Kamis 25 November 2021, 07:00 WIB

Warga Kenyang, Warung Senang

Fathurozak | Humaniora
Warga Kenyang, Warung Senang

Dok. Tempat Nasi Gratis Yogya
Etalase di YAP Square.

 

PADA pertengahan 2018, Veronica Christamia Juniarmi sering melihat banyak pemulung, orang-orang lanjut usia yang berjualan sembarang barang di sekitar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Kala itu, ia tengah menempuh studi magister di kampus yang berlokasi di sekitar jalan Gejayan tersebut. Pemandangan itu sebenarnya sudah ia perhatikan saat masih menempuh pendidikan tingkat sarjana di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang lokasi kampusnya juga tidak jauh dari situ.

Beberapa kali seusai pulang kuliah, ia pun kadang membeli makan dengan porsi lebih, yang kemudian ia bagikan ke beberapa pemulung ataupun pedagang yang sudah berusia lanjut. Namun, ia merasa hal itu kurang efektif. Vero pun kemudian berkeinginan untuk membuat gerakan yang bisa membantu sesama dengan lingkup besar, tapi secara eksekusi juga bisa dilakukan dengan mudah.

Setelah ia melihat di media sosial gerakan tempat nasi gratis di Bandung, ia pun lalu survei mengenai gerakan tersebut apakah sudah ada di Yogyakarta. Karena dari amatannya belum ada gerakan semacam itu di tempat tinggalnya, ia pun lalu memulai tempat nasi gratis di Yogyakarta pada Februari 2019.

Idenya ialah dengan menaruh nasi bungkus di sebuah etalase, lalu siapa pun berhak mengambil dengan jatah satu bungkus per orang. Etalase pertama terletak di YAP Square, yang berada di jantung kota. Hingga kemudian, saat Vero selesai studi S-2, ia mendapat hadiah sebuah etalase lagi dari kawannya. Satunya lagi, ia taruh di halaman parkir di sebuah studio foto di Yogyakarta karena ada yang menawarkannya.

Hingga setahun berjalan, pandemi pun datang. Vero yang pada akhir 2019 tengah mengajar di Yunnan University of Nationalities, Tiongkok, akhirnya pulang ke Tanah Air. Dia pun mengembangkan tempat nasi gratis itu dengan bantuan para donator. Kini, ada 13 etalase yang tersebar di 13 titik di seputaran Yogyakarta.

“Kami sama sekali tidak ada pikiran ketika bikin tempat nasi gratis itu bakalan ada pandemi. Dan kami juga tidak tahu pandemi akan sampai segitunya berdampak ke banyak orang. Menurut kami, ya sekarang konsep yang membutuhkan sewaktu pandemi itu jadi lebih luas lagi. Karena hampir semua orang sekarang membutuhkan,” kata Vero, saat berbincang dengan Media Indonesia melalui konferensi video, kemarin.

Selain mengandalkan dana dari para donatur yang masuk ke rekening tempat nasi gratis, warga juga bisa mengisi nasi di etalase terdekat mereka secara sukarela. Memang, saat pertengahan 2020 hingga awal 2021 ketika PPKM darurat belum diberlakukan, baik donasi yang masuk ke rekening maupun yang menaruh nasi di etalase cukup banyak. Namun, sejak PPKM, Vero mengaku donasi maupun yang menaruh nasi berkurang drastis.

“Di Yogyakarta itu di beberapa tempat banyak ditemukan tulisan rumah dikontrakkan dan sejenisnya. Karena ya banyak usaha yang akhirnya tutup sama sekali karena PPKM. Kami paham dengan keadaannya,” cerita Vero.

Kini, ia bersama timnya berupaya untuk tetap mengisi ke-13 etalase secara bergiliran. Misal, hari ini enam etalase, esok gantian sisa etalase lainnya yang diisi. Saat ini, dari tim nasi gratis Yogyakarta biasanya mengisi sekitar 5-10 bungkus nasi di luar warga yang hendak mengisi.

 

 

Bikin laris 

Meski pada awal kemunculannya tempat nasi gratis ini banyak diragukan, kini gerakan tersebut justru jadi andalan bagi para pekerja informal dan mereka yang bekerja di jalanan seperti pengemudi ojek daring ataupun kurir. Salah satu yang juga turut merasakan dampak dari kehadiran gerakan ini ialah warung-warung makan sebab Vero dan timnya memesan nasi bungkus dari warung—warung tersebut. Mereka membeli nasi bungkus dengan porsi banyak sehingga membantu melariskan dagangan mereka. Bahkan, ada warung yang minta agar Vero dan timnya bisa berpindah ke warung lain supaya sama-sama mendapat untung.

“Dengan kami pesan nasi bungkus yang jumlahnya cukup banyak tiap harinya, meski dengan harga khusus, setidaknya yang jualan juga masih bisa berdagang, dan yang kerja juga masih bisa kerja. Jadi simbiosis dan semuanya diuntungkan,” kata Vero.

Dalam sebulan, untuk mengongkosi 13 etalase nasi gratis, Vero dan timnya setidaknya mengeluarkan bujet Rp10 juta. Selain dari bujet pribadi, Vero mengandalkan donasi yang masuk. Meski saat ini jumlah donatur turun, mereka tetap berkomitmen untuk mengisi ke-13 etalase tersebut secara berkelanjutan.(M-4)

 

Baca Juga

MI/Dok IHH

Keterbatasan Data Sejarah Jadi Tantangan Utama Pendirian Museum Bappenas

👤Basuki Eka Purnama 🕔Rabu 08 Desember 2021, 04:45 WIB
“Arsip pendukung riset sejarah tokoh-tokoh perencana pembangunan nasional masih berserakan. Perlu ketekunan dan eksplorasi lebih...
Dok. Pribadi

Kemenag Tunggu Persetujuan Pembentukan Ditjen Pesantren 

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 07 Desember 2021, 23:49 WIB
Menurutnya, Ditjen Pesantren dibutuhkan karena ada keunikan tersendiri dari lembaga pendidikan itu, salah satunya adanya Majelis Masyayikh...
Antara

BRIN Hadirkan Teknologi Kebencanaan di IIDEC 2021

👤Ant 🕔Selasa 07 Desember 2021, 23:36 WIB
Riset dan teknologi kebencanaan dalam ajang Indonesia International Disaster Expo & Conference (IIDEC) 2021 secara...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya