Headline
Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.
Kumpulan Berita DPR RI
PANDEMI covid-19 sudah dua tahun melanda dan hampir seluruh negara di dunia ini telah mengalaminya. Selama masa tersebut perempuan mengalami berbagai tantangan dan hambatan. Yang paling tragis adalah meningkatnya kekerasan terhadap perempuan.
Selain itu, perempuan juga ikut terdampak guncangan ekonomi, terkendala dalam mengakses hak kesehatan reproduksi, terkena beban berlapis bagi perempuan, hingga menurunnya kesempatan kerja bagi perempuan.
"Resiliensi perempuan dalam pandemi ini menjadi sebuah pengalaman dan pengetahuan penting. Oleh karena itu, situasi pandemi ini harus menjadi momentum transformasi sosial untuk membangun masyarakat yang berkeadilan gender," kata Dini Widiastuti, Direktur Eksekutif Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) dalam pernyataannya.
Sebagai bagian dari upaya mewujudkan kesetaraan tersebut, lanjut Dini, Plan Indonesia ikut menerapkan sistem bekerja dari rumah dengan monitoring terhadap kesejahteraan emosional secara rutin bagi staff dan melaksanakan kelas-kelas leadership atau kepemimpinan untuk para kaum muda perempuan secara daring.
Abby Gina Boang Manalu, Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan mengatakan, pandemi memberikan dampak bagi setiap orang. Namun, perempuan dan kelompok rentan lainnya merasakan dampaknya secara tidak simetris.
"Struktur dan norma gender membuat perempuan mengalami kerentanan berlapis," cetusnya.
Riset-riset yang dilakukan mencoba menarasikan dan mendokumentasikan pengalaman perempuan dalam merespons situasi pandemi itu. Ditemukan bahwa, meskipun perempuan adalah kelompok yang mengalami kerentanan berlapis, namun agensi mereka juga hadir dan memiliki peran kuat dalam memotori perubahan dan menjadi basis resiliensi keluarga dan juga komunitas.
Gadis Arivia, Profesor Sosiologi di Montgomery College menyampaikan bahwa covid-19 bukan hanya menyebabkan krisis kesehatan, tetapi juga krisis sosial yang mengguncang semua sendi sosial. Hal itu amat berdampak buruk terhadap kelompok rentan.
Dengan menggunakan perspektif feminis baru untuk melihat persoalan gender dan pandemi covid-19 dalam perspektif interseksionalitas, menurut Gadis, hal itu memungkinkan kita untuk melihat interseksi (keterkaitan) dan keterhubungan persoalan pandemi dengan berbagai persoalan lainnya.
"Misalnya, membongkar persoalan budaya patriarki, kebijakan yang diskriminatif, dan ekonomi dan kesehatan yang tidak berkeadilan. Pendekatan Interseksionalitas digunakan sebagai kerangka berpikir dalam melihat keadaan secara terang benderang karena keterbatasan konsep," urainya.
Ia menjelaskan, analisis interseksionalitas mencakup persoalan diskriminasi umur, geografi, disabilitas, minoritas seksual, ras/etnisitas, agama minoritas, masyarakat adat, kelas dan kondisi struktural lainnya termasuk soal ketersediaan perumahan, pekerjaan, tekanan politis dan lingkungan.
“Penggunaan perspektif interseksionalitas menghasilkan analisis yang mendalam dan dapat membongkar ketidakadilan gender dan diskriminasi terhadap masyarakat marjinal,” tambah Gadis.
Kalis Mardiasih, penulis dan fasilitator gender menambahkan bahwa pandemi diawali dengan berbagai respons misoginis. Selama menjalani Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), di mana mayoritas warga berada di rumah, ibu dan anak perempuan mendapat beban ganda.
Pandemi juga mendorong maraknya pernikahan dini. Penutupan sekolah menyebabkan minimnya aktivitas, aturan beragam norma di wilayah setempat, hingga persoalan ekonomi keluarga. "Himpitan ekonomi di tengah krisis mendorong orang tua untuk menikahkan anaknya," katanya.
Selain itu, lanjut Kalis, Komnas Perempuan mencatat ada 338.496 laporan kasus kekerasan berbasis gender (KBG) terhadap perempuan yang terverifikasi sepanjang 2021. “Terlepas dari banyaknya kesulitan, perempuan menunjukkan kuatnya resiliensi mereka dalam menghadapi pandemi," ujarnya.
Pada sisi lain, pandemi rupanya juga memiliki dampak berbeda bagi perempuan dan laki-laki. Hal ini seperti disampaikan oleh Syaldi Sahude, Co-Founder Aliansi Laki-laki Baru. Menurut dia, sebagian karena norma gender tradisional yang masih melekat sehingga perempuan memiliki beban ganda.
“Hal ini seharusnya dapat mendukung laki-laki juga perlu dilibatkan untuk melawan tekanan norma gender yang membebani dan menghalangi laki-laki untuk berperan secara setara di ranah privat maupun publik,” ujar Syaldi. (H-2)
Perempuan pekerja di industri kelapa sawit pada umumnya bekerja di bagian perawatan dan administrasi yang relatif memiliki tingkat beban kerja fisik lebih ringan.
Keistimewaan yang didapat oleh anak sulung perempuan sering kali muncul dalam bentuk pemberian otonomi yang lebih besar.
SEKRETARIAT Wakil Presiden (Setwapres) mendorong adanya standarisasi indikator "naik kelas" bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya yang dikelola oleh perempuan.
Koleksi ini menampilkan deretan drama Korea populer yang menempatkan perempuan sebagai pusat narasi, mulai dari perjuangan karier, penyembuhan luka batin, hingga dinamika romansa.
Berdasarkan laporan Global Gender Gap 2025, posisi Indonesia naik tiga peringkat ke urutan 97 dunia dengan skor kesetaraan yang meningkat menjadi 69,2%.
Berdasarkan laporan Strava Year in Sport Trend Report 2025, keterlibatan perempuan dalam olahraga angkat beban tercatat 21% lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Berdasarkan laporan Global Gender Gap 2025, posisi Indonesia naik tiga peringkat ke urutan 97 dunia dengan skor kesetaraan yang meningkat menjadi 69,2%.
Penegakan UU TPKS dinilai belum maksimal dalam menangani kekerasan terhadap perempuan. Implementasi hukum dan perspektif gender aparat menjadi sorotan.
KETUA Umum Korps HMI-Wati (Kohati) PB HMI, Sri Meisista, menyoroti isu kesetaraan gender dalam organisasi hijau-hitam tersebut.
Rekor keterwakilan perempuan di parlemen Jepang memicu krisis fasilitas. PM Sanae Takaichi bersama 60 legislator ajukan petisi penambahan toilet perempuan.
Battle of the Sexes berlangsung cair dan penuh selingan hiburan.
Ketua KPU, Mochammad Afifuddin, menjelaskan bahwa sinergi ini penting untuk mendorong partisipasi perempuan dalam politik yang lebih baik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved