Selasa 12 Oktober 2021, 13:14 WIB

Drone Jadi Metode Baru Dukung Budi Daya Pertanian Berkelanjutan

mediaindonesia.com | Humaniora
Drone Jadi Metode Baru Dukung Budi Daya Pertanian Berkelanjutan

Ist
Teknologi drone akan memberikan dampak lingkungan yang positif serta dapat menghemat biaya.

 

BAHAN baku utama produksi Monosodium Glutamat (MSG) menggunakan tetes tebu yang melalui proses fermentasi. Dari proses produksi tersebut dihasilkan produk samping pupuk Ajinomoto Foliar Fertilizer atau Ajifol.

Ajifol memiliki kandungan unsur hara makro dan mikro yang lengkap untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman mulai dari awal tanam hingga panen, serta dengan kandungan asam amino berkualitas tinggi di dalamnya.

Ajifol juga mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit, sehingga dapat mengurangi pemakaian pestisida dan lebih ramah terhadap lingkungan. Proses tersebut dikenal dengan istilah bio cycle.

Sebagai salah satu cara efektif dan efisien terhadap penggunaan air, sumber daya manusia, dan penghematan biaya guna mendukung budidaya pertanian berkelanjutan, Departemen Agriculture Development (Agri Dev) PT Ajinomoto Indonesia yang beroperasi di Pabrik Mojokerto, Jawa Timur, baru-baru ini melakukan inovasi penyemprotan Ajipol dengan menggunakan teknologi drone

“Sejalan dengan Ajinomoto Share Value (ASV) perusahaan, kmi mulai melakukan pengolahan produk samping (By Product) yang dalam prosesnya mengacu pada Eco Activity dan Bio Cycle, yang dapat diolah menjadi produk dengan nilai jual (Co Product), salah satunya pupuk Ajifol yang telah dilengkapi dengan izin edar dari Kementerian Pertanian RI," kata Factory Manager sekaligus Direktur PT Ajinomoto Indonesia Yudho Koesbandryo pada keterangan pers, Selasa (12/10).

Dengan memanfaatkan teknologi yang ada, perusahaan Ajinomoto mulai membantu beberapa komunitas petani padi, jagung, dan tebu yang berada di daerah Jawa Timur, yaitu Mojokerto, Madiun dan Malang dengan mengenalkan Ajifol sebagai Co Product perusahaan.

Perusahaan juga dapat membantu menjaga pertumbuhan tanaman agar menghasilkan panen dengan kualitas terbaik serta menyediakan jasa aplikasi Ajifol menggunakan drone.”

Saat ini, Ajifol memiliki dua varian, yaitu Ajifol D untuk pertumbuhan vegetatif tanaman (akar, batang, daun) dan Ajifol B untuk pertumbuhan generatif tanaman (bunga dan buah).

Penggunaannya cukup mudah, dengan menambahkan air terlebih dahulu sesuai takaran, Ajifol bisa langsung disemprotkan ke bagian tanaman.

Tidak hanya memiliki kandungan yang berkualitas, harga pupuk cair Ajifol ini juga sangat terjangkau. Ajifol D sekitar Rp 70 ribu- Rp 75 ribu per liter, sedangkan Ajifol B Rp 80 ribu-Rp 85 ribu per liter.

Sejak kehadirannya, aplikasi Ajiforl masih dilakukan secara manual sehingga menjadi tidak efisien: memakan waktu yang lama, boros dalam penggunaan air, membutuhkan biaya untuk para tenaga kerja.

Berkaitan dengan hal tersebut, PT Ajinomoto mengajak para petani untuk menerapkan metode baru dalam mendukung budi daya pertanian yang berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi drone.

PT Ajinomoto meyakini penggunaan teknologi drone akan memberikan dampak lingkungan yang positif serta dapat menghemat biaya sekaligus menyokong budi daya pertanian berkelanjutan di Indonesia.

“Sebagai gambaran berdasarkan hasil uji coba yang telah kami lakukan di bulan September lalu, untuk tanaman padi, jagung dan tebu mendapatkan respon yang cukup baik dari para petani," jelas Yudho.

Pengaplikasian teknologi drone sangat efisien dan hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit per hektare dengan jumlah air berkisar 16 liter per hektare.

Sementara ity, jika dengan penerapan secara manual, membutuhkan waktu sekitar setengah hari hingga 1 hari dengan jumlah air sekitar 200 liter per hektare.

Biaya pengaplikasian dengan menggunakan teknologi drone rencananya akan kami ajukan sekitar Rp 100 ribu per hektare, sedangkan jika pengaplikasian manual berkisar Rp 150 ribu per hektare.

"Untuk beberapa tanaman seperti jagung dan tebu, pengaplikasian manual akan sulit dilakukan saat tanaman sudah tinggi, sekitar 1,5 meter ke atas, sedangkan dengan menggunakan teknologi drone, kendala tersebut tentu dapat teratasi,” tutup Yudho. (RO/OL-09)

 

 

 

Baca Juga

MI/ VICKY GUSTIAWAN

Menimbang Efektivitas PTM di Masa Pandemi

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Minggu 24 Oktober 2021, 15:20 WIB
Dengan PTM ini bisa memberi waktu kepada anak-anak, juga karena tidak ada batasan waktu untuk tugas guru akan aktif mengingatkan siswanya...
ANTARA / Nyoman Hendra Wibowo

BMKG Catat Ada 32 Kali Aktivitas Gempa di Banyubiru, Ambarawa, Salatiga

👤 Atalya Puspa 🕔Minggu 24 Oktober 2021, 14:45 WIB
Terjadinya fenomena gempa swarm ini setidaknya menjadikan pembelajaran tersendiri untuk masyarakat, karena aktivitas swarm memang jarang...
DOK. ITS

ITS Raih Penghargaan Terbanyak Pada Kontes Kapal Cepat Tak Berawak 2021

👤 Faustinus Nua 🕔Minggu 24 Oktober 2021, 14:20 WIB
Melalui kontes ini, pemerintah ingin terus menanamkan kesadaran pada generasi muda bahwa kita (Indonesia) adalah negara maritim terbesar di...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Krisis Energi Eropa akan Memburuk

Jika situasinya tidak membaik dalam beberapa bulan ke depan, ada potensi krisis ekonomi yang menghancurkan

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya