Senin 11 April 2022, 09:10 WIB

Ibu Diingatkan tidak Langsung Beri ASI Saat Bayi Menangis

Basuki Eka Purnama | Humaniora
Ibu Diingatkan tidak Langsung Beri ASI Saat Bayi Menangis

Freepik
Ilustrasi

 

BAYI yang menangis sebaiknya tidak langsung diberi ASI. Hal itu dikatakan Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo Prof Damayanti R Sjarif.

"Anak yang nangis tidak boleh langsung disusuin. Kita mesti tenangkan dulu. (Kalau dia masih nangis diberi ASI) bisa keselek ya. Sesudah itu baru kita lihat ada tandanya dia lapar baru kita kasih (ASI)," kata dia dalam sebuah acara kesehatan yang digelar daring, dikutip Senin (11/4).

Prof Damayanti, yang menjabat sebagai Ketua Satgas Stunting dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), mengatakan ibu harus benar-benar memperhatikan kapan anak mereka lapar dan membutuhkan ASI. Nantinya, setiap anak mempunyai jadwal tersendiri untuk diberikan ASI.

Baca juga: Ingin Lancar Menyusui Selama Berpuasa? Jangan Lewatkan Sahur

"Nanti anak punya jadwal tersendiri nah ibunya harus memperhatikan. Jangan nunggu anak sampai teriak-teriak kelaparan. Jadi, setiap anak punya jadwal sendiri-sendiri," kata dia.

Selama pemberian ASI, ibu juga perlu memperhatikan ada tidaknya kondisi weight faltering yakni kenaikan berat badan anak yang tidak cukup atau di bawah rata-rata dari kenaikan berat badan minimal setiap bulannya.

Jika ditemukannya kondisi ini, ibu perlu segera memperbaiki cara menyusuinya sembari berkonsultasi ke dokter. 

Nantinya, dilakukan evaluasi 1-2 minggu. Bila tidak membaik maka anak harus dirujuk mengingat adanya kemungkinan dia mengalami penyakit tertentu termasuk infeksi.

"Kalau weight faltering dibiarkan saja nanti jadi stunting," kata Prof Damayanti.

Berbicara asupan gizi, khususnya pada anak di bawah usia 2 tahun, yang umumnya masih mendapatkan ASI, protein hewani, misalnya dari sumber telur, ikan, dan ayam kemudian lemak dan karbohidrat menjadi penting.

"Komposisi ASI dan komposisi otak persis, 60% lemaknya. Jadi jangan kasih makanan yang tidak ada lemaknya. ASI dikasih lemak 60%. Yang namanya makanan untuk bayi sampai tumbuh 80% otaknya di 2 tahun adalah komposisi ASI. Jadi harus ada lemak 60%, protein sekitar 10-15% dan karbohidrat," jelas Prof Damayanti.

Lebih lanjut, sayur dan buah tidak ikut membentuk otak, tetapi tetap harus dikenalkan setelah anak berusia 2 tahun. Sementara asupan lemaknya diturunkan jumlahnya.

"Jadi, sesudah (usia 2 tahun) itu, maka turun(kan) lemaknya, dikasihlah sayur dan buah. Tetapi bukan ujug-ujug 3 tahun dikasih sayur buah terus dia mau, kan harus dikenalkan. Porsinya juga kecil-kecil, bukan porsi orang dewasa yang dikecilkan," demikian pesan Prof Damayanti. (Ant/OL-1)

Baca Juga

Ist/Sinar Mas Land

Pelatihan Program Berantas Buta Al-Qur’an 2022 Dikuti 150 Ustaz dan Guru Ngaji

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 06 Februari 2023, 18:17 WIB
Sinar Mas Land melalui Yayasan Muslim Sinar Mas Land memberikan pelatihan atau Training of Trainers (ToT) cara cepat membaca...
Ist/Sinar Mas Land

Yayasan Muslim Sinar Mas Land Gelar Program Berantas Buta Al-Qur’an

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 06 Februari 2023, 18:09 WIB
Di bulan suci ini, Sinar Mas Land melalui Yayasan Muslim Sinar Mas Land (YMSML) menginisiasi sebuah program cara cepat membaca...
Ist/Sinar Mas Land

Yayasan Muslim Sinar Mas Land Gelar Lomba Baca Al-Qur'an di Balipapan

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 06 Februari 2023, 18:00 WIB
Lomba membaca Al-Qur’an yang diselenggarakan Yayasan Muslim Sinar Mas Land diikuti 300 peserta yang terdiri dari usia 6-15...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya