Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
MOMEN mengejutkan terjadi di partai Euro 2020 antara Denmark vs Finlandia dimana Christian Eriksen mendadak terjatuh tak sadarkan diri di lapangan. Eriksen diduga mengalami serangan jantung setelah tim medis Denmark dan petugas medis Euro 2020 terlihat memberikan resusitasi jantung paru atau CPR (cardiopulmonary resuscitation) dengan tangan.
"Orang-orang jadi takut olahraga, padahal mungkin harusnya responsnya adalah belajar CPR. CPR itu wajib dipelajari. Toh ada kursusnya untuk awam. Di tayangan pertandingan tampak saat Eriksen kolaps, pemain didekatnya semuanya bingung. Padahal harusnya kalau ada orang kolaps di pertandingan olahraga tanpa benturan maka responsnya harus segera cek napas dan kesadarannya (untuk medis segera cek nadi) jika tidak ada respons maka CPR harusnya dilakukan," paparnya, Senin (14/6).
Baca juga: Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Dibuka, Ini Syaratnya
Menurut Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari RS Siloam Lippo Karawaci dr Vito A Damay, SpJP, CPR dapat meningkatkan kemungkinan seseorang yang mengalami cardiac arrest survive hingga 44%. Namun hal ini, sambung dr Vito, tergantung penyebab cardiac arrest yang dialami oleh pasien.
"Bila cardiac arrestnya karena serangan jantung, ya tetap harus dilakukan pemasangan ring misalnya. Namun, CPR bisa membantu memperpanjang napas pasien hingga tiba di rumah sakit," jelasnya.
Hal ini yang dilakukan tim medis Denmark dan petugas medis Euro 2020 kepada Eriksen sebagai upaya pertolongan medis untuk mengembalikan kemampuan bernapas dan sirkulasi darah dalam tubuh Eriksen.
"Lebih baik lakukan teknik CPR yang pernah dilatih dan lakukan sebaik yang anda bisa. Itu lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa atau melakukan hal lain yang tidak menolong sama sekali, seperti disiram air mukanya, ditampar wajahnya, atau ditepok-tepok lengannya," jelasnya.
Pihaknya menjelaskan urutannya dalam menangani pasien yang dalam kondisi tidak sadar adalah segera memanggil bantuan, bisa melalui telepon tekan tombol loud speaker atau bahkan bisa tulis pesan di media sosial agar siapapun yang dekat bisa menolong. Selanjutnya, sambung dia, lakukan pijat jantung dengan benar.
Di era pandemi seperti ini, sambungnya mengingatkan, penting untuk menjaga keselamatan diri. dr Vito juga berpesan untuk selalu memakai masker dengan baik. "Karena proses pijat jantung pada CPR ini potensi menimbulkan aerosol bila korban ternyata positif terinfeksi sarscov2," imbuhnya.
Lalu, bagaimana dengan korban? Lebih lanjut kata dr Vito, Amerikan Heart Association menyarankan untuk ditutupi mulut dan hidungnya dengan masker atau selembar kain untuk mengurangi potensi penularan.
"Kalau melihat rekam ulang pertandingan, Eriksen kolaps seperti itu dugaannya memang terjadi aritmia atau gangguan irama jantung . Kemungkinan ventrikel aritmia namanya yang menyebabkan jantung berdetak tidak beraturan sehingga pompa jantung tidak efektif memberikan asupan oksigen ke organ tubuh sehingga seseorang kolaps mendadak," tutupnya. (OL-6)
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Dengan dukungan sensor pemantau aliran darah dan denyut jantung, jam tangan pintar dapat merekam aktivitas jantung secara berkelanjutan selama digunakan oleh pemiliknya.
Serangan jantung umumnya disebabkan oleh masalah mekanik pada pembuluh darah, sementara kematian jantung mendadak lebih berkaitan dengan sistem kelistrikan organ tersebut.
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan penyakit jantung adalah keterlambatan diagnosis.
Kebocoran aliran darah pada jantung dapat memicu tekanan tinggi pada paru yang berujung pada kondisi fatal yang disebut Sindrom Eisenmenger.
Berbagai penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, kanker, hingga gagal ginjal kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved