Jumat 27 Agustus 2021, 23:33 WIB

Penelitian Vaksin dan Obat Antimalaria Berhasil Tekan 70% Kasus Parah

Mediaindonesia.com | Humaniora
Penelitian Vaksin dan Obat Antimalaria Berhasil Tekan 70% Kasus Parah

AFP/Olympia De Maismont.
Seorang gadis disuntik untuk menyembuhkan malaria di pusat kesehatan Barkuitenga, Ziniare, timur laut ibu kota Burkina Faso, Ouagadougou.

 

SUATU pendekatan baru menggunakan obat-obatan yang ada untuk mencegah malaria terbukti mengurangi kasus parah penyakit parasit itu pada bayi hingga lebih dari 70% di Afrika sub-Sahara. Hasil yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine pada Rabu (25/8) berasal dari penggabungan suntikan booster vaksin antimalaria menjelang musim hujan bersama dengan obat-obatan pencegahan.

Malaria membunuh lebih dari 400.000 orang per tahun. Sebagian besar korban di bawah usia lima tahun. Penulis senior makalah Brian Greenwood dari London School of Hygiene and Tropical Medicine mengatakan kepada AFP bahwa anggota tim telah menghubungi Organisasi Kesehatan Dunia untuk memperbarui rekomendasinya.

"Vaksin RTS,S yang dibuat oleh perusahaan farmasi Inggris GSK dikembangkan lebih dari 20 tahun yang lalu tetapi tidak terlalu efektif," kata Greenwood. Penelitian sebelumnya menunjukkan perlindungan vaksin berkurang dari waktu ke waktu dan menawarkan sekitar 30% kemanjuran selama tiga sampai empat tahun.

Baca juga: Kerangka Wanita Indonesia Umur 7.200 Tahun Bergaris Keturunan yang Asing

Karena malaria sangat musiman di wilayah Sahel dan sub-Sahel, tim ingin menguji pemberian booster sebelum musim hujan setiap tahun, ketika populasi nyamuk memuncak, akan meningkatkan hasil. Uji coba tersebut diikuti sekitar 6.000 anak berusia lima hingga 17 bulan dari Burkina Faso dan Mali selama tiga tahun.

Anak-anak dibagi menjadi tiga kelompok terdiri dari mereka yang hanya menerima obat antimalaria sulfadoksin-pirimetamin dan amodiakuin, mereka yang hanya menerima vaksin, dan mereka yang menerima kombinasi. Hasilnya, kombinasi tersebut merupakan intervensi yang paling efektif karena menurunkan kasus malaria sebesar 63%, rawat inap sebesar 71%, dan kematian sebesar 73% dibandingkan dengan obat saja.

"Itu cukup dramatis," kata Greenwood. Ia menekankan bahwa angka-angka tersebut berada di atas dampak obat yang sudah efektif dan tidak dibandingkan dengan tidak ada obat karena tidak etis untuk diuji. Dia memperkirakan bahwa kombinasi dosis vaksin booster dan obat antimalaria mengurangi rawat inap dan kematian hingga 90% dibandingkan tanpa intervensi.

Baca juga: Studi Temukan Lampu LED Turunkan Populasi Serangga

Anak-anak awalnya menerima tiga dosis vaksin untuk memperkuat sistem mereka, kemudian booster setiap tahun. Ini didasarkan pada partikel yang melatih sistem kekebalan terhadap parasit Plasmodium falciparum. Obat antimalaria diberikan selama tiga hari dalam sebulan setiap empat bulan.

Greenwood mengatakan penelitian menunjukkan nilai pengembangan rencana sesuai dengan kondisi epidemiologi lokal. Dalam hal ini pemberian vaksin menjelang musim puncak, bukan pada saat tidak ada penularan dan dampaknya akan memudar. "Semoga ini bisa diterapkan di beberapa negara dan menyelamatkan banyak nyawa orang." (OL-14)

Baca Juga

Antara

Laju Vaksinasi Covid-19 di Luar Jawa dan Bali Tergolong Rendah

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Minggu 03 Juli 2022, 23:13 WIB
Pasalnya, ada 11 provinsi di luar Jawa dan Bali yang capaiannya di bawah 50...
ourworldindata.org

Indonesia Catat Tambahan 1.614 Kasus Baru

👤Faustinus Nua 🕔Minggu 03 Juli 2022, 22:30 WIB
KASUS Covid-19 di Indonesia kembali meningkat dalam beberapa hari...
DOK Perbanas Institute

Perbanas Institute Sediakan Rp2,5 Miliar Beasiswa Untuk Mahasiswa Baru

👤Widhoroso 🕔Minggu 03 Juli 2022, 20:15 WIB
PERBANAS Institute Jakarta menyediakan beasiswa senilai Rp2,5 miliar untuk calon mahasiswa baru tahun...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya