Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
KOLABORASI perguruan tinggi dan media massa memudahkan masyarakat menyerap bermacam informasi dari lembaga pendidikan. Terlebih bila menyangkut hasil-hasil penelitian, diharapkan para peneliti bisa menuliskannya dalam bahasa yang dipahami masyarakat.
"Kawan-kawan peneliti sudah jago kalau menulis untuk jurnal ilmiah. Jadi ini merupakan tantangan bagi kawan-kawan untuk menggali ilmu tentang penulisan artikel populer agar hasil-hasil penelitian tersebut bisa dibaca masyarakat," ujar Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat ITB Dr Ir Yuli Setyo Indartono, saat membuka pelatihan penulisan artikel populer dan opini melalui zoom di Bandung, Jawa Barat, Rabu (3/8).

Pelatihan yang merupakan kerja sama antara Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Harian Media Indonesia tersebut, diikuti 30 dosen dan tenaga kependidikan. Mereka mendapatkan materi penulisan dari jurnalis Media Indonesia Iis Zatnika dan Eko Suprihatno selama dua hari kegiatan. Peserta mendapat paparan bagaimana membuat sebuah tulisan yang bisa diterima khalayak umum. Selepas itu mereka diwajibkan menulis sebuah artikel untuk kemudian dibedah bersama-sama. Pemateri akan membantu mengarahkan para peserta membuat kalimat efektif dan diksi yang mudah dipahami.
Dialog interaktif selama pelatihan terjalin apik. Banyak pertanyaan diajukan peserta yang ingin mengetahui pola penulisan yang bisa dipahami khalayak.
"Pelatihan seperti ini sangat dibutuhkan kawan-kawan peneliti dan dosen. Ini meningkatkan semangat kami. Hal itu karena bisa mentransformasikan bahan-bahan yang ruwet ke bentuk tulisan yang dipahami masyarakat," ungkap Nurlaela Arief, dosen School of Business and Management (SBM) ITB.
Menurut praktisi kehumasan ini, menerjemahkan bahasa penelitian bukan perkara mudah. Pemilihan sudut pandang dalam tulisan pun memegang peran penting agar masyarakat tertarik membaca. "Ternyata masih banyak yang harus kami pelajari dalam hal tulis menulis ini," ujar Lala, sapaan akrab Nurlaela Arief. (RO/O-2)
Teknologi artificial intelligence yang semula sekadar alat yang bersifat pasif --semacam kalkulator yang menunggu instruksi-- menjadi AI yang bertindak sebagai kolaborator sejati.
Tidak ada makan siang gratis di dalam politik. Bantuan elite dan oligarki tentu menuntut balasan.
Pahit getir pembentukan negara tidak bisa dilepaskan pula dari derita luka dan sengsaranya rakyat. Nyawa rakyat lebih banyak musnah dibandingkan nyawa elite selama berjuang.
Empat langkah krusial tetap dibutuhkan agar kebijakan tidak berhenti sebagai respons sesaat.
Fenomena penghujat di masyarakat bukan hal baru. Dalam psikologi sosial ini disebut negativity bias: kecenderungan manusia lebih cepat melihat kesalahan ketimbang kebaikan.
Pertanyaan yang menyentak bukanlah apakah mungkin membubarkan lembaga DPR di alam demokrasi, melainkan mengapa anggota DPR minta tunjangan rumah Rp50 juta per bulan.
Beby mengungkap cerita dalam film Tolong Saya! (Dowajuseyo) lahir dari kejadian mistis yang ia alami saat menjalani kehidupan sebagai mahasiswa Indonesia di Korsel.
Banyak karya akademik yang ia tangani berubah menjadi buku yang lebih komunikatif dan dapat dibaca masyarakat luas.
IRCOMM Group menghadirkan program khusus bagi peneliti dan akademisi. Sebanyak 12 penulis terpilih yang berhasil submit dan lolos tahap editorial review akan mendapatkan sejumlah manfaat.
Menurut Oh Su Hyang, berbicara itu bukan hanya tentang menyusun kata tapi juga bagaimana berbicara itu bisa memikat orang atau bahkan bermakna bagi orang.
PENULIS asal Korea Selatan, Oh Su Hyang, yang dikenal lewat buku laris Bicara Itu Ada Seninya, ternyata punya kebiasaan yang luar biasa yaitu membaca hingga 70 buku setiap bulan.
Dikenal lewat bukunya yang populer Bicara Itu Ada Seninya, Oh Su Hyang ternyata punya masa kecil yang jauh dari kata mudah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved