Sabtu 03 Juli 2021, 15:00 WIB

BRIN Kembangkan Alat Baru Deteksi Virus

Faustinus Nua | Humaniora
BRIN Kembangkan Alat Baru Deteksi Virus

ANTARA/ Mohammad Iqbal
DETEKTOR ALTERNATIF COVID-19: Doktor Tjandrawati Mozef (kiri) peneliti Biokimia Farmasi LIPI, penemu RT-LAMP melakukan uji validasi

 

BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan alat deteksi virus baru. Alat yang disebut RT-LAMP itu menggunakan sampel salive atau air ludah.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Riset dan Inovasi (BRIN) Laksana Tri Handoko kepada Media Indonesia, Sabtu (3/7). Pada kesempatan tersebut Handoko juga menegaskan bahwa alat deteksi virus yang sudah ada masih relevan dengan situasi saat ini. Tingginya lonjakan kasus dan hadirnya mutasi atau varian baru Delta tidak berpengaruh pada sistem deteksi virus SARS-Cov-2.

"Sejauh ini semua alat deteksi virus, bukan antigen atau antibodi, itu masih relevan dan tidak terpengaruh dengan adanya mutasi," ungkapnya. Pernyataan Handoko tersebut sekaligus membantah adanya anggapan bahwa GeNose tidak akurat untuk mendeteksi virus korona.

"Ini (RT-LAMP) mirip dengan produk Kalbe Farma yang baru dilansir, tetapi mekanismenya lebih kuantitatif. Posisinya saat ini masih dalam proses pengajuan izin edar," imbuhnya. BRIN, ujar Handoko, akan terus mengembangkan riset-riset terbaru terkait alat deteksi virus. Riset dan inovasi tidak boleh berhenti, apalagi dalam situasi seperti sekarang, riset dan inovasi justru berperan penting.

Handoko menjelaskan, sebagai alternatif RT-PCR, RT-LAMP bukan untuk menggantikan produk lainnya seperti GeNose. Tetapi untuk tes yang mendekati RT-PCR dengan efektifitas yang lebih tinggi dari produk-produk yang ada.
"Ini tidak memerlukan mesin PCR dan cukup melalui sampel ludah, tidak perlu di-swab. Jadi pada prinsipnya ini lebih mendekati alat uji virus, bukan sekadar akat deteksi cepat seperti antigen, antibodi maupun GeNose," tuturnya.

Selain itu, biayanya pun lebih terjangkau atau setengah dari RT-PCR. BRIN pun berharap sebelum akhir tahun bisa keluar semua uji edar berbasis data uji yang sudah lengkap.

Adapun, BTIN saat ini fokus ke 3 hal, yakni vaksin merah-putih, alat uji alternatif PCR, dan surveilans berbasis white genome sequencing (WFS). WGS ini kerja besar bareng Balitbangkes, dan dari BRIN adalah Eijkman dan LIPI.(H-1)

Baca Juga

(Photo by BANDAR AL-DANDANI / AFP)

Pemberian Vaksin Booster pada Jemaah Umrah Masih Dibahas

👤Atalya Puspa 🕔Jumat 24 September 2021, 15:12 WIB
Juru Bicara Vaksinasi Covid-19, Siti Nadia Tarmizi, mengungkapkan untuk itu pihaknya belum bisa menentukan merk vaksin apa...
Antara

Indonesia Terima 1 Juta Dosis Vaksin Sinovac

👤Atalya Puspa 🕔Jumat 24 September 2021, 14:51 WIB
Dengan demikian, secara total jumlah vaksin yang sudah hadir di Indonesia dalam bentuk bahan baku (bulk) dan jadi adalah 273,639,790...
Mi/Ramdani

Pemprov DKI Bersurat ke Nadiem Minta Kejelasan 25 Klaster PTM

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Jumat 24 September 2021, 14:46 WIB
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengungkapkan harapannya agar Kemendikbudristek dapat menjawab surat tersebut dengan data...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

El Diablo Waspada Sodokan Pecco

Trek lurus sepanjang 1,2 kilometer di Circuit of The Americas, Austin, AS, dapat dimanfaatkan Pecco dengan tunggangan motor Ducati Desmosedici yang kian tangguh di beberapa seri terakhir.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya