Selasa 05 April 2022, 12:45 WIB

Konsumsi Obat Tradisional, Segar Sesaat Lalu Sekarat dan Wafat

Atalya Puspa | Humaniora
Konsumsi Obat Tradisional, Segar Sesaat Lalu Sekarat dan Wafat

dok.Ant
Petugas menyusun obat dan kosmetik yang mengandung bahan kimia berbahaya sebelum konferensi pers di gedung BPOM, Jakarta, akhir tahun 2021.

 

SEMULA suami Rini mencoba suplemen jamu kesehatan untuk mengobati lelah dan letih yang dirasakannya setiap hari. Suplemen itu diperkenalkan dari kakaknya. Bukannya tubuh bugar yang didapat, justru suami Rini malah sekarat sebelum meninggal.

"Awal konsumsi itu dia (suami) merasakan banyak perubahan baik dalam tubuhnya. Badan menjadi enak, segar. Dan akhirnya terus belanjutlah ia mengkonsumsi itu sehari 4 kapsul selama dua tahun," tutur Rini dalam Webinar Bertajuk Bahaya Obat Tradisional Mengandung Bahan Kimia Obat yang diselenggarakan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), Selasa (5/4).

Rini mengaku, suplemen jamu teresebut bisa dengan mudah ditemukan di warung dan pasar dengan harga yang terjangkau. Karenanya, suami Rini terus saja mengkonsumsi suplemen tersebut.

Tapi rupanya, kondisi baik suami Rini tidak bertahan lama. Kurang lebih 1,5 tahun setelah mengkonsumsi suplemen jamu itu secara rutin, suami Rini memutuskan untuk berheti. Tak disangka-sangka, efek buruk langsung timbul setelahnya.

Suaminya jadi sering sesak napas. Padahal Rini tahu betul bahwa suaminya menjalani gaya hidup sehat. Tidak merokok, sering berolahraga dan tidak pernah bergadang. Pun, suaminya tidak pernah memiliki riwayat penyakit asma.

"Setelah check up ternyata mengarah ke penyakit jantung. Jantungnya diketahui mengalami pembengkakan. Katupnya 70% tidak berfungsi. Paru-parunya pun dipenuhi cairan. Dan itu yang membuat kondisinya semakin menurun," beber Rini.

Dokter mengatakan, penyakit suaminya disebabkan oleh mengkonsumsi obat-obatan yang mengandung bahan kimia berbahaya. Tak lama setelah itu, suaminya pun harus berpulang karena komplikasi penyakit yang dideritanya.

"Pesan saya, lebih berhati-hati lagi kalau mau minum obat tradisional. Karena ada oknum yang masih nakal di luar sana yang menggunakan bahan kimia obat yang berbahaya bagi kesehatan tanpa memikirkan kesehatan pembeli," tandas dia.

Diakui Dokter Spesialis Penyakit Dalam Desca Medika Hertanto, suami Rini bukanlah satu-satunya orang yang menjadi korban dari penggunaan obat tradisional yang mengandung bahan kimia yang berbahaya.

Ia pun pernah menemukan satu kasus, di mana ada seorang anak muda yang rutin mengkonsumsi jamu yang telah dicampur bahan kimia obat secara rutin untuk meningkatkan kebugaran. Namun demikian, setelah beberapa tahun kemudian, baru dirasakan efek buruk. Yang paling terasa ialah tubuh pasiennya semakin hari semakin lemas.

"Setelah dicek ternyata dia sudah gagal ginjal terminal. Kalau sudah seperti itu bagaimana? Produktivitas pasti akan turun. Harus cuci darah seminggu dua kali. Coba bayangkan berapa banyak waktu dan uang yang terbuang," ungkap dia.

Pada dasarnya, Desca mengakui bahwa jamu tradisional memiliki manfaat yang bagus bagi tubuh. Banyak penelitian yang sudah membuktikannya. Namun akan menjadi berbahaya apabila jamu tersebut dicampur dengan bahan kimia obat.

"Misalnya jamu A dimasukkan obat A. Obat A ini manfaatnya untuk demam. Tapi orang-orang sehat yang pegal-pegal atau lemas mengkonsumsi obat demam itu, padahal mereka tidak demam. Memang mungkin awalnya akan timbul perasaan nyaman, enak. Tapi kalau terus-menerus akan timbul efek samping yang tentu tidak kita inginkan," jabar dia.

Bahaya mengkonsumsi jamu herbal yang mengandung bahan kimia obat berpotensi melukai organ jantung, ginjal dan liver. Terlebih saat orang mengkonsumsinya dalam jumlah banyak dan secara rutin.

Beberapa ciri yang bisa dikenali, yang merupakan efek buruk dari penggunaan jamu berbahan obat kimia diantaaranya ialah lemas, mual, muntah, BAB menjadi hitam. Untuk orang yang sudah terlanjur mengkonsumsi suplemen atau obat tradisional namun merasakan efek samping, Desca menyarankan agar segera pergi memeriksakan diri ke dokter.

"Pertama, kalau ada keluhan timbul berulang dan terus-menerus setelah meminum obat itu, pasti ada masalah dan mungkin ada penyakit yang tidak diketahui. Karenanya, hentikan dan cari info apa penyakitnya ke dokter. Agar terapi yang diberikan bisa tepat sasaran," beber dia.

Selain itu, Desca juga meminta kepada masyarakat agar teliti dalam melihat satu produk, khususnya obat-obatan yang berlabel herbal. Pastikan obat tersebut telah terdaftar di Badan POM.

"Karena apa? Kita dihadapkan dengan berbagai macam produk jamu yang ada setiap hari. Semakin kita mencari info, maka semakin kita akan terlindungi. Kalau kita ingin mengkonsumsi sesuatu, perhatikan dulu. Apakah tepat indikasi dan juga cari efek sampingnya. Cari sumber info yang valid agar mencegah dari efek samping dari penggunaan jamu mengandung bahan kimia obat," pungkas dia. (OL-13)

Baca Juga: Kejati Jabar Apresiasi Vonis Mati Pemerkosa 13 Santriwati

Baca Juga

ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/

1.926 Bencana Melanda Indonesia Dalam 6 Bulan Terakhir

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Kamis 30 Juni 2022, 20:50 WIB
Seluruh bencana mengakibatkan 100 orang meninggal. Sebanyak 2.416.259 orang menderita dan mengungsi, 685 orang luka-luka, dan 15 orang...
AFP/

Agen Perjalanan Ini Tawarkan Sejumlah Kemudahan untuk Umrah

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 30 Juni 2022, 20:35 WIB
Perusahaannya sangat memahami kebutuhan kaum muslim yang akan menjalankan...
Antara

Dua Faktor Ini Membedakan Subvarian BA.4 dan BA.5 dengan Varian Lain

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Kamis 30 Juni 2022, 20:14 WIB
Banyak mutasi virus yang menyebabkan tingkat keparahan tinggi. Namun, ada mutasi virus yang membuat penyakit lebih lemah, karena ketika...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya