Senin 23 Agustus 2021, 17:23 WIB

Dokter Paru: Sehat tidak Menjamin Terhindar dari Badai Sitokin

M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora
Dokter Paru: Sehat tidak Menjamin Terhindar dari Badai Sitokin

Antara
Pengendara melintas di depan mural terkait pandemi covid-19 di Solo, Jawa Tengah.

 

DOKTER Spesialis Paru Faisal Yunus menjelaskan badai sitokin disebabkan pasien covid-19 mengalami inflamasi atau peradangan yang terlalu berat. 

Apabila tubuh mengalami peradangan dan perlahan menyebar, kemudian berpotensi muncul badai sitokin. "Ini terjadi pada orang dengan infeksi yang berat. Untuk infeksi ringan atau sedang tidak terjadi badai sitokin," ujar Yunus saat dihubungi, Senin (23/8).

Munculnya infeksi tersebut dipengaruhi banyak faktor. Seperti, jumlah virus di dalam tubuh pasien covid-19. Semakin banyak virus, potensi terjadi badai sitokin pun semakin besar. Faktor lain yang memengaruhi ialah daya tahan tubuh.

Baca juga: Deddy Corbuzier Berada di Ambang Hidup dan Mati Karena Covid-19

"Meski rajin olahraga, rutin minum vitamin dan makan dengan gizi seimbang, tidak menjamin bebas dari badai sitokin. Mungkin pada saat itu daya tubuh menurun karena kurang tidur, kurang istirahat, cemas dan lainnya," papar Yunus.

"Walaupun olahraga, sewaktu-waktu pasien keletihan. Cemas lalu daya tahan menurun dan jumlah virus yang masuk ke tubuh banyak," tambahnya.

Setelah virus korona masuk ke dalam tubuh, akan di-scan sel darah putih. Virus tersebut kemudian akan dimakan. Alhasil, virus sulit dibunuh dan membuat sel darah putih bunuh diri. Lalu, muncul peradangan dalam tubuh.

Baca juga: Masih Ada 150 Juta Masyarakat Indonesia Belum Terima Vaksin Covid-19

Tidak terdeteksinya covid-19 saat tes antigen, lajut dia, disebabkan alat tes tersebut membutuhkan virus atau kuman yang banyak untuk menunjukkan hasil positif. Sehingga, itu tidak termasuk ciri momen badai sitokin.

"Antigen itu butuh jumlah kuman yang banyak baru menunjukkan hasil positif, sehingga kurang sensitif. Alat tes covid yang sensitif tentunya PCR," pungkas Yunus.

Akan tetapi, tes PCR tentu membutuhkan waktu lama lebih lama, setidaknya minimal 8 jam. Sementara, tes antigen hanya memakan waktu 15 menit. Jadi, secara teori antigen tergolong kurang sensitif.(OL-11)

Baca Juga

Antara/Mohamad Hamzah

Pengawasan Ketat Ternak Impor dan Karantina Hewan Cegah Meluasnya Penyakit Mulut dan Kuku

👤Fetry Wuryasti 🕔Kamis 26 Mei 2022, 22:44 WIB
“Titik-titik pemeriksaan, pengawasan dan karantina untuk sapi impor perlu menjadi fokus pemerintah supaya PMK tidak semakin...
DOK Kemenko PMK

Pemerintah Maksimalkan Perlindungan Bagi Anak dan Penyandang Disabilitas yang Terdampak Pandemi

👤Widhoroso 🕔Kamis 26 Mei 2022, 22:01 WIB
Menko PMK Muhadjir Effendy mengatakan, masa depan anak-anak Indonesia, termasuk mereka yang kehilangan orang tua pada masa Pandemi...
Antara

14,3 Juta Lansia Rampung Divaksinasi

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Kamis 26 Mei 2022, 21:38 WIB
Jumlah itu setara 66,44 persen dari target 21.553.118...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya