Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR Statistika UGM, Prof Dedi Rosadi menyebut pengendalian virus Covid-19 secara global belum menampakkan hasil secara maksimal. Namun, penggunaan nonobat, efektivitas vaksin dan obat, serta ketegasan pemerintah dalam penerapan protokol kesehatan diyakinin mampu mencegah pandemi menjadi endemik.
Meski demikian, beberapa negara berhasil meminimalkan kasus baru. Namun sebagian negara lain terjadi lonjakan signifikan. Menurutnya, apabila Covid-19 tidak bisa dikendalikan, pandemi akan sulit berakhir dalam waktu dekat.
"Bahkan Covid-19 potensial menjadi endemik global atau endemik di wilayah tertentu," terang Dedi Rosadi menanggapi pandangannya soal prediksi berakhirnya pandemi dan ancaman adanya endemik global.
Dedi Rosadi menyampaikan dari data statistik pengendalian kasus baru di tingkat global, metode pengendalian nonobat terbukti efektif dalam
meminimalkan munculnya kasus baru Covid-19. Beberapa negara yang berhasil menekan kasus baru tersebut adalah Tiongkok, Australia dan Selandia Baru.
Namun begitu, pengendalian lewat vaksin dan obat secara global tetap saja terus digalakkan di tengah belum disiplinnya masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan, masih terbatasnya vaksin dan obat serta adanya mutasi virus. "Sampai saat ini memang secara global fokus masih di pengendalian non obat," kata Dedi Rosadi.
Pengendalian non obat, lanjut Rosadi, tingkat efektifitasnya beragam, ada yang berhasil menekan munculnya kasus baru dalam beberapa bulan terakhir. Tapi di beberapa negara tertentu juga ada yang terjadi gelombang kedua dan ketiga penularan Covid-19.
"Efektivitasnya beragam, ada yang sudah sampai multiwaves. Namun banyak juga yang masih single wave seperti di Indonesia, Maroko, Paraguay, Uruguay," tambahnya.
Meski pengendalian nonobat terbukti efektif untuk di beberapa negara, namun belum tentu efektifnya di negara lain. Berbagai faktor memengaruhi efiktivitas pengendalian Covid-19, seperti ketegasan pemerintah dan kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan. Jika itu diterapkan secara global, ia yakin bisa mencegah terjadinya endemi.
"Saya yakin ini akan sangat sulit sehingga endemik wilayah atau global sangat mungkin akan terjadi. Tapi kalau ini bisa dilakukan efektif secara global, kejadian endemik tidak akan terjadi," kata dia.
baca juga: Pandemi Covid-19
Selain pengendalian Covid-19 lewat nonobat, vaksin dan obat juga diperlukan untuk menekan laju penularan Covid-19. Efektivitas vaksin pun hingga sekarang tetap terus diuji dan teknik pengobatan efektif terhadap penyakit yang terus diupayakan.
Apabila salah satu atau keduanya bisa berjalan efektif dalam waktu dekat, masih sangat mungkin endemik bisa dihindarkan dan pandemi bisa berakhir dalam waktu dekat.
"Banyak faktor yang menjadi kendala utama dan tetap terus harus diwaspadai dari permintaan dan ketersediaan vaksin dan obat,
mutasi virus, faktor sosial masyarakat," pungkasnya. (N-1)
Melihat ancaman besar terhadap keberlanjutan layanan kesehatan dasar, dr. Harmeni mendirikan Symptomedic, platform telemedisin dan layanan pengantaran obat.
ANCAMAN kesehatan global kembali muncul dari Tiongkok. Setelah virus corona yang menyebabkan pandemi covid-19, kali ini virus baru influenza D (IDV) ditemukan.
Sengketa gaji Cristiano Ronaldo dengan Juventus terkait penundaan pembayaran saat pandemi covid-19 masih berlanjut. Putusan arbitrase dijadwalkan 12 Januari 2026.
Teknologi vaksin mRNA, yang pernah menyelamatkan dunia dari pandemi covid-19, kini menghadapi ancaman.
Menteri Kesahatan AS Robert F. Kennedy Jr. membuat gebrakan besar dengan mencabut kontrak dan membatalkan pendanaan proyek vaksin berbasis teknologi mRNA, termasuk untuk covid-19.
Studi Nature Communications ungkap pandemi Covid-19 mempercepat penuaan otak rata-rata 5,5 bulan, meski tanpa infeksi. Siapa yang paling terdampak?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved