Kamis 19 Mei 2022, 07:10 WIB

Gebrakan UGM dan Japelidi Memperkuat Literasi Digital

Novi Kurnia | Humaniora
Gebrakan UGM dan Japelidi Memperkuat Literasi Digital

Dok. UGM
Peneliti UGM, Novi Kurnia, memfasilitasi kegiatan diskusi kelompok terarah (FGD) Tular Nalar untuk Lansia di Wonosobo, Jawa Tengah, Februari

 

KEHADIRAN internet dan media digital dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia sudah tak terelakkan lagi. Data Hootsuite (We Are Social) Januari 2021 mencatat 73,7% masyarakat di Tanah Air ialah pengguna internet aktif. Akses internet mereka rata-rata 9 jam per hari dengan 3 jam lebih untuk mengakses media sosial.

Internet dan media digital sejatinya mempunyai sisi baik dan menawarkan banyak peluang. Peningkatan pelayanan publik, pembelajaran daring, pemberdayaan sosial, partisipasi politik, pembangunan ekonomi, jurnalisme warga, dan produksi konten kreatif ialah di antara manfaatnya.

Di lain sisi, sayangnya, masih banyak masyarakat yang gagap digital karena belum mampu melawan tantangan digital dan memanfaatkan internet secara optimal. Karenanya, terjadilah hoaks, ujaran kebencian, perundungan siber, radikalisme, intoleransi, kekerasan, dan pornografi.

Tantangan bermedia digital tersebut tak mudah ditaklukkan. Tidak sopannya netizen seperti dilaporkan Miscrosoft pada 2020 ialah persoalan serius yang perlu ditangani. Kejahatan siber, penipuan digital, ataupun kebocoran data pribadi ialah problem keamanan digital yang tak mudah diatasi.

Semua problem tersebut bisa dimaklumi karena indeks literasi digital masyarakat Indonesia masih sedang, seperti temuan riset Japelidi 2019, Katadata Insight Center, serta Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) 2020. Literasi digital ialah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.

Penguatan literasi digital perlu dipercepat dalam kerja kolaborasi pemerintah, institusi pendidikan, media, platform media, maupun organisasi atau berbagai komunitas masyarakat sipil. Tantangan itulah yang mendasari keterlibatan saya dalam kerja-kerja penguatan literasi digital nasional, baik melalui UGM maupun Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) untuk berkontribusi membangun ekosistem digital yang tangguh.

 

Persoalan masyarakat digital

 Persoalan masyarakat digital sangat beragam, tapi berdasarkan Peta Jalan Indonesia Digital 2021-2024, Kemenkominfo menetapkan empat pilar literasi digital yang perlu dibangun, yaitu cakap bermedia digital (digital skills), budaya bermedia digital (digital culture), etis bermedia digital (digital ethics), dan keamanan digital (digital safety).

Digital skills merupakan dasar dari kompetensi literasi digital, berada di domain ‘single, informal’. Digital culture sebagai wujud kewarganegaraan digital dalam konteks keindonesiaan berada pada domain ‘kolektif, formal’. Di sini kompetensi digital individu difungsikan agar mampu berperan sebagai warga negara dalam batas-batas formal yang berkaitan dengan hak, kewajiban, dan tanggung jawabnya dalam ruang ‘negara’.

Digital ethics sebagai panduan berperilaku terbaik di ruang digital membawa individu untuk bisa menjadi bagian masyarakat digital, berada di domain ‘kolektif, informal’. Digital safety sebagai panduan bagi individu agar dapat menjaga keselamatan dirinya berada pada domain ‘single, formal’ karena sudah menyentuh instrumen-instrumen hukum positif.

 

Kerja literasi digital UGM 

Departemen Ilmu Komunikasi (Dikom) UGM merupakan salah satu departemen ilmu komunikasi di Indonesia yang terdepan dalam melihat pentingnya penguatan literasi digital. Crafting well-informed society atau menciptakan masyarakat yang terinformasi ditetapkan sebagai visi yang diterjemahkan dalam kurikulum pengajaran, riset dan publikasi, serta pengabdian masyarakat.

Sejak 2016 mata kuliah literasi media dimasukkan dalam kurikulum program sarjana. Selanjutnya, dari 2017 mata kuliah literasi digital dimasukkan dalam kurikulum pengajaran untuk program master. Isu literasi digital juga dibahas di mata kuliah lain. Sesuai dengan tridarma perguruan tinggi, Dikom UGM juga selalu mengupayakan kerja sama dengan berbagai pihak.

Dikom UGM juga menginisiasi riset literasi digital. Pada 2017, saya meneliti tentang literasi digital keluarga yang diterbitkan dalam dua buku: Literasi Digital Keluarga: Teori dan Praktik Pendampingan Orangtua terhadap Anak dalam Berinternet dan Yuk, Temani anak Berinternet!. Riset yang dibantu Wisnu Martha Adiputra, Engelbertus Wendratama, dan Intania Poerwaningtyas itu juga menghasilkan dua videografis.

Pada 2018, saya dan beberapa dosen Dikom (Rahayu, Syafrizal, Wisnu Martha Adiputra, Zainuddin Muda Z Monggilo, Wisnu Prasetya) berkolaborasi dengan PR2Media dan Jogja Medianet memenangi Whatsapp Misinformation and Social Science Research Award 2018. Riset itu memetakan kompetensi literasi digital perempuan di lima kota Indonesia (Yogyakarta, Jakarta, Makassar, Aceh, dan Jayapura) dalam menavigasi hoaks dan ujaran kebencian. Penelitian tersebut dilanjutkan pelatihan untuk perempuan melawan hoaks Pilkada 2020 didanai Whatsapp/Facebook. Kedua program itu menghasilkan 3 buku dan 9 video pelatihan.

Sebagai lanjutan penerbitan panduan literasi digital serial Yuk sejak 2018 hingga 2020, Dikom UGM melalui Program Studi Magister Ilmu Komunikasi yang saya pimpin waktu itu mengeluarkan lima buku panduan literasi digital bekerja sama dengan Japelidi dan Siberkreasi. Buku-buku tersebut digunakan untuk materi pengabdian sosial baik luring maupun daring sebagai kolaborasi antara dosen dan mahasiswa ataupun pemangku kepentingan lain.

Pada 2019, saya memimpin tim Dikom UGM (Kuskrido Ambardi, Rahayu, Zainuddin Muda Z Monggilo, Engelbertus Wendratama) untuk bekerja sama dengan UNESCO dalam menerjemahkan buku Journalism, Fake News and Disinformation. Kami juga menulis buku pendamping untuk konteks Indonesia.

Tak hanya membangun keterkaitan antara pengajaran, riset, publikasi, dan pengabdian masyarakat, saat saya memimpin Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, Dikom UGM memfasilitasi dan menjadi bagian dari lahirnya Japelidi. Ia salah satu komunitas literasi digital yang mempunyai banyak kegiatan yang bersifat kolaboratif.

 

Baca Juga

Ist

Kemenkominfo Ajak Masyarakat Bermedia Digital dengan Baik

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 07 Juli 2022, 00:01 WIB
Dr. Meithiana Indrasari, S.T., MM, mengtaakan di dalam dunia digital, digitalisasi budaya dalam jati diri kita dalam ruang digital tidak...
MI/SUSANTO

Jemaah Bersiap Melaksanakan Puncak Ibadah Haji Kamis Pagi

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 06 Juli 2022, 23:30 WIB
Perjalanan haji dimulai dari maktab atau hotel jemaah tinggal, sudah mandi, berpakaian ihram dan niat haji kemudian diberangkatkan mulai...
Freepik.com

Literasi Digital Dapat Mengurangi Perundungan Digital

👤Mediandonesia.com 🕔Rabu 06 Juli 2022, 23:06 WIB
Sekretaris Digimom Indonesia May Safitri memaparkan, remaja menjadi salah satu target atau korban utama dari perundungan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya