Selasa 19 Juli 2022, 18:34 WIB

Epidemilog: Perhitungan Puncak Covid-19 Saat Ini Berbeda dengan Sebelumnya

M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora
Epidemilog: Perhitungan Puncak Covid-19 Saat Ini Berbeda dengan Sebelumnya

Antara
Warga melintasi mural terkait pandemi covid-19 di Mojosongo, Solo, Jawa Tengah.

 

UPAYA memperhitungkan masa puncak kasus positif covid-19 pada saat ini, berbeda dengan dengan masa puncak covid-19 sebelumnya. Sebab, masyarakat sudah memiliki kekebalan tubuh dan subvarian BA.4 dan BA.5 memiliki karakteristik mudah menyebar.

"Sebetulnya ada dua hal yang perlu diwaspadai dan dipahami terkait perkembangan subvarian Omikron dalam mencapai puncak. Tidak seperti sebelumnya, karena dalam prediksi puncak, banyak faktor yang harus dipahami," jelas epidemiolog dari Universitas Griffith Dicky Budiman, Selasa (19/7).

Adapun faktor pertama, lanjut dia, kompleksitas dari situasi pandemi covid-19 saat ini, yang membuat perhitungan tidak semudah sebelumnya. Mengingat, jumlah masyarakat yang memiliki imunitas atau divaksin covid-19 sudah lebih banyak.

Baca juga: 5.085 Kasus Covid-19 Terdeteksi Hari Ini

Akan tetapi, dengan variasi, durasi dan level proteksi yang beragam. Lalu, terdapat kombinasi dua vaksin reguler, namun terinfeksi covid-19, atau bahkan sudah dosis booster juga tetap terpapar.

Menurut Dicky, sejumlah faktor tersebut membuat perhitungan puncak kasus covid-19 tidak mudah. Ketika datang subvarian baru, maka akan dihadang benteng imunitas. Sehingga, kecepatan penularan covid-19 di kelompok yang berisiko perlu waktu.

Baca juga: Jangan Lengah, Subvarian Covid-19 BA.4 dan BA.5 Bisa Tulari Orang yang Sudah Divaksin

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa puncak kasus covid-19 di Indonesia ialah ketika kasus infeksi umumnya mencapai kelompok berisiko. Sebab, strategi testing covid-19 di Tanah Air masih terbatas. "Alhasil kasus yang terdeteksi masih sedikit," pungkasnya.

Kemudian faktor kedua, dalam konteks masyarakat berkembang, sehingga jika sakit atau terinfeksi covid-19, tidak langsung ke rumah sakit. Sekitar 70% masyarakat Indonesia diketahui cenderung minum obat dan tinggal di rumah, ketika mengalami sakit tidak terlalu berat.

Dicky menyebut ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yakni puncak kasus infeksi, kasus kesakitan dan puncak kematian akibat covid-19. "Kita harus melihat hati-hati dalam manajemen data dan testing, serta tracing yang perlu ditingkatkan juga," tuturnya.(OL-11)

Baca Juga

MI/HO

Pulihkan Ekosistem Pesisir, Sekjen KLHK bersama IKA PIMNAS Tanam Mengrove di Tana Tidung

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 14 Agustus 2022, 10:40 WIB
"Upaya pemulihan lingkungan melalui rehabilitasi mangrove ini menjadi agenda utama Bapak Presiden, sekaligus upaya untuk mengurangi...
MI/RAMDANI

Menerapkan Batas Saat WFH Bisa Beri Ketenangan

👤Basuki Eka Purnama 🕔Minggu 14 Agustus 2022, 10:30 WIB
Penerapan manajemen batas atau boundary managemen intinya memisahkan antara kehidupan personal dan...
DOK Sinar Mas Land.

Program Sampah Plastik Tukar Beras dari Sinar Mas Land Raih Penghargaan

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 14 Agustus 2022, 09:48 WIB
Plastic to Food merupakan bagian dari program edukasi cinta lingkungan Green Habit 2.0 yang diinisiasi oleh Sinar Mas Land berkolaborasi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya