan ini bisa mendukung dan menggali potensi desa...
MI/HO

Gobel Terima Para Rektor Perguruan Tinggi di Gorontalo

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 29 September 2022, 12:29 WIB
“Gorontalo harus menjadi lumbung pangan dan dunia pendidikan harus sejalan dengan kondisi di wilayahnya serta rencana...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya