Senin 22 Maret 2021, 15:30 WIB

Perubahan Iklim Timbulkan Ancaman Krisis Air di Pulau Jawa

Atalya Puspa | Humaniora
Perubahan Iklim Timbulkan  Ancaman Krisis Air di Pulau Jawa

ANTARA/Maulana Surya
Anggota Srikandi Pasoepati membersihkan air mancur di kawasan Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Senin (22/3/2021).

 

Perubahan iklim menjadi salah satu penyebab perubahan neraca air yang semakin defisit dan menimbulkan ancaman krisis air. Hal tersebut diungkapkan oleh Peneliti usat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Heru Santoso.

"Masalah air di Indonesia secara umum masih sama, yaitu perubahan neraca air yang cenderung semakin defisit akibat perubahan iklim dan penggunaan air baku yang makin tinggi. Sisi demand atau kebutuhan makin tinggi, pemanasan global memberi dampak pada musim kering terjadi defisit kekurangan air yang semakin meningkat, dikarenakan evaporasi yang meningkat," kata Heru saat dihubungi, Senin (22/3).

Baca juga: Hari Ketujuh Dibuka, 157 Ribu Peserta Sudah Daftar Tes UTBK-SBMPTN

Adapun, Heru mengungkapkan, dampak dari defisit neraca air akan sangat dirasakan oleh daerah yang memiliki penduduk tinggi. Pasalnya, daerah dengan penduduk tinggi akan membutuhkan banyak air bagi rumah tangga, industri, dan pertanian.

"Misalnya di Pulau Jawa. Perubahan iklim sedikit mengubah distribusi curah hujan tahunan yg berbeda antara wilayah Jawa Barat dan jawa timur. Volume curah hujan tahunan di masa depan diproyeksikan mengalami penurunan di wilayah Jawa Barat dan sedikit meningkat di Jawa Timur. Namun keseluruhan wilayah di Jawa mengalami defisit air yang meningkat sampai tahun 2070," beber Heru.

Pada tahun 2005, Heru melakukan penelitian Dampak Perubahan Iklim terhadap Neraca Air Pulau Jawa. Dengan perangkat lunak MAGICC/SCENGEN, dirinya menyusun skenario potensi air di Jawa sampai tahun 2070.

“Rentang waktu ini untuk memperlihatkan perbedaan yang signifikan karena jika jarak waktunya terlalu pendek tidak terlalu kelihatan dampaknya.”

Perangkat lunak MAGICC membantu peneliti seperti Heru untuk menentukan perubahan konsentrasi gas rumah kaca, suhu udara permukaan rata-rata global, dan permukaan laut yang dihasilkan dari emisi antropogenik. Sementara SCENGEN menyusun serangkaian proyeksi perubahan iklim yang eksplisit secara geografis untuk dunia menggunakan hasil dari MAGICC.

“Tahun 2018 saya melakukan penghitungan lagi dengan model terbaru MAGICC/SCENGEN, prediksinya masih sama,” ujar Heru.

Heru menjelaskan, selain perubahan iklim, alih fungsi lahan dari area resapan menjadi pemukiman dan daerah industri mengancam sumber air di Jawa.

"Jawa masih menjadi daerah industri andalan. Tahun 2040 diprediksi semua wilayah di Pantai Utara Jawa mulai dari Banten sampai Surabaya akan menjadi wilayah urban yang berpotensi mengalami defisit ketersediaan air,” tutur Heru.

Baca juga: Mendikbud: Pelestarian Aksara Jawa Mutlak Dilakukan

Selain penelitian tersebut, dalam Rancangan Teknokratik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 yang dikeluarkan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, kelangkaan air di Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara diperkirakan meningkat hingga 2030. Proporsi luas wilayah krisis air meningkat dari 6,0% di tahun 2000 menjadi 9,6% di tahun 2045. Kualitas air diperkirakan juga menurun signifikan.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya membudayakan penghemataan air. “Ada daerah yang kekeringan, sementara ada juga daerah yang sampai kelebihan air. Neraca air ini harus diseimbangkan,” ujarnya.

Selain itu, ia juga memandang perlunya pemanfaatan air marginal seperti air payau. “Air marginal sebetulnya bisa dimanfaatkan kalau ada teknologi yang murah. Saat ini belum ada teknologi di Indonesia yang mampu memenuhi untuk kebutuhan dalam jumlah besar. Sementara di negara-negara Timur Tengah air laut sudah bisa disuling untuk air bersih,” uajrnya.

Ia mengungkapkan prinsip reuse dan recycle ini bisa jadi salah satu opsi untuk mengantisipasi potensi krisis air di Jawa. “Manfaatkan air-air marginal. Salah satunya dengan penyulingan air. Mungkin teknologinya masih mahal kalau sekarang, namun ke depan ini bisa bermanfaat,” tutupnya. (H-3)

Baca Juga

Dok.mi

KAI Perketat Penerapan Prokes, Kedapatan Bergejala Covid Diturunkan

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Sabtu 19 Juni 2021, 14:00 WIB
PT KAI semakin memperketat pengawasan terhadap penerapan protokol kesehatan baik di stasiun maupun selama dalam...
ANTARA/Aprillio Akbar

WHO Kembali Ingatkan Bahaya Polusi Udara

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 19 Juni 2021, 13:50 WIB
Negara-negara di dunia sudah mengakui bahwa polusi udara turut mempengaruhi buruknya status kesehatan suatu...
Humas UI

Universitas Indonesia Kukuhkan 4 Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya

👤Faustinus Nua 🕔Sabtu 19 Juni 2021, 13:45 WIB
REKTOR Universitas Indonesia (UI) Prof Ari Kuncoro mengukuhkan empat guru besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB), hari...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Pungli Tetap Marak Pak Satgas!

Pungli di berbagai layanan publik terus menjadi masalah yang dialami masyarakat, bahkan di tengah kesulitan ekonomi akibat pandemi.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya