Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar menyambut gembira kegiatan pemeriksaan gratis mammografi, USG Mammae, dan Papsmear yang dilakukan Persit PD I/Bukit Barisan pada 24-25 Maret 2022. Kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan HUT Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) ke-76 yang dikaitkan dengan Hari Kanker Sedunia 2022,
Selain YKPI dan Persit PD I/Bukit Barisan, kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama dengan dengan Universitas Prima Indonesia (Unprima) dan RS Royal Prima, Medan, Sumatera Utara. Dalam sambutan yang disampaikan secara virtual, Linda Agum Gumelar menyambut baik kegiatan hasil tindak lanjut nota kesepahaman bersama antara Universitas Prima Indonesia dan YKPI ini. Dikatakan, untuk mencapai sesuatu yang bertujuan baik dan bermanfaat maka kolaborasi menjadi salah satu faktor yang perlu dilakukan.
"YKPI sangat berbahagia dalam bentuk kolaborasi empat pihak yaitu Persit KCK daerah I/Bukit Barisan, RS Royal Prima Medan, YKPIm dan Universitas Prima Indonesia ini. Kami berharap kolaborasi seperti ini bisa dikelola untuk program–program lain di masa mendatang, khususnya untuk membantu pemerintah dalam menekan angka kejadian kasus baru kanker payudara stadium lanjut," ujarnya, Kamis (24/3).
Seperti diketahui, berdasar data Globocan 2020, di Indonesia kasus kejadian baru kanker di Indonesia mendekati 66 ribu dengan tingkat kematian lebih dari 22 ribu jiwa yang pada umumnya 70% karena keterlambatan pengobatan. "Diperkirakan bila tidak ditangani dengan tepat dan terintegrasi dengan baik antarsemua stakeholder untuk program promotif & preventif, maka akan terjadi peningkatan jumlah kasus baru kanker payudara di Indonesia di masa mendatang," ujarnya.
Kegiatan pemeriksaan dini kanker payudara ini diikuti 100 anggota Persit. Dalam acara yang sama, juga dilakukan kegiatan penyuluhan kanker payudara, kanker serviks, dan praktis Periksa Payudara Sendiri (Sadari) yang diikuti anggota Persit dan masyarakat umum.
Ketua Persit KCK Daerah I/Bukit Barisan, Intan Achmad Daniel Chardin menyampaikan bahwa kanker leher rahim (serviks) dan kanker payudara adalah penyebab kematian dengan peringkat atas. "Karena itu, prinsip mencegah lebih baik daripada mengobati," ujarnya.
Dengan dilakukan pemeriksaan, jelasnya, diharapkan dapat mendeteksi lebih dini adanya kelainan awal karena kanker servik yang biasanya tanpa disertai gejala pada stadium awal. "Saya berharap, para istri prajurit yang hadir dapat menyimak dan mengikuti penjelasan mengenai kanker payudara serta cara memeriksa payudara sendiri (Sadari) sehingga dapat menerapkannya untuk diri sendiri dan membagikan pengetahuan tentang Sadari kepada keluarga dekat dan lingkungan sekitar," jelasnya.
Sementara Direktur Utama RSU Royal Prima, dr. Suhartina Darmadi, MKM menyampaikan kegembiraan dapat turut andil dalam kegiatan ini. "Resiko seorang wanita terpapar kanker payudara dan kanker serviks amatlah besar. Resiko ini akan meningkat seiring usia. Karena itu diperlukan kesadaran dan kepedulian terhadap berbagai faktor penyebab yang bisa memicu terjadinya hal tersebut," jelasnya
"Kegiatan ini bermafaat untuk mendeteksi dini kanker payudara dan kanker serviks karenanya sebagai wanita kita tetap harus waspada terhadap kedua jenis kanker tersebut. Jika semakin dini dideteksi maka akan semakin mudah pula penanganannya," tambahnya. (RO/OL-15)
Kenali Biograph Vision Quadra, teknologi PET/CT scan revolusioner untuk deteksi kanker akurat, radiasi rendah, dan proses cepat hanya 4 menit.
Gaya hidup berpengaruh terhadap risiko kanker payudara karena penyakit ini berkaitan erat dengan faktor hormonal.
Peneliti Universitas Jenewa mengungkap bagaimana tumor memprogram ulang neutrofil, sel pertahanan utama tubuh, menjadi pemicu pertumbuhan kanker melalui molekul CCL3.
Saat ini, sekitar 30% kasus kanker usus besar di tanah air diderita oleh pasien di bawah usia 40 tahun, sebuah angka yang jauh melampaui statistik di negara-negara maju.
Berbeda dengan herediter, kanker familia terjadi bukan karena mutasi gen, melainkan karena anggota keluarga hidup dalam satu ekosistem yang sama.
Jika langkah-langkah pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat sejak dini, jumlah kasus kanker diprediksi akan meningkat hingga 70% pada 2050.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved