Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meluncurkan Festival Peduli Sampah Nasional 2021. Acara yang berlangsung Senin (3/5) dan diselenggarakan secara virtual itu diharapkan bisa meningkatkan kesadaran dan memberi edukasi terkait pengelolaan sampah.
"Hari ini KLHK mempergunakan teknologi untuk memperkenalkan bagaimana pengelolaan sampah dengan cara pameran tapi secara virtual," kata Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati.
Dalam pameran itu akan ditampilkan tiga bagian dari pengelolaan sampah mulai dari hulu yaitu salah satunya membahas tentang pengurangan sampah oleh industri dengan mendesain ulang kemasan agar bisa didaur ulang serta mekanisme penarikan kembali sampah produk. Pameran virtual ini juga akan menyoroti usaha pengelolaan sampah oleh masyarakat seperti dalam bentuk bank sampah dan pemanfaatan sampah oleh publik dengan mengolahnya menjadi kompos.
Vivien menjelaskan dalam festival ini akan memberikan gambaran tentang proses hilir pengolahan sampah seperti memberikan contoh tempat pembuangan akhir (TPA) yang baik dan menggunakan teknologi untuk mengolah sampah menjadi energi.
Festival Peduli Sampah Nasional 2021 secara virtual dapat diakses melalui perangkat dengan masuk ke situs https://www.fpsn2021.com/. Festival Peduli Sampah Nasional 2021 akan berlangsung selama enam bulan. "Semoga bisa mengedukasi masyarakat dan perilaku, kemudian gaya hidup juga bisa berubah semenjak itu," sebut Vivien.
Dia menyebutkan bahwa memang persoalan sampah itu luar biasa bahkan dalam keseharian individu masyarakat memproduksi sampah. Karena itu, jika tidak melakukan pengelolaan dengan baik, semua sampah jika dibuang atau dibawa ke TPA akan menjadi masalah. Sebab 60% TPA di Indonesia itu sekitar 50% masih open dumping dan lain masih juga ada yang dibuang ke lingkungan secara ilegal.
"Sekarang kita butuh edukasi, mengedukasi masyarakat agar mereka bisa mengubah kebiasaan itu. Kali ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mempergunakan teknologi untuk memperkenalkan bagaimana pengelolaan sampah dengan cara pameran tapi secara virtual," ujarnya.
Menurutnya, seluruh masyarakat Indonesia bisa masuk pameran itu secara gratis dan kemudian bisa melihat bagaimana pengelolaan sampah di dalam pameran tersebut. Meskipun demikian, pihaknya masih membutuhkan masukan terhadap pelaksanaan pameran tersebut. Apalagi acara ini berlangsung 6 bulan sehingga semua masyarakat bisa belajar dan komunikasi dengan KLHK terkait evaluasi pada kegiatan tersebut.
"Kami terbuka untuk itu, kurangnya dimana mau belajar apa? Silakan masyarakat Indonesia menggunakan media festival virtual ini dengan baik dan semoga bisa mengedukasi masyarakat dan perilaku dan gaya hidup juga bisa berubah semenjak itu," lanjutnya. (OL-15)
Menurut Menteri Lingkungan Hidup, Dr. Hanif Faisol Nuroqif, di tengah ancaman kepunahan berbagai satwa endemik, penyelamatan keanekaragaman hayati adalah prioritas
Volume besar itu tentunya memperparah tekanan terhadap lahan seluas 142 hektar yang sudah menampung sampah Ibu Kota selama lebih dari tiga dekade.
Dunia saat ini tengah menghadapi tiga ancaman serius yang disebut “Triple Planetary Crisis” oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pemerintah tekankan komitmen industri jalankan EPR demi kelola sampah plastik. Target 100% pengelolaan tercapai pada 2029 lewat kolaborasi multi-pihak.
KLHK melalui Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) menyegel empat perusahaan yang diduga terlibat dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
‘’Kolaborasi, termasuk dengan kerja sama dengan pihak swasta menjadi kunci untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif, bernilai ekonomis dan ramah lingkungan,”
Persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama seluruh unsur.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengumumkan rencana pembangunan PLTSa di Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat.
Masaaki Okamoto menyebut pertumbuhan ekonomi, digitalisasi, serta urbanisasi yang pesat menjadi faktor utama meningkatnya produksi dan maraknya konsumsi plastik di dunia.
Salah satu lokasi tepat sasaran untuk kegiatan korve atau kerja bakti menjaga kebersihan lingkungan yang dipilih yakni ruang terbuka hijau di sekitar areal eks MTQ.
sudah ada inovasi dalam mengatasi masalah sampah dalam skala rumah tangga hingga satu desa.
Menurutnya, saling bantu antara daerah ini perlu dilakukan guna memudahkan menyelesaikan sebuah permasalahan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved