Senin 03 Mei 2021, 16:53 WIB

Wapres: Masih Banyak Masyarakat yang Rawan Pangan

Emir Chairullah | Humaniora
Wapres: Masih Banyak Masyarakat yang Rawan Pangan

Antara
Wakil Presiden Ma'ruf Amin saat meninjau simulasi vaksinasi covid-19.

 

WAKIL Presiden Ma’ruf Amin menyebut jumlah keluarga yang masuk dalam kategori rawan pangan masih tinggi. Berdasarkan survei Pusat Penelitian Ekonomi LIPI (P2E LIPI) pada akhir 2020 tentang dampak pandemi covid-19, hanya 64% keluarga yang masuk kategori tahan pangan.

Adapun sisanya merupakan kategori rawan pangan. “Terhadap kelompok rentan ini, yang bekerja di sektor informal dan berpendapatan tidak tetap, serta kelompok rumah tangga miskin, pemerintah telah melakukan program jaring pengaman sosial selama pandemi,” ujar Ma'ruf, Senin (3/5).

Masih rentannya ketahanan pangan nasional juga tecermin dalam Indeks Ketahanan Pangan Global 2020. Indonesia berada pada posisi ke-65 dari 113 negara. Posisi ini turun dibandingkan 2019 yang menempatkan Indonesia pada posisi 62. 

Baca juga: Pertanian Keluarga Dukung Peningkatan Ketahanan Pangan

Adapun posisi Indonesia berada di bawah negara tetangga, yaitu Singapura di posisi 20, Malaysia di posisi 43, Thailand di posisi 51 dan Vietnam di posisi 63. “Turunnya posisi Indonesia dalam indeks tersebut mengindikasikan belum terpenuhinya beberapa pilar dalam ketahanan pangan. Menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua, untuk berupaya lebih keras lagi dalam mencapai ketahanan pangan,” imbuh Ma'ruf.

Menurutnya, ketahanan pangan sangat penting bagi kehidupan suatu bangsa. Apabila suatu negara tidak dapat menyediakan pangan yang cukup, dapat mengakibatkan ketidakstabilan ekonomi dan menimbulkan gejolak sosial. 

“Kondisi pangan yang kritis bahkan dapat membahayakan stabilitas ekonomi dan stabilitas nasional,” pungkasnya.

Baca juga: Bantuan Dana Desa Tahan Laju Kemiskinan

Selain itu, luas lahan pertanian sebagai media produksi pangan semakin berkurang. Padahal, jumlah penduduk semakin meningkat. Aalih fungsi lahan menjadi ancaman yang serius bagi ekosistem pertanian di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian ATR/BPN, luas lahan baku sawah turun dari 7,75 juta hektar pada 2013, menjadi 7,46 juta hektar pada 2019. 

Kemudian, luas panen menurut perhitungan BPS dengan menggunakan metode kerangka sampel area (KSA), juga turun dari 11,38 juta hektar pada 2018 menjadi 10,68 juta hektar di 2019. Lalu, turun lagi menjadi 10,66 juta hektar pada 2020.

“Mengamati perkembangan ini, rata-rata sawah hanya ditanami sebanyak 1,4 kali,” tandasnya.(OL-11)

 

Baca Juga

DOK KEMENSOS

Penyerahan Bansos Butuh Proses dan Waktu serta Padan dengan NIK

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 06 Mei 2021, 10:12 WIB
Setiap warga KAT SAD di Provinsi Jambi secara bertahap telah, sedang dan terus melakukan perekaman data agar bisa mendapatkan...
ANTARA/ Dedhez Anggara

Pelarangan Mudik Diputuskan Berdasar Data

👤Atalya Puspa 🕔Kamis 06 Mei 2021, 09:50 WIB
Seseorang yang telah membawa dokumen hasil negatif covid-19 sekalipun masih dapat tertular oleh orang lain ketika melakukan...
ANTARA FOTO/Didik Suhartono

Menteri LHK dan Menteri KKP Kolaborasi Untuk Blue Carbon Bermutu

👤Atalya Puspa 🕔Kamis 06 Mei 2021, 09:36 WIB
Ekosistem Blue Carbon yang didalamnya berupa ekosistem pesisir terutama mangrove, padang lamun dan kawasan rawa payau merupakan ekosistem...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Citarum Mulai Harum

  Sudah tiga tahun Sungai Citarum dikeroyok. Sampah mulai berkurang, air terlihat lebih bersih.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya