Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SIAPA yang tidak kenal dengan kerajinan batik? Warisan budaya Nusantara yang telah menjadi identitas dan kebanggaan insan Indonesia; tentunya sudah sepatutnya kerajinan ini diperjuangkan dan dijaga eksistensinya.
Namun pada faktanya, seiring dengan perkembangan zaman, batik perlahan mulai ditinggalkan oleh kebanyakan generasi muda yang cenderung lebih tertarik dengan pakaian-pakaian yang sedang trending seperti streetwear, contemporary fashion, dan lainnya.
Bagi mereka, batik cenderung dipandang terlalu formal, terlihat kaku, bahkan kolot, tidak sedinamis pakaian-pakaian trending yang sedang populer belakangan ini.
Baca juga : Bergaya Sambut HUT RI Sambil Lestarikan Budaya Pakaian Khas Indonesia
Memang perlu diakui, kebanyakan batik masih didominasi motif-motif lawasan dengan warna-warna yang cenderung gelap, sebuah kombinasi yang sudah tidak menarik lagi dimata kebanyakan generasi muda yang sekarang ini berani tampil lebih bold.
Melihat realita yang ada, banyak produsen batik segera berinovasi, mereka berlomba-lomba untuk memodifikasi batik dan mencoba menyesuaikannya dengan selera pasar yang kian modern.
Salah satu inovasi yang sering diadopsi adalah konsep fast fashion di mana produsen batik cap dan printing memadukan bahan batik dengan bahan lainnya untuk menciptakan beragam model pakaian batik secara kilat dengan looks yang lebih casual dan stylish serta harga yang kompetitif.
Strategi ini terbilang cukup sukses menggaet minat generasi muda yang memang sudah sangat fasih dengan trend fast fashion ini.
Baca juga : Rintis Usaha Batik dari Nol, Kini Christian Raup Omzet Ratusan Juta Rupiah
Namun sayangnya, strategi fast fashion ini tidak dapat dinikmati oleh seluruh produsen batik, khususnya pengrajin batik tulis yang memproduksi batik secara handmade seutuhnya dengan kualitas, dan detail terbaik.
Proses pengerjaan batik tulis sendiri bisa memakan waktu 3 hingga 6 bulan per lembar batik tulis.
Sehingga dari segi harga, proses, serta kualitas pun tidak memungkinkan untuk mengadopsi konsep fast fashion yang berfokus pada penciptaan beragam model sesuai dengan trend dalam waktu singkat.
Baca juga : Aplikasi Fashion Lokal Lili Style Disukai Jutaan Milenial dan Gen Z di Tanah Air
“Beda dengan teman-temen pengrajin cap atau printing, kalau mereka cenderung lebih produksi massal ya. Batik tulis ga mungkin seperti itu, jadi berat kalau disuruh ngikutin trend fast fashion," ungkap Abel Hesed, Founder Batik Wolter, salah satu brand batik tulis Ibu Kota Jakarta dalam keterangan, Rabu (7/9)
"Mau engga mau jadi kita harus punya strategi beda supaya tetep bisa relevan. Di situ akhirnya kita lebih mainin ke corak motif batiknya, dibuat lebih kontemporer sama pewarnaan dibuat lebih berani dengan warna-warna modern.” tutur Abel Hesed.
Abel mengakui cukup berat awalnya untuk beralih dari motif lawasan yang sudah sangat kental dengan image kerajinan batik, ke motif kontemporer yang sebetulnya berjauhan dari konsep batik klasik pada umumnya.
Baca juga : Bidik Gen Z, Brand Fesyen Obermain Kolaborasi dengan Smiley
Namun dengan pendekatan Batik Wolter yang lebih personal dan relevan bagi generasi muda, risiko yang diambil ini pun membuahkan hasil.
Batik tulis dengan motif-motif seperti singa, harimau, naga, elang, merak, cenderawasih pun tidak hanya diterima tapi bahkan digandrungi oleh pasar, terbukti dari jumlah pengikut Instagram @batikwolter yang telah mencapai 124 ribu followers.
"Bahkan hanya dalam 2 tahun belakangan saja, menjadikannya salah satu top of mind brand batik tulis Nusantara," jelasnya.
Baca juga : Desainer Laely Indah Kenalkan Fesyen Wastra Identitas Indonesia
“Ya engga nyangka juga sebetulnya, waktu itu cuma kepikir, ini daripada mati ditinggalkan, lalu punah, lebih baik kita nekat sedikit. Agak nabrak-nabrakga apa, yang penting kita coba dulu," jelasnya,
"Lebih baik mati mencoba dari pada pasrah saja. Ya berharap ini jadi awal yang baik untuk dobrak anggapan orang-orang tentang batik tulis, cenderung kaku, kolot, khususnya bagi yang muda-muda. Kita terus inovasi dan buktikan kalau batik tulis bisa stayrelevant supaya ini terus terjaga, ga punah, ga ditinggalkan sama generasi muda,” tutup Abel. (RO/OL-09)
Baca juga : Sambut Tahun Baru Imlek, Charles & Keith Tampilkan Sentuhan Brocade Modern
Pelajari sejarah panjang batik Indonesia, filosofi mendalam di balik motif populer, serta perbedaan teknik tulis dan cap. Warisan dunia yang diakui UNESCO.
Provinsi Jawa Tengah (Jateng) membuktikan posisinya sebagai sentra kerajinan unggulan nasional, khususnya batik.
Unity in Diversity: Celebrating Global Friendship through Art, Culture, and Food
Artijeda, Li-Uli, Miss Miniek, dan MM by Happy Gan, jenama-jenama anggota Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi) tampil dalam Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW)
Hari Batik Nasional 2025, Hotel Grandhika Pemuda Semarang berkolaborasi dengan Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang menggelar workshop dan pameran batik.
BENANG Bintik atau batik khas Kalimantan Tengah (Kalteng) tampil memukau dalam gelaran Jakarta Fashion Week (JFW) 2026. Wastra khas Bumi Tambun Bungai itu hadir di JFW.
Melalui kesepakatan ini, Tommy Hilfiger akan menjadi penyedia pakaian resmi bagi para pemain dan staf teknis Liverpool saat kedatangan di hari pertandingan (matchday arrivals).
Di kota-kota besar, tren warna cenderung mengalami penurunan saturasi agar terlihat lebih kalem.
Koleksi Raya ini terinspirasi dari keindahan Mediterania dan pesona Andalusia, diterjemahkan melalui permainan warna, motif, bahan, dan siluet yang menjadi ciri desain Ivan Gunawan.
Sepanjang tiga kuartal pertama 2025, total waktu yang dihabiskan pengguna di platform Roblox mencapai angka fantastis, yakni 88,7 miliar jam.
Zeta Bags memasuki babak baru melalui grand re-opening butik flagship dengan identitas segar bertema House of Zeta.
IDE.IND 2025 diikuti sejumlah jenama dari berbagai daerah yang telah mengikuti kegiatan akselerasi, pelatihan dan pendampingan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved