Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
RASA kesepian dapat menimbulkan masalah gizi pada orang lanjut usia karena nafsu makan mereka menjadi berkurang. Hal itu dikatakan Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia Prof Siti Setiati.
"Lansia kita cukup banyak yang hidup sendiri. Kesepian membuat lansia malas makan," kata Siti di Jakarta, dikutip Sabtu (25/6).
Kesehatan mental adalah hal penting yang harus dijaga oleh setiap orang, termasuk lansia, karena keterasingan dan kesepian mempengaruhi keinginan untuk mengonsumsi makanan bergizi. Rasa sepi itu dapat mendorong lansia menghabiskan waktu dengan berdiam diri, seperti tidur atau menonton televisi.
"Kesepian menyebabkan orang kehilangan nafsu makan karena makan itu kegiatan sosial," jelas dia.
Baca juga: Benarkah Panti Jompo Solusi Agar Lansia tidak Kesepian?
Masyarakat diminta waspada bila tubuh lansia jadi semakin kurus dari waktu ke waktu, terutama bila pola makan yang diterapkan bukan untuk mengurangi berat badan.
Jika berat badan turun dalam kurun tiga bulan dan nafsu makan berkurang, ada kemungkinan terjadi gangguan nutrisi.
Di Indonesia, sebanyak 34,71% lansia tinggal bersama keluarga tiga generasi, nilai ini menurun sebesar 6% dari tahun sebelumnya.
Padahal berinteraksi dengan keluarga merupakan salah satu kunci penting dalam meningkatkan kualitas hidup lansia karena mereka memiliki kesempatan yang lebih besar untuk merasakan keterlibatan sosial yang dapat menghadirkan perasaan bahagia. Kondisi ini dapat menurunkan risiko lansia untuk merasa kesepian atau diabaikan.
Siti menyarankan agar lansia tidak hidup sendirian, melainkan tinggal bersama keluarga, seperti anak dan cucu, agar bisa terus berinteraksi dengan banyak orang dan mengusir risiko kesepian. Bila memungkinkan, dia menganjurkan tiga generasi hidup di atas atap yang sama agar lansia tidak merasa terasing atau ditinggalkan.
"Tapi tidak mudah karena di era sekarang anak-anak ingin mandiri dan itu tantangan," katanya.
Ia menegaskan yang penting harus ada interaksi antaranggota keluarga yang menciptakan kebahagiaan bagi para lansia. Interaksi bersama anak atau cucu dapat menyuntikkan rasa bahagia, membuat lansia lebih bersemangat untuk menjalani hari dan mengonsumsi makanan bergizi.
"Keterlibatan sosial itu salah satu faktor lebih penting dari gen. Orang panjang umur faktornya bukan semata-mata gen, tapi kebahagiaan penting untuk dibangun," papar Siti.
Ia berpesan kepada masyarakat agar tetap melibatkan lansia dalam aktivitas sehari-hari agar tidak merasa tertinggal, apalagi terisolasi. Berikan informasi dan hal-hal baru kepada lansia, ajaklah orangtua untuk memberikan pendapat dalam kehidupan sehari-hari, hingga bepergian bersama untuk menghibur diri di luar rumah.
Kondisi batin menjadi penting sebab fisik bukan satu-satunya faktor yang jadi indikator kesehatan. Siti menuturkan, sehat adalah ketika semua aspek seimbang, mulai dari fisik, mental, sosial dan juga spiritual.
Dari sisi kesehatan fisik, Siti menjelaskan lansia membutuhkan nutrisi yang seimbang dengan karbohidrat, protein dan juga mineral. Protein adalah yang utama untuk para lansia. Sebab, lansia membutuhkan asupan gizi untuk menjaga kualitas otot dan kesehatan tubuh.
Ia mengingatkan lansia untuk tetap beraktivitas fisik secara rutin setidaknya 150 menit setiap pekan, seperti berjalan kaki atau berenang. Olahraga sambil mengangkat beban untuk meningkatkan kekuatan otot juga disarankan.
Namun, semuanya tetap disesuaikan dengan kondisi lansia. Bila memang ada keterbatasan fisik, seperti hanya bisa duduk di kursi roda atau berbaring di tempat tidur, bergerak bisa dilakukan sebisanya. (Ant/OL-1)
Mahasiswa tetap bisa memenuhi kebutuhan gizi meski dengan anggaran terbatas.
Nutrisi seperti vitamin C, vitamin E, antioksidan, dan asam lemak sehat berperan penting dalam mendukung fungsi imun agar tubuh lebih tahan terhadap virus dan bakteri penyebab flu.
Susu sejatinya berfungsi sebagai bagian dari makanan lengkap atau sekadar makanan selingan, terutama saat sarapan.
Penerapan gizi seimbang memiliki dampak langsung pada kesehatan saluran cerna. Asupan yang tepat akan menjaga keseimbangan bakteri baik (mikrobiota) di dalam usus.
Kunci utama dalam menyiasati keterbatasan biaya adalah dengan mengoptimalkan bahan makanan lokal dan musiman yang lebih terjangkau.
Penelitian menunjukkan bahwa kadar mineral seperti kalium, magnesium, fosfor, dan mangan pada terong dilaporkan meningkat setelah dibakar.
Makanan yang sejak awal sudah diolah dengan suhu tinggi, seperti digoreng atau dibakar, sangat rentan mengalami degradasi nutrisi jika kembali terkena panas.
Sejumlah jenis makanan tidak dianjurkan untuk dipanaskan berulang kali karena dapat merusak zat gizi dan bahkan memicu pembentukan senyawa berbahaya bagi kesehatan.
Meski tidak ada makanan yang bisa menjadi obat instan, para ahli sepakat bahwa pola makan sehat berperan penting dalam menjaga dan memperkuat sistem kekebalan tubuh.
Dengan tekstur yang lebih padat, kucing bisa mendapatkan asupan gizi yang lebih konsentrat meski dalam satu suapan kecil sekalipun.
Kemunculan ambeien sangat erat kaitannya dengan kebiasaan sehari-hari yang kurang baik.
Makanan kaleng dengan kemasan rusak tidak layak konsumsi karena membawa risiko kesehatan yang serius.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved