Kamis 15 Juli 2021, 10:05 WIB

Perguruan Tinggi Didorong Segera Hasilkan Oksigen Konsentrator

Atalya Puspa | Humaniora
Perguruan Tinggi Didorong Segera Hasilkan Oksigen Konsentrator

ANTARA/ MUHAMMAD IQBAL
KEBUTUHAN OKSIGEN: Warga membawa tabung oksigen usai melakukan pengisian ulang. Kebutuhan oksigen untuk pasien covid-19 melonjak.

 

MASALAH kekurangan oksigen untuk penanganan pasien covid-19 terus diupayakan pemerintah untuk dipenuhi. Bukan hanya mendorong industri untuk mengoptimalkan produksi oksigen dalam rangka pemenuhan kebutuhan bidang kesehatan, pemerintah juga mendorong perguruan tinggi untuk bisa berpartisipasi.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menjelaskan bahwa Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur Emil Dardak telah menghubungi sejumlah perguruan tinggi di Jatim, terutama yang memiliki fakultas teknik untuk memproduksi oksigen konsentrator.

Oksigen konsentrator merupakan alat yang dapat mengonversi udara menjadi oksigen medis dengan saturasi di atas 93% hanya dengan disambungkan atau dicolokkan langsung ke aliran listrik. "Saya yakin di sini ada perguruan tinggi-perguruan tinggi hebat yang bisa menciptakan itu sesegera mungkin karena itu juga tidak membutuhkan teknologi tinggi," ujar Muhadjir dalam keterangan resmi, Kamis (15/7).

Oksigen konsentrator yang diciptakan perguruan tinggi, menurutnya, akan dapat membantu mengantisipasi kekurangan pasokan oksigen. Tidak hanya di rumah sakit (RS), tetapi juga pasien covid-19 yang sedang melakukan isolasi mandiri (isoman).

"Untuk di Jawa Timur kondisinya relatif sudah cukup baik, hanya masalahnya bagaimana memastikan mereka yang sedang menjalani isolasi mandiri yang memang suatu saat butuh bantuan oksigen agar bisa tertangani dengan baik," tutur dia.
Lebih lanjut, Menko PMK mengimbau kepada masyarakat yang telah membeli oksigen dan menyimpannya di rumah agar dapat meminjamkan tetangganya yang sedang isoman dan membutuhkan oksigen. Sedangkan untuk tabung yang kosong supaya segera dikembalikan.

"Jangan disimpan karena dengan disimpan itu menyebabkan kita banyak sekali kekurangan tabung oksigen. Kita tahu seperti di RS lapangan itu tidak mungkin disuplai oksigen likuid dengan tanki-tanki yang besar itu, tetapi pakai tabung yang kecil-kecil. Kalau itu kemudian hilang dari pasar akan menyulitkan kita semua," tandasnya.(H-1)

Baca Juga

DOK MI

Penanganan Kasus Anak Penderita HIV/AIDS Butuh Aturan Khusus

👤Yoseph Pencawan 🕔Kamis 02 Desember 2021, 18:24 WIB
BERBEDANYA posisi anak dalam siklus penularan HIV dan kondisi psikologis mereka dibandingkan penderita dewasa membuat dibutuhkannya...
ANTARA/Pavlo Gonchar / SOPA Images via Reuters/Sipa USA/pri.

Cegah Penyebaran Omicron, Mitigasi Berlapis Harus Dilakukan

👤Widhoroso 🕔Kamis 02 Desember 2021, 18:14 WIB
UNTUK mencegah masuknya varian Covid-19 B.1.1.529 atau yang dikenal dengan nama Omicron, negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, telah...
ANTARA/ARI BOWO SUCIPTO

Wapada! Ada Peningkatan Badai Tropis pada Libur Nataru

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Kamis 02 Desember 2021, 18:10 WIB
BMKG tengah mengumpulkan data terkait badai tropis yang diprediksi akan muncul di akhir tahun dan awal tahun...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya