Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Keberadaan air menjadi hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia, tetapi kondisi krisis air bersih baik secara nasional maupun global nyatanya sudah terjadi cukup lama, bahkan pandemi covid-19 menambah beban kebutuhan air baku untuk minum dan air bersih di Indonesia.
Founder Indonesia Water Institute (IWI) yang juga staf khusus menteri Pekerjaan Umum dan Pekerjaan Umum Bidang Sumber Daya air, Firdaus Ali mengatakan sebelum ada pandemi covid-19 kurang lebih 7,8 miliar memperebutkan sumber daya yang semakin terbatas, yang mana saat bersamaan menghasilkan beban pencemaran.
Kini pada survei 2020, Indonesia yang mempunyai 270,2 juta jiwa baru memiliki punya kapasitas 188.096 liter per detik melalui 15.379 sambungan. "Sekitar 20,18% cakupan air perpipaan nasional dan 69,09% cakupan air non perpipaan nasioanl," kata Firdaus.
Baca juga: Rayakan Hari Bumi, Foreo Ingatkan Masyarakat akan Bahaya Sampah
Hal ini menurutnya dipengaruhi oleh beberap kendala seperti air baku, hambatan fiskal, tingkat NRW, SDM dan manageman serta tarif air. Firdaus mengatakan pada tahun 2024 target pelayanan air minum nasional yakni pada perpipaan 30% non perpipaan 70%.
Pandemi Covid-19 memperparah kondisi ini lantaraan adanya peningkatan konsumsi air juga adanya perubahan pola pemakaian air di masa pandemi yang mana setiap temat kini memiliki pencucian tangan.
Data dari Indonesia Water Institue total konsumsi air pada 2020 meningkat drastis yakni menjado 995 - 1415 liter/hari/ rumah tangga sedangkan pada 2013 atau saat kondisi normal konsumsi air hanya 415-615 liter/hari/rumah tangga.
Baca juga: KKP Panggil Pertamina Bahas Kasus Tumpahan Minyak di Karawang
"Dengan adanya peningkatan aktivitas hygiene dan sanitrasi, kebutuhan air bersih meningkat hingga 3 kali dari kondisi sebelum pandemi. Pengeluaran untuk bkebutuhan air juga meningkat dingga 5 kali dari kondisi normal," ungkapnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, sebenarnya potensi sumnber daya air di Indoneia mencapai 2,78 triliun meter kubik per tahun, namun dari juumlah itu hanya 691,31 miliar meter kubik per tahun air yang bisa diimanfaatkan hal itu karena beberapa alasan seperti misalnya air hujan yang tidak tertampung dan sebagainya.
Dari 692,31 meter kubik itu, Indonesia bari bisa memanfaatkan 222,59 miliar meter kubik per tahunnya untuk berbagai kebutuhan seperti untuk DMI (Domestics, Municipal, Industrial), untuk peternakan dan perikanan dan juga irigasi.
Untuk menanggulangi ini, pihaknya pumelakukan inovasi pengemabagan sisytem penyediaan air bersih yakni melalui kampanye hemat air dan daur ulang air dan green IPA.
Dalam kampanyenya, ia mengatakan agar meriubah perilaku boros menjadi hemat aoir dengan pemanfaatan air kembali mislanua air bekas wudhu untuk flushing dan menyiram tanaman dan sebagainya, Ada pula pemeliharaan alat-alat sanitary dan konservasi sumber daya air seperti penerapkan penampungan air hujan atau sumur resapan di rumah.
Sedangkan pada Green IPA meliputi pembanguann bangunan dan tata letak instalasi pengolahan air dengan konsep hijau. Seperti halnya IPA Penet, kapasitas 300 liter/detik untuk mendukung SPAM Regional Serbaguna di Bali. (H3)
Kecamatan Pauh dan Kuranji mengalami krisis air bersih akibat sumur mengering serta kerusakan bendungan dan irigasi pascabencana November 2025.
Berdasarkan penelusuran Media Indonesia, Sabtu (17/1) di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh misalnya, ratusan ribu penyintas banjir masih krisis kebutuhan dasar.
Program ini ditujukan untuk membantu masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih di Sumut, Sumbar, Riau, Lampung, Jateng, Jatim, Kalsel dan Sulsel.
Ratusan pengungsi banjir di Aceh Tamiang mendesak bantuan air bersih dan MCK. PDAM rusak fatal, kondisi tenda pengungsian memprihatinkan.
Menurut anggota tim pengabdian Dr Imam Muslem, kegiatan tersebut dilakukan secara adaptif mengikuti dinamika pasca bencana.
BANJIR bandang dan tanah longsor yang puncaknya terjadi pada 26-27 November lalu sedikitnya telah meluluhlantakkan 52 kabupaten/kota di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved