Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA tengah mempersiapkan diri menuju negara maju dengan memanfaatkan potensi bonus demografi. Dari hasil Sensus Penduduk 2020, diperoleh rasio ketergantungan sebesar 41,4% atau dengan kata lain setiap 100 penduduk usia produktif hanya akan menanggung 41 penduduk usia non-produktif.
Meski potesinya sangat besar, bonus demografi tidak serta-merta dapat dimanfaatkan tanpa adanya ancaman. Selain SDM dan penyediaan lapangan kerja, faktor kesehatan juga menjadi tantangan bangsa Indonesia ke depan.
Kepala Pusat Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo mengatakan kesehatan menjadi faktor penting pendukung bonus demografi. Secara khusus untuk penyakit kanker, jumlah penyintas di Tanah Air terus meningkat. Bahkan angka tertinggi tercatat pada kelompok usia produktif 20-65 tahun.
"Dari sisi umur dibandingkan 2013 menuju 2018 maka ada perubahan. Kalau di 2013 antara umur 20-65 itu kira-kira 9,7/1000, tetapi di tahun 2018 naik menajdi 12,3/1000. Ini menjadi perhatian kita semua, ternyata di usia yang produktif 20-65 itu gangguan karena penyakit kanker itu serius meningkat," ungkapnya dalam webinar Lindungi Diri dan Keluarga dari Kanker Serviks, Rabu (24/2).
Angka penyintas kanker di usia non-produktif atau di atas 65 tahun justru sebaliknya menunjukan penurunan. Data Litbankes mencatat pada 2013 terdapat 9,9/1000, sedangkan di 2018 turun menjadi 7,3/1000.
Hasto mengungkapkan bahwa hal itu mengkhawatirkan, terlebih lagi jumlah total penyintas kanker di Indosia sangat tinggi dibandingkan negara-negara lain.
Untuk kanker memang kaum wanita merupakan penyintas kanker tertinggi dibandingkan laki-laki. Dan bahkan lebih buruk lagi, kanker yang bisa dicegah seperti kanker serviks justru berada di posisi kedua tertinggi dari semua jenis kanker yang diderita kaum hawa.
"Di negara-negara lain kanker mulut rahim atau serviks tidak popiler. Dalam arti tidak memduduki ranking karena sedikit kasusnya. Sebab kanker mulut rahim itu kanker yang preventable, bisa di cegah. Nah anehnya di negara kita ini yang bisa dicegah itu, malah belum bisa dicegah," imbuhnya.
"Bagi kami di kependudukan ini bagian dari ancaman karena di saat Indonesia ingin memetik bonus demografi di manan banyak usia produktif, tapi faktor kesehatan seperti kanker justru meningkat di usia produktif," tambah dia.
Dokter spesialis Kebidanan dan Kandungan, Achmad Mediana, Sp.OG menjelaskan bahwa 80% perempuan akan terinveksi oleh HPV dan 50% dari mereka akan terinfeksi dapat menyebabkan kanker pada masa hidupnya.
"Jadi setiap wanita berisiko terkena HPV penyebab kanker serviks dalam hidupnya tanpa memandang usia, gaya hidup, lokasi tempat dan segala macamnya," tuturnya.
Baca juga : 200 Ribu Tenaga Kesehatan belum Divaksin
Kanker serviks terjadi di mana sel normal bisa berubah menjadi sel kanker yang disebabkan oleh virus HPV. Organ reproduksi mulai dari vagina, leher rahim dan sebagainya secara berkala berubah-rubah karena adanya siklus namanya siklus haid.
"Nah dalam rangka perubahan-perubahan itu jangan sampai terjadi perubahan yang menyimpang. Masalah sekarang organ vagina dan sebagainya itu akan terpapar oleh lingkung, toilet, pakaian dalam dan laon-lain. Itu lah yang bisa memaparkan virus HPV pada kita," kata dia.
Faktor pendukung kanker serviks lainnya adalah menikah muda, kehamilan yang sering, merokok, penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang dan infeksi menular seksual. Sebagian besar penderita kanker serviks pub berlangsung tanpa gejala. Apabila mungkin mengalami progresifitas gejala-gejala mungkin timbul dan hal itu dinilai sudah terlambat untuk ditangani.
"Di Indonesia diperkirakan 20 perempuan meninggal setiap harinya karena kanker serviks. Kanker serviks pembunuh perempuan nomor 1 di Indonesia, ini jauh lebih besar daru covid yang ada sekarang ini," kata Achmad.
Lebih lanjut, dia membeberkan bahwa kanker serviks merupakan kanker yang bisa dicegah. Jenis kanker ini merupakan satu-satunya kanker yang memiliki vaksin karena penyebabnya jelas HPV.
Namun, yang menjadi permasalahan adalah program vaksinasi kanker serviks di Indonesia masih sangat kecil. Begitu pula dengan skrining untuk mendeteksi kanker sejak dini masih belum masif dilakukan. Padahal di beberapa negara, kunci sukses menekan jumlah penyintas kanker tersebut adalah vaksinasi dan skrining.
Pencegahan primer dilakukan melalui vaksinasi untuk mencegah infeksi HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks. Pencegahan sekunder melalui papsmear atau IVA yang merupakan cara deteksi dini terhadap infeksi HPV.
"Vaksinasi dengan skiring bersama-sama dapat mengunrangi kejadian kanker serviks secara efektif," pungkasnya. (OL-2)
Kenali Biograph Vision Quadra, teknologi PET/CT scan revolusioner untuk deteksi kanker akurat, radiasi rendah, dan proses cepat hanya 4 menit.
Gaya hidup berpengaruh terhadap risiko kanker payudara karena penyakit ini berkaitan erat dengan faktor hormonal.
Peneliti Universitas Jenewa mengungkap bagaimana tumor memprogram ulang neutrofil, sel pertahanan utama tubuh, menjadi pemicu pertumbuhan kanker melalui molekul CCL3.
Saat ini, sekitar 30% kasus kanker usus besar di tanah air diderita oleh pasien di bawah usia 40 tahun, sebuah angka yang jauh melampaui statistik di negara-negara maju.
Berbeda dengan herediter, kanker familia terjadi bukan karena mutasi gen, melainkan karena anggota keluarga hidup dalam satu ekosistem yang sama.
Jika langkah-langkah pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat sejak dini, jumlah kasus kanker diprediksi akan meningkat hingga 70% pada 2050.
Moody’s menahan rating Indonesia di Baa2. Pemerintah klaim ekonomi dan fiskal tetap kuat, defisit terjaga, Danantara dan MBG jadi tumpuan investasi.
Universitas Satya Negara Indonesia secara resmi mengukuhkan Prof. Dr. Yusriani Sapta Dewi, M.Si. sebagai Guru Besar Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik USNI.
PEMERINTAH menegaskan pentingnya peran pemerintah daerah dalam memanfaatkan bonus demografi agar menjadi kekuatan pembangunan, bukan justru berubah menjadi persoalan sosial dan ekonomi
Potensi bonus demografi 2045 terancam gagal total jika usia produktifnya lumpuh akibat utang dan mentalitas instan.
Generasi muda perlu ruang untuk kembali merumuskan harapan dan arah masa depan.
Jika bonus demografi ini bisa dikapitalisasi dengan benar, negara akan bisa melakukan saving dan reinvestasi setiap tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved