Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PENCEGAHAN stunting harus dimulai dari lingkungan keluarga. Namun sayangnya, kesadaran orangtua terhadap kebutuhan gizi anak pada umumnya masih rendah. Hal itu diperkuat oleh tingkat literasi gizi masyarakat yang juga rendah. Sebagaimana diketahui, survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019 menempatkan Indonesia pada posisi 62 dari 70 negara atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah.
Hal tersebut mengemuka dalam webinar edukasi gizi yang diselenggarakan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama Majelis Pendidikan Dasar dan Menangah (Dikdasmen) PP Aisyiyah, Senin (18/4). Kegiatan edukasi gizi tersebut dihadiri oleh sekitar 500 guru PAUD dari seluruh Indonesia. Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah Prof. Dr. Maysitoh Chusnan, M.Ag dalam kesempatan itu mengatakan bahwa guru PAUD penting untuk memahami literasi gizi. Soalnya, PAUD menjadi lingkungan yang dapat memantau gizi dan pertumbuhan anak selain keluarga. Selain itu, guru PAUD diharapkan dapat menjadi penyambung edukasi gizi untuk orangtua.
"Guru yang cerdas literasi gizi itu dapat melihat kualitas makanan, baik yang dibawa oleh anak muridnya maupun yang disediakan oleh sekolah. Dengan demikian terciptalah keseimbangan gizi berawal dari lingkungan terdekatnya yakni madrasah formal (PAUD). Perlu digarisbawahi, kualitas makanan yang baik itu tidak melulu mahal, tetapi gizi seimbang," jelas Maysitoh Chusnun.
Ketua Majelis Dikdasmen PPA Dra. Fitniwilis M.Pd mengatakan pihaknya akan terus mendukung edukasi gizi untuk keluarga mengingat saat ini masih banyak masyarakat yang tidak paham mengenai asupan gizi yang tepat untuk anak. Hal itu terlihat dari masih maraknya penggunaan susu kental manis sebagai minuman susu untuk anak. "Banyak orangtua masih belum bisa membedakan susu dan kental manis. Karena itu, tepat memulai edukasi gizi dari PAUD," ujar Fitniwilis.
Anggota IDAI Dr. Cut Nurul Hafifah, Sp. A(K) mengakui pandemi covid-19 yang terjadi dalam dua tahun ini berpotensi meningkatkan angka stunting. Soalnya, selama pandemi hanya 19,2% posyandu yang aktif melakukan pemantauan gizi dan tumbuh kembang anak. Padahal deteksi dini terhadap gizi anak merupakan kunci untuk penurunan angka stunting.
"Stunting tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui beberapa tahap yang dapat dilihat dan dideteksi secara dini. Pasti ada growth falteringnya atau indikasi gagal tumbuh terlebih dahulu. Usia paling sering terjadi ada pada usia 3 sampai 18 atau 24 bulan," ujar dokter spesialis anak ini.
Oleh karena itu, Cut Nurul berharap banyak terhadap PAUD dapat menjadi agen pendeteksi dini kondisi anak, terutama gizi anak. "PAUD harus memperhatikan komposisi menu makan siang untuk muridnya, wajib mengandung beberapa unsur berikut yakni karbo, lemak, protein, dan sayur dalam jumlah secukupnya. Protein terbaik untuk tumbuh kembang anak yaitu susu. Susu merupakan alternatif sumber protein hewani yang bisa diberikan untuk anak untuk mengantisipasi keterpenuhan protein anak. Ada anak yang susah makan telur, makan daging, atau protein lain, sehingga untuk mencukupi kebutuhan proteinnya sebaiknya diberikan susu fortifikasi," jelas Cut Nurul.
Baca juga: Kaktus pun tidak Tahan Hadapi Pemanasan Global
Senada dengan Cut Nurul, ahli gizi dan praktisi pendidikan Prof. Dr. Ir. Netti Herawati, M.Si mengatakan aksi kolaborasi seluruh pihak dalam rangka meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang gizi anak melihat PAUD menjadi elemen penting yang dapat menjembatani antara orangtua dan anak. Selain itu, PAUD berperan sebagai lingkungan terdekat kedua bagi anak selain rumah atau keluarga. Karenanya, PAUD menjadi tempat tepat menanamkan pemahaman tentang makanan dan minuman yang bergizi untuk anak. (RO/OL-14)
Kolaborasi ini bertujuan memutus sekat informasi dan menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas melalui konten edukasi yang ringan dan menghibur.
Program tersebut nantinya jika memang memberikan dampak yang nyata akan dibuatkan sebagai program nasional oleh pemerintah.
Kegiatan yang diikuti oleh 500 anak perwakilan dari 250 lembaga sekolah se-Kota Kediri tersebut diisi dengan bernyanyi dan melakukan sejumlah permainan motorik.
Di tengah arus globalisasi dan penetrasi teknologi digital, muncul kekhawatiran baru, apakah anak-anak Indonesia masih tumbuh dengan akar budaya, alam, dan kearifan lokalnya sendiri?
ISTRI Wapres Gibran Rakabuming Raka, Selvi Ananda mengungkapkan bahwa pemerintah menyiapkan Rp5,1 triliun untuk Bantuan Operasional Penyelenggaraan PAUD 2026.
ISTRI Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka, Selvi Ananda menegaskan pentingnya pendidikan anak usia dini (PAUD) sebagai fondasi utama pembentukan karakter.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved