Rabu 24 Februari 2021, 15:29 WIB

Penyintas Kanker jadi Tantangan Bonus Demografi

Faustinus Nua | Humaniora
Penyintas Kanker jadi Tantangan Bonus Demografi

Antara
Ilustrasi

 

INDONESIA tengah mempersiapkan diri menuju negara maju dengan memanfaatkan potensi bonus demografi. Dari hasil Sensus Penduduk 2020, diperoleh rasio ketergantungan sebesar 41,4% atau dengan kata lain setiap 100 penduduk usia produktif hanya akan menanggung 41 penduduk usia non-produktif.

Meski potesinya sangat besar, bonus demografi tidak serta-merta dapat dimanfaatkan tanpa adanya ancaman. Selain SDM dan penyediaan lapangan kerja, faktor kesehatan juga menjadi tantangan bangsa Indonesia ke depan.

Kepala Pusat Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo mengatakan kesehatan menjadi faktor penting pendukung bonus demografi. Secara khusus untuk penyakit kanker, jumlah penyintas di Tanah Air terus meningkat. Bahkan angka tertinggi tercatat pada kelompok usia produktif 20-65 tahun.

"Dari sisi umur dibandingkan 2013 menuju 2018 maka ada perubahan. Kalau di 2013 antara umur 20-65 itu kira-kira 9,7/1000, tetapi di tahun 2018 naik menajdi 12,3/1000. Ini menjadi perhatian kita semua, ternyata di usia yang produktif 20-65 itu gangguan karena penyakit kanker itu serius meningkat," ungkapnya dalam webinar Lindungi Diri dan Keluarga dari Kanker Serviks, Rabu (24/2).

Angka penyintas kanker di usia non-produktif atau di atas 65 tahun justru sebaliknya menunjukan penurunan. Data Litbankes mencatat pada 2013 terdapat 9,9/1000, sedangkan di 2018 turun menjadi 7,3/1000.

Hasto mengungkapkan bahwa hal itu mengkhawatirkan, terlebih lagi jumlah total penyintas kanker di Indosia sangat tinggi dibandingkan negara-negara lain.

Untuk kanker memang kaum wanita merupakan penyintas kanker tertinggi dibandingkan laki-laki. Dan bahkan lebih buruk lagi, kanker yang bisa dicegah seperti kanker serviks justru berada di posisi kedua tertinggi dari semua jenis kanker yang diderita kaum hawa.

"Di negara-negara lain kanker mulut rahim atau serviks tidak popiler. Dalam arti tidak memduduki ranking karena sedikit kasusnya. Sebab kanker mulut rahim itu kanker yang preventable, bisa di cegah. Nah anehnya di negara kita ini yang bisa dicegah itu, malah belum bisa dicegah," imbuhnya.

"Bagi kami di kependudukan ini bagian dari ancaman karena di saat Indonesia ingin memetik bonus demografi di manan banyak usia produktif, tapi faktor kesehatan seperti kanker justru meningkat di usia produktif," tambah dia.

Dokter spesialis Kebidanan dan Kandungan, Achmad Mediana, Sp.OG menjelaskan bahwa 80% perempuan akan terinveksi oleh HPV dan 50% dari mereka akan terinfeksi dapat menyebabkan kanker pada masa hidupnya.

"Jadi setiap wanita berisiko terkena HPV penyebab kanker serviks dalam hidupnya tanpa memandang usia, gaya hidup, lokasi tempat dan segala macamnya," tuturnya.

Baca juga : 200 Ribu Tenaga Kesehatan belum Divaksin

Kanker serviks terjadi di mana sel normal bisa berubah menjadi sel kanker yang disebabkan oleh virus HPV. Organ reproduksi mulai dari vagina, leher rahim dan sebagainya secara berkala berubah-rubah karena adanya siklus namanya siklus haid.

"Nah dalam rangka perubahan-perubahan itu jangan sampai terjadi perubahan yang menyimpang. Masalah sekarang organ vagina dan sebagainya itu akan terpapar oleh lingkung, toilet, pakaian dalam dan laon-lain. Itu lah yang bisa memaparkan virus HPV pada kita," kata dia.

Faktor pendukung kanker serviks lainnya adalah menikah muda, kehamilan yang sering, merokok, penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang dan infeksi menular seksual. Sebagian besar penderita kanker serviks pub berlangsung tanpa gejala. Apabila mungkin mengalami progresifitas gejala-gejala mungkin timbul dan hal itu dinilai sudah terlambat untuk ditangani.

"Di Indonesia diperkirakan 20 perempuan meninggal setiap harinya karena kanker serviks. Kanker serviks pembunuh perempuan nomor 1 di Indonesia, ini jauh lebih besar daru covid yang ada sekarang ini," kata Achmad.

Lebih lanjut, dia membeberkan bahwa kanker serviks merupakan kanker yang bisa dicegah. Jenis kanker ini merupakan satu-satunya kanker yang memiliki vaksin karena penyebabnya jelas HPV.

Namun, yang menjadi permasalahan adalah program vaksinasi kanker serviks di Indonesia masih sangat kecil. Begitu pula dengan skrining untuk mendeteksi kanker sejak dini masih belum masif dilakukan. Padahal di beberapa negara, kunci sukses menekan jumlah penyintas kanker tersebut adalah vaksinasi dan skrining.

Pencegahan primer dilakukan melalui vaksinasi untuk mencegah infeksi HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks. Pencegahan sekunder melalui papsmear atau IVA yang merupakan cara deteksi dini terhadap infeksi HPV.

"Vaksinasi dengan skiring bersama-sama dapat mengunrangi kejadian kanker serviks secara efektif," pungkasnya. (OL-2)

 

Baca Juga

Dok. Kemendikbud

Majalah DIKTI Raih Silver Winner di InMA 2021

👤Syarief Oebaidillah 🕔Kamis 25 Februari 2021, 00:18 WIB
penghargaan itu menjadi pemicu agar ke depan Ditjen Dikti terus memberikan informasi lebih banyak lagi dan juga dibutuhkan oleh...
Dok. UBL

Terapkan Prokes, UBL Gelar Wisuda Tatap Muka Selama 5 Hari

👤Syarief Oebaidillah 🕔Kamis 25 Februari 2021, 00:16 WIB
Wisuda offline dibagi menjadi tiga sesi, setiap sesinya diberlakukan untuk penyemprotan disinfektan pada area gedung sebagai bentuk...
Dok. Pribadi

Aklamasi, Abdul Ghoni pimpin Forkabi 2021-2026

👤Akmal Fauzi 🕔Kamis 25 Februari 2021, 00:14 WIB
Abdul Ghoni dipastikan memimpin ogranisasi setelah secara bulat terpilih dalam Musyawarah Besar (Mubes) DPP Forkabi pada 20-21 Februari...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya