Rabu 24 November 2021, 11:45 WIB

Obesitas Berisiko Alami Mendengkur dan Gagal Jantung

Basuki Eka Purnama | Humaniora
Obesitas Berisiko Alami Mendengkur dan Gagal Jantung

freepik
Ilustrasi

 

MEREKA yang obesitas memiliki sejumlah risiko terkena berbagai masalah kesehatan, dua di antaranya adalah mendengkur dan gagal jantung.

Terkait mendengkur, dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Niken Ageng Rizki mengatakan, lingkar leher dari diameter jalan napas berpengaruh pada munculnya dengkuran.

Lingkar leher itu antara lain dipengaruhi obesitas yang dialami seseorang, menurut staf Departemen THTKL Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan itu. 

Baca juga: Pekerjaan Rumah Tangga dapat Tingkatkan Kesehatan di Usia Tua

Kelebihan berat badan menyebabkan lebih banyak jaringan berkembang di tenggorokan yang dapat menyebabkan mendengkur.

"Obesitas yang berpengaruh pada lingkar leher dari diameter jalan napas," kata dia.

Dengkuran atau gangguan bernapas saat tidur terjadi karena ada sumbatan di jalan napas. Suara parau yang muncul akibat getaran udara di langit-langit mulut atau tenggorokan.

Penyebabnya henti napas atau apnea sehingga tubuh tidak menerima oksigen saat tidur akibat ada penutupan jalan napas, menyebabkan getaran pada tenggorokan atau jalan napas.

Sumbatan di hidung, belakang hidung, tenggorokan karena amandel, langit-langit, iritasi asam lambung, pembengkakkan pita suara dan dasar lidah berkontribusi pada kondisi mendengkur.

Lebih lanjut, mendengkur termasuk gangguan saat tidur atau Obstructive Sleep Apnea (OSA) dengan angka kejadian meningkat di usia tua baik itu pada laki-laki maupun perempuan.

Selain dengkuran yang kerap tidak disadari penderitanya, mereka yang mendengkur umumnya saat malam juga kerap tersedak, batuk-batuk, tidur tidak nyenyak, sering buang air kecil (BAK). Kemudian, karena tidur malamnya tidak berkualitas, saat bangun di pagi hari dia mengalami sakit kepala, mengantuk, sulit berkonsentrasi, dan kelelahan.

Pada anak, hiperaktif bisa menjadi gejala yang perlu diwaspadai orangtua. Mereka perlu mendapatkan pemeriksaan pada jalan napasnya, untuk mengetahui pasti gejala OSA yang dapat menyebabkan konsentrasi anak berkurang.

Dengkuran yang muncul awalnya bisa sesekali namun karena sumbatan semakin parah misalnya akibat sumbatan hidung, alergi, peradangan pada rongga hidung misalnya tonsilnya membesar, langit-langitnya turun sehingga menjadi dengkuran yang menetap.

Bila begini, kondisi sudah masuk kategori ada penyempitan jalan napas yang berujung sleep apnea dengan kategori ringan, sedang dan berat.

Evaluasi masalah mendengkur dilakukan pertama kali dengan mencari tahu letak sumbatan apakah di hidung, tenggorok, atau gangguan di asam lambung.

Biasanya dokter akan meminta pasien menjalani pemeriksaan antara lain THT, polisomnografi untuk melihat grafik bernapas, pergerakan otot, otak, kaki serta seluruh badan dan gejala lambung.

Bila penyebabnya sumbatan hidung, pengobatannya bisa dengan cuci hidung atau semprot hidung antiradang. 

Menurut Niken, paling sering awalnya sumbatan hidung dulu sehingga pasien bernapas melalui mulut.

Untuk tenggorokan, dokter harus memastikan ada tidaknya amandel yang membengkak, kemudian karena kebiasaan bernapas dari mulut langit-langitnya turun, kemungkinan juga harus dikoreksi.

Terkait obesitas, seperti dikutip dari WebMD dan Healthline, menurunkan berat badan dapat membantu mengurangi bahkan menghilangkan dengkuran.

Mereka dengan obesitas perlu menerapkan diet sehat dan sering berolahraga. Konsultasikan dengan dokter tentang mengembangkan rencana diet dan olahraga. Selain mengurangi dengkuran, menjaga berat badan yang sehat dapat membantu mengontrol hipertensi, meningkatkan profil lipid, dan mengurangi risiko diabetes.

Risiko gagal jantung

Di sisi lain, mereka yang mengalami obesitas juga berisiko terkena gagal jantung. 

Dokter spesialis jantung & pembuluh darah dari Universitas Hasanuddin Antonia Anna Lukito mengatakan, dari belasan persen penyandang obesitas di Indonesia, sekitar 5 ada 1 berhubungan dengan gagal jantung.

Menurut Antonia, yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) itu, obesitas menyebabkan gangguan metabolisme gula, kolesterol, hipertensi, gangguan ginjal, mengorok atau mendengkur, dan gagal jantung.

Lebih lanjut mengenai gagal jantung, yakni kondisi gangguan fungsi otot jantung yang berakibat sesak napas dan bengkak di tungkai atau perut. Perut terasa sesak memungkinkan pasien tidak bisa makan lagi. Walaupun hanya makan sedikit perut sudah penuh karena berisi air.

Selain obesitas, penyebab gagal jantung juga meliputi otot jantung mengalami gangguan, kondisi jantung bawaan, gangguan irama terus menerus menyebabkan otot jantung lelah, serangan jantung, penyakit jantung katup bisa karena umur dan infeksi serta gaya hidup pasif.

Orang dengan gagal jantung tak lagi bisa tidur dalam posisi terlentang, tidak cukup hanya satu bantal melainkan ditopang dengan bantal tinggi atau bersandar pada meja. 

Mereka juga cenderung tidur sambil tengkurap dengan berpenggangan pada meja. Selain itu, pasien pun mengeluhkan kaki bengkak, mudah capek disertai sesak dan berdebar-debar.

Pada posisi berdiri sehari-hari pasien umumnya tidak sesak, namun pada malam hari saat hendak tidur, cairan darah yang terkumpul di tungkai karena posisi berdiri begitu tidur menjadi sejajar sehingga darah segera menuju ke jantung dengan mudahnya.

"Itu bagi jantung yang sudah lemah bagaikan tsunami, pasien merasa engap harus cepat-cepat duduk. Salah satu gejala yang mulai mengkhawatirkan, wajib konsul ke dokter," kata Antonia.

Mereka dengan kondisi gagal jantung umumnya mengalami sejumlah gejala antara lain lemas, tidak lagi bisa melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasanya misalnya semula sanggup naik tangga lantai 3 sekarang hanya 1 lantai saja.

Gejala lainnya, penumpukan cairan di paru sehingga pasien jadi batuk, susah napas padahal tidak ada riwayat sakit paru, selain itu muncul bengkak berupa penumpukan cairan di tungkai bawah mata kaki tungkai paha dan bahkan perut.

Walau begitu, sebagian besar orang tidak menyadari sudah mengalami gagal jantung karena gejalanya tidak selalu muncul.

Agar ini tidak terjadi, deteksi dini salah satunya melalui USG jantung disarankan. 

Selain itu, Anda juga bisa menjalani pemeriksaan biomarker untuk menilai besar risiko, mendeteksi kerusakan otot jantung dan lemah jantung, mendapatkan diagnosis lebih akurat hingga membantu terapi jika memang gagal jantung terdiagnosis. (Ant/OL-1)

Baca Juga

ANTARA/HO-Kemen PPPA

Kemen PPPA Minta Kasus Mahasiswi NW Diusut Tuntas

👤Basuki Eka Purnama 🕔Senin 06 Desember 2021, 09:30 WIB
Bintang menambahkan sudah sepantasnya semua pihak memberikan rasa empati yang besar terhadap korban dan...
DOK BSI

BSI Kirimkan Relawan Medis ke Lokasi Terdampak Erupsi Semeru

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 06 Desember 2021, 07:51 WIB
Untuk bantuan tahap awal, BSI menyalurkan bantuan berupa paket sembako, makanan siap saji, alat prokes, dan menurunkan tim medis dari...
Medcom

Dokter Tengah Pelajari Reumatik Autoimun di Penyintas Covid-19

👤Basuki Eka Purnama 🕔Senin 06 Desember 2021, 07:15 WIB
"Beberapa jurnal melaporkan adanya pasien-pasien yang didiagnosaarthritis rheumatoid (RA) pascainfeksi covid-19. Namun, hasil...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya